Petunjuk Yang Hilang

1384 Kata
Tak ada yang tahu, bagaimana hidup akan berjalan. Semestinya rencana menjadikan sesuatu itu berjalan sesuai keinginan. Tapi, rencana hanya manusia bisa, cukup sebatas rencana, tetap saja yang menentukan bukan manusia. Sesaat setelah semua pekerjaan sudah selesai. Ada senggang waktu untuk bisa berbicara lagi dengan Riyan. Yuni segera menghampiri, saat ia tahu Riyan sedang sendiri. Ingin menunjukkan bukti kalau memang di kampus ini pernah terjadi kasus besar. Yang Yuni tidak tahu bagaimana akhir dari kisah itu. Hanya saja, seingatnya pada bagian akhir dari berita yang dibaca pagi tadi. Sepertinya kasus ditutup karena dianggap masalah yang berkaitan dengan semua hal itu, semuanya sudah selesai. “Mana Yun?” tanya Riyan yang menunggu Yuni mengotak-atik layar ponselnya. “Sebentar!” ucap Yuni masih mencari dan terus mencari. Ada dimana gambar yang berhasil diambil tadi, Secara tidak tahu mengapa, gambar-gambar dari surat kabar lama yang coba diabadikan oleh Yuni untuk ditunjukkan pada Riyan, dan juga rencananya akan ia beritahu juga pada Bima, ternyata gambar tersebut sudah tidak ada. Dicari di bagian memori manapun seperti hilang begitu saja. “Kok nggak ada sih! Perasaan tadi ada. Aku juga nggak mungkin kan hapus gambarnya. Tapi kalaupun aku hapus harusnya masih ada di bagian lain. Ini aku cari dimanapun kok nggak ada bekasnya sama sekali sih!” Yuni jadi takut dikira bohong oleh Riyan. Ia pun menatap teman kerjanya yang sudah tidak sabar menunggu. “Kenapa? Nggak ada ya?” Yuni hampir menangis. “Kok bisa nggak ada sih Riyan. Aku yakin kok, udah aku foto surat kabarnya tadi.” Yuni menitihkan air matanya. Ia benar-benar takut Riyan tidak percaya, karena baginya sendiri, ini adalah sesuatu yang masih mustahil untuk dipercayai. “Kamu nggak mikir kalau aku berbohong kan Riyan!” Wajah Yuni makin memelas. Ia takut kehilangan kepercayaan dan hanya dianggap mengada-ada. Riyan coba mengambil ponsel milik Yuni yang sekarang sedang dipegang pemiliknya. “Biar sini aku lihat dulu! Mungkin nyempil dimana gitu,” ucap Riyan. Yuni pun membiarkan saja ponselnya berpindah tangan. Sedikit terdengar masih terisak. “Udah tenang dulu, Aku percaya kok sama kamu. Jangan mikir, buruk dulu!” Riyan tersenyum sambil menatap pada Yuni. Ia coba mengecek sendiri ponsel Yuni. Segala memori yang tersimpan, dan memori yang baru saja dihapus. Ternyata sama sekali tidak ada sisa jejak apapun. Semua terlihat seperti foto-foto pada umumnya. “Nggak ada Yun!” “Nggak ada?” Bingung Yuni harus seperti apa. Ia spontan memegang kepalanya rasanya pusing sekali. Jelas ia tadi mengambil gambar dari halaman surat kabar yang dia baca. “Aku salah apa sih? Kok bisa kayak gini? Ya ampun!” Yuni mengeluh, ia hampir pingsan karena saking pusing kepalanya. “Yun!’” panggil Riyan melihat Yuni yang hampir saja sudah tidak mamou menopang tubuhnya. .. Semilir angin tertiup lembut menyapa kulit, ada rasa yang membuat hati merasa sendiri. Tapi, Yuni tahu dirinya tidak sedang sendiri. Ia sedang berada di halaman kecil depan perpustakaan. Yuni akhirnya melangkah masuk, tak peduli rasa tidak nyaman yang kemarin muncul. Seperti pernah ada di sini. Tapi, Yuni yakin sekali tidak pernah sekalipun datang kesini. Varo dan Imas terlihat begitu ceria. Yuni yakin saja kalau setelah ini, asal bisa bersama kedua teman kerjanya itu perasaan tak nyaman itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Seiring waktu, mulai membersihkan lagi rak-rak buku yang begitu banyak debu. Ada banyak buku lama dengan halaman yang begitu tebal. Hampir sudah tidak pernah tersentuh. Yuni susah payah membersihkan beberapa buku tebal yang mungkin hampir sama dengan kamus terjemahan, tebal sekali. Kini giliran sebuah buku dipegang oleh Yuni, entah buku apa itu. Sejenis buku diagnosis yang juga sangat berdebu. Setelah mengelapnya dengan lap kering, Yuni penasaran dengan isinya. Hampir sama dengan buku perpustakaan yang lain, ada kartu pemimjam di bagian belakang buku. “Mikha Anjani, nama yang bagus,” ucap Yuni usai membaca sebuah nama yang ada di deretan nama peminjam buku tersebut. Saat itu, Yuni seperti ingat sesuatu. Ia merasa pernah membaca inisial nama ini. Tapi, dimana dan kapan, Yuni lupa. “Mikha Anjani, MA.” Yuni mengucapkan nama itu berkali-kali, ia yakin pernah membaca nama itu dan tahu nama itu baru-baru ini. Tapi, sedetik, dua detik, belum juga ada memori yang bisa mengingatkan ke arah sana. “Nggak! Aku yakin, aku pernah lihat nama ini. Tapi siapa ya?” Gemas sekali Yuni karena tidak bisa segera ingat. Hingga akhirnya panggilan dari Imas membuyarkan fokusnya. Ia pun segera meletakkan kembali buku itu di tempatnya, dan segera berlalu ke arah Imas. Kali ini, Yuni yakin kalau dirinya pasti tahu sesuatu, dan akan dicoba ingat-ingat setelah ini. Setelah semua pekerjaan diselesaikan. Hari untuk bekerja sudah selesai. Sore menjadikan langit yang akhirnya berwarna jingga, dengan acak yang sangat cantik sebagai lukisan tunggal dari Tuhan. Yuni coba menikmati langit itu dengan Bima di pos satpam. Ia sedang menunggu kedatangan Riyan yang bilang ada sedikit masalah di ruang dosen dan ingin membereskan dulu. “Jadi, ayah kamu belum juga mau bercerita, tentang penampakan mahasiswi yang kamu lihat itu?” tanya Yuni. Bima menggelengkan kepala. Ia terdengar menghela nafas. “Maaf ya Yun! