“kau membuat kekacauan! Padahal kita baru saja keluar."
Aku menutup wajahku saat melihat Sonya membuat kekacauan di dalam kedai. Dia menghancurkan beberapa peralatan yang membuat pemilik meminta pertanggungjawaban, sebenarnya, ini bukan salah Sonya sepenuhnya, dan aku juga sempat mengambil beberapa uang dari para pemburu itu, hanya saja dia benar-benar membuat sesuatu yang mencolok hingga aku bingung harus bagaimana menghadapinya.
Bahkan saat beberapa orang dewasa mengucapkan terimakasih kasih pada Sonya atas segala tindakannya, aku malah memilih untuk menjaga jarak darinya, itu lebih baik dari pada aku harus menjadi perhatian umum.
"Apa yang salah, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
"Huft.... Aku tahu, tapi apa kamu tidak bisa menahan diri barang sebentar saja, kamu membuat ku menjadi perhatian!"
"Maaf untuk itu, tapi aku benar-benar tidak tahan untuk tidak melakukan semua itu. Pria busuk itu. Aku benar-benar akan membunuhnya jika aku bertemu nanti!"
"Tenangkan dirimu. Aku tidak pernah mengizinkan mu untuk membunuh manusia lemah sepertinya!"
Sonya yang tak terima mendengar ucapan ku hanya bisa mendengkus dan melirik ke arahku.
"Sudahlah, ayo pergi. Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini."
"Tapi perbekalan kita?"
"Kita akan membelinya di perjalanan nanti. Setidaknya kita pergi dulu dari tempat ini."
Sonya tak menjawab dia hanya mengangguk dan mengikuti langkah ku. Ini hukuman yang pantas untuknya.
Kami menyusuri kota, melihat serangkaian rumah-rumah sebelum akhirnya kami masuk ke dalam hutan. Aku masih belum yakin dengan tujuanku, tapi saat aku mendengar beberapa rumor, aku harus pergi ke hutan larangan untuk bisa mendapatkan darah naga dan bertemu dengan naga Fang. Hutan larangan, berarti aku harus melewati bukit kematian dan juga lembah darah. Dia tempat yang memiliki tingkat bahaya sangat tinggi, itulah mengapa aku mengajak Sonya untuk ikut bersama ku.
Karena dengan sihir yang dia miliki, aku bisa melewati bukit kematian yang memiliki kabur sangat tebal, lalu untuk lembah darah, itu hanya tempat dengan sekumpulan para monster yang ganas dan berevolusi dengan cepat.
Sebenarnya tidak ada masalah untukku, jadi itu bisa ku tangani dengan mudah.
"Apa kau benar-benar yakin akan masuk? Kau tahu. Naga Fang bukanlah hewan yang bisa kau kalahkan dengan mudah, bahkan ada sekelompok pemburu tingkat atas tidak pernah kembali setelah penjelajahan untuk menaklukkan naga Fang.
Itu benar, aku pernah mendengar rumor itu. Hanya saja itu bukan masalah. Sudah aku katakan bukan, aku hampir tahu seluk beluk dari dunia ini, jadi aku bisa mengatasinya dengan pengetahuan yang aku miliki.
"Tenang saja, aku tahu cara untuk menaklukkan naga Fang."
"Lalu setelah itu?"
"Tidak ada, aku hanya akan mengambil darahnya dan mencari fosil naga purba. Itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa untuk."
"Aku yakin, kau pasti akan menjadikan mereka boneka mu bukan?"
"Tepat seperti yang kau pikirkan."
Tidak ada yang lebih hebat selain boneka naga hitam. Membayangkannya saja sudah membuatku tak sabar, aku ingin segera mendapatkannya untuk diriku sendiri.
"Sudah ku duga, aku semakin heran. Sepertinya kau memang seorang maniak kekuatan. Hampir semua celah kau mengetahuinya, bahkan kekuatan uang tidak pernah orang tahu sebelumnya, entah seberapa luas pengetahuan mu itu. Kau benar-benar anak yang aneh."
"Terima kasih untuk pujiannya." Jujur saja aku kasihan, tapi aku juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tentu saja aku tidak mungkin mengatakan jika aku adalah seorang raja dari masa depan bukan.
Terlepas dari semua itu. Aku juga memiliki tugas yang harus ku emban, aku tidak mau mereka tahu dengan semua tujuanku, ini tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan.
Fluxy, aku akan mencegah kekacauan itu terjadi, musuh alami yang harus aku hadapi. Dia adalah monster yang sesungguhnya. Dan kali ini aku akan mencegah dia untuk berbuat semena-mena. Walau aku tidak menginginkan tahta, tapi aku akan mencegah dia mendapatkan tahta yang membuat dunia ini hancur.
===
Frey
"Hey ayolah, aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini, aku memiliki tugas yang harus aku selesaikan!" Aku berdecih pelan. Apalagi ini. Setelah semua yang aku lalui. Lalu sekarang apa?
Ada seorang yang terang-terangan menantang ku. Dia bahkan berani menghadang perjalanan ku dengan sikap sombongnya.
"Huh? Tugas? Bukankah kamu seorang pengelana yang selalu menyendiri? Lalu tugas apa yang kau ambil?"
"Tidak, itu bukan urusanmu."
"Hoo jadi begitu.... Sangat di sayangkan, padahal aku ingin sedikit bermain dengan nu" Dia menyeringai, seseorang yang menghadang ku terlihat menikmati momen di mana aku marah dan gelisah.
Sialan, jika aku terlalu lama di tempat ini. Maka aku akan tertinggal.
Dia tersenyum lalu menarik keluar sebuah pedang dari sarungnya, pedang yang terlihat sangat kusut tapi memiliki aura yang cukup kuat. Lalu setelahnya dia melakukan serangan. Serangan yang bisa aku hindari dengan mudah. Walau pergerakan cukup gesit, tapi itu bukanlah masalah untukku.
Aku menangkis setiap serangannya. Lalu memperhatikan pedang yang ada di tangannya untuk sesaat.
Itu adalah pedang yang terlihat sangat biasa, melihat bagaimana gagangnya yang terlihat cukup usang. namun di balik penampilannya, pedang itu memiliki aura tersendiri di sana.
Penampilan boleh saja pedang terlihat sangat tua, tetapi dia telah dirawat dengan baik, dan meskipun ada beberapa goresan di sana-sini, bagian tengahnya kokoh dan bilahnya tajam. Itu adalah pedan yang cukup menakutkan.
"Kau menyukainya?" Dia tersenyum, lalu melompat mundur dan berdiri beberapa langkah di belakang sembari menyeringai aneh sebelum akhirnya dia melakukan gerakan tiba-tiba untuk menyerang ke arahku, serangan yang dadakan tapi bisa aku halau. Aku segera mengaktifkan perisai es. Lalu dengan cepat aku membekukan kakinya hingga membuat pergerakannya terhenti.
Aku tersenyum, lalu dengan semua sihir yang aku pelajari selama ini, aku mengaktifkan sihir pembentukan.
Sword ice. Sebuah pedang yang terbentuk dari es keras yang di lapisi dengan sihir element, membuat pedang yang ku ciptakan sama kuatnya dengan pedang roh sekalipun.
"Kau terlalu menyepelekan kekuatan ku?"
"Sial! Apa... Apa yang sudah kau lakukan padaku!"
"Tidak ada. Aku hanya akan membuat mu tak sadarkan diri sebentar saja!"
Aku berjalan mendekat, dia mulai panik. Lalu setelahnya melakukan serangan yang tidak berarti.
"Sialan! Lepaskan aku dan hadapi aku dengan jantan!"
"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu."
Aku mendekatinya, memastikan es di kakinya tetap membeku, lalu dengan mudah aku berdiri di hadapannya.
"Kau memang memiliki pedang roh yang kuat, tapi maaf saja, aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini." Aku tersenyum.
Untuk seukuran pria yang memiliki pedang roh, dia cukup kuat. Bahkan sangat kuat, hanya saja dia salah memilih lawan.
Aku memukul bagian leher dari pria ini hingga membuatnya tersungkur, dia jatuh tiba-tiba dan segera setelah itu aku menurunkan sihir es ku agar dia bisa sedikit leluasa di sana. Mungkin setelah dia sadar nanti es di kakinya akan mencair dan itu akan mempermudah dia untuk pergi.
Setelah urusanmu ku selesai, aku segera beranjak dan meninggal dia seorang diri. Aku masih memiliki urusan lain yang harus aku selesaikan, jadi aku tidak memiliki waktu untuk meladeni orang seperti dia.
===
Perjalanan ku berakhir di sebuah desa yang cukup ramai. Di tempat ini aku mulai mengumpulkan informasi tentang naga Fang dan kerangka naga seperti yang diminta oleh Abigail. Dia selalu saja menyuruhku untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya tidak aku lalu.
“naga Fang? Aku tidak pernah mendengarnya nama itu sebelumnya.” itu adalah jawaban kesekian yang aku dengar sepertinya, naga memang tidak ada di jaman ini, tapi beberapa orang menganggap itu ada. Atau memang naga hanyalah sebuah mitos?
"Lalu, apa kamu pernah mendengar tentang tulang belulang naga yang masih utuh?"
"Em... Maaf aku jika tidak pernah mendengar hal yang seperti itu. Kau tahu, aku hanya seorang pemburu yang bertugas untuk menjaga desa. Jadi aku tidak terlalu tahu tentang hal semacam itu. Mungkin kau akan mendapatkan informasi yang kau inginkan jika kau datang ke tempat kepala suku."
Aku terdiam sesaat, sepertinya itu hal yang wajar, hanya saja datang ke tempat kepala suku sedikit merepotkan, akan ada banyak hal yang dipertanyakan, tapi aku tidak bisa melewatkannya begitu saja.
"Baiklah, katakan di mana tempat itu."
"Ikuti saja jalan ini. Kau akan bertemu dengan orang-orang yang menjaga rumah kepala suku, bertanya saja di sana dan mereka akan menjawabnya."
Aku mengangguk, lalu tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya sebelum akhirnya aku berjalan mengikuti jalan seperti yang dia katakan sebelumnya.
===
"Siapa di sana!"
Aku menghentikan langkah saat seorang penjaga menghentikan ku.
"Siapa kau berani-beraninya datang ke tempat suci ini!"
"Maaf... Aku hanya ingin bertemu dengan ketua, aku memiliki sedikit urusan dengannya."
"Tidak ada yang diizinkan untuk menemui beliau. Ketua sedang berkultufasi!"
"Ayolah. Aku hanya memiliki urusan sebentar saja."
"Tidak...."
"Roy! Ada ribut-ribut apa ini." Di tengah keributan seorang pria berusia tua keluar menyela ucapan dari penjaga tadi.
"Maaf tetua jika keributan kamu mengganggu tetua, tapi ada seseorang yang memaksa masuk untuk menemui tetua."
Pria tua itu mengalihkan tatapannya ke arahku, memperhatikan ku sebentar sebelum akhirnya dia berdeham.
"Apa yang kamu ingin tahu anak muda?"
Seperti yang dikatakan oleh penjaga tadi. Tetua memang memiliki insting dan pengetahuan yang bahkan tak diketahui boleh banyak orang.
"Maaf, jika aku mengganggu waktumu, tapi aku hanya ingin menanyakan beberapa hal."
"Apakah itu tentang naga?"
Aku mengerutkan kening karena dia bisa menebak apa yang ingin aku tanyakan.
"Benar sekali tuan."
Dia menghela napas sejenak sebelum akhirnya berjalan ke arahku. Lalu berkata. "Maaf aku tidak bisa membantumu terlalu banyak. Hanya saja jika kamu memang mencari lokasi naga. Aku hanya bisa memberikan lokasi yang di maksud, untuk informasi lebih lanjut aku tidak bisa memberikannya."
"Itu saja sudah cukup tuan..."
Setidaknya aku sudah memiliki sedikit informasi yang ada, dan selebihnya aku akan mencari tahunya sendiri. Bahkan setelah dia mengatakan lokasi tersebut, aku segera pergi setelah berpamitan, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, jadi aku berusaha untuk memaksimalkan waktu sebisa mungkin.
"Hati-hati anak muda. Aku tidak tahu. Tapi akhir-akhir ini ada begitu banyak orang yang datang dan memaksa untuk memberikan lokasi itu. Aku khawatir tempat itu bukanlah tempat yang aman."
"Tenang saja, tuan. Aku bisa mengatasinya." Aku membalas sembari melambaikan tangan.
Orang yang mencari lokasi makan naga. Sudah dipastikan jika bukan bandit. Maka mereka adalah bawahan dari fraksi gelap. Siapapun itu. Aku bisa mengatasinya.
===
Aku berjalan masuk ke dalam hutan. Hingga aku sampai di sebuah bibir goa dengan cahaya remang di dalamnya. Menurut informasi yang aku dapatkan dari tetua tadi, tempat ini adalah lokasi yang disebutkan, tempat terlarang yang sangat sulit untuk di capai oleh orang biasa. Banyak monster yang menghadang di sepanjang perjalanan, beruntungnya aku bisa mengatasi mereka semua. Dan sekarang aku berdiri di bibir ruangan yang memiliki bau busuk yang cukup menyengat bahkan aromanya berhasil menganggu hidungku.
Tempat ini sangat aneh, meskipun tidak ada orang yang berjalan-jalan. Tapi aku bisa mendengar suara bising orang berbicara, seolah ada beberapa yang tinggal di dalamnya. Aku pikir inilah kenapa tempat ini di sebut zona terlarang.
Tempat yang sudah sangat lama di tinggalkan, di mana relik para praktisi terlarang terkonsentrasi dan beberapa tulang manusia tergeletak dengan bebas, sepertinya itu adalah tulang dari orang-orang yang pernah menjelajah tempat ini.
Aku dengar, warga sipil dilarang keras memasuki tempat ini, dan ada penjagaan yang cukup ketat di di tempat ini, tapi…
“Siapa kamu?” aku dikejutkan oleh suara seorang pria yang datang dari kegelapan, sepertinya dia adalah seorang penjaga di tempat ini.
Aku menoleh, menatapnya sejenak dan bergumam pelan. Dia kuat... Itu yang aku rasakan saat melihat keberadaannya.
“Aku hanya seorang pemburu yang memiliki keperluan do tempat ini.”
Lebih baik merendah. Karena ini adalah tempat yang baru saja aku masuki. Jadi aku pikir merendah adalah pilihan yang tepat. Aku tidak perlu gegabah dari pada semuanya runyam.
“Pemburu tidak diperbolehkan masuk atau keluar dari sini tanpa instruksi khusus.” dia berjalan mendekati ku dan menatapku dengan seksama m
Secara alami, dia menilai kemampuan ku dari kuat, menimbang apakah aku pantas dan berhak untuk masuk atau tidak.
Dia memperhatikan ku dengan seksama, aura yang dia pancarkan juga lumayan memberikan dampak untukku, tapi tidak terlalu parah. Aku bisa mengendalikan diri dan tetap berdiri di hadapannya.
Jujur aku penasaran, kekuatan seperti apa yang dimilikinya?
"Aku harap kau mengerti. Tidak sembarangan orang bisa datang dan masuk ke tempat ini."
Tentu saja aku mengerti, untuk itu aku sudah mempersiapkan semuanya, segera aku mengambil sesuatu dari dalam saku ku.
“Jangan coba untuk menyiapkan, aku tidak butuh uang. Aku hanya menyayangkan nyawamu saja?"
"Tunggu saja..." Sepertinya dia bukanlah orang yang sabaran.
“Itu …… sia-sia.” dia masih menyangkal, tapi kata-katanya tertelan kembali saat aku menunjukkan sesuatu ke padanya.
Seketika mata penjaga itu melebar.
Aku tersenyum kecil saat melihat reaksinya, tentu saja aku menunjukkan sesuatu yang tak pernah bisa dia tolsk. pin Salju, melambangkan Utara.
Dan serigala untuk menandakan Jervain.
Ada desain pedang terukir di atasnya, yang berarti baronet yang mulia.
Tiga pedang. Sebuah sertifikat yang berarti Hitungan.
Plus.
“’Pola pedangnya safir.’
Ini berarti bahwa itu adalah sertifikat Count, yang berarti “aku memiliki hak atas apapun” di antara para bangsawan besar.
Maaf. Saja aku sudah terlalu jauh menyusup dan mendapatkan semua akses yang aku inginkan. Bahkan untuk seroang penjaga tidak akan bisa menolak ku.
“maaf atas kelancangan ku tuan...."
Aku tersenyum, itu bagus. Ekspresi seperti itulah yang aku inginkan. Dia tentu tidak berani bertanya banyak hal atas aku.
“lupakan... aku hanya ingin menggali informasi di tempat ini, aku harap kamu bisa membantuku.”
"Tentu, tuan."
"Aku ingin tahu, apakah di tempat ini hidup naga Fang? dan apa kamu tahu di mana kerangka naga purba?”
Penjaga itu cukup terkejut, lalu berdeham sebentar.
“Aku tidak tahu banyak tentang mereka karena itu hanyalah sebuah rumor, ada banyak orang yang membicarakan mereka. Tapi aku tidak terlalu yakin. Tapi jika tuan mau, aku bisa membawakan beberapa nama yang ditinggalkan oleh pemburu lain sebelum ini.”
“Bawakan padaku.”
“Baiklah, Aku mengerti.”
Sepertinya aku bisa mendapatkan informasi tambahan, yah setidaknya perjalanan ku tidak sia-sia. Ada banyak hal yang bisa aku lakukan untuk Abigail.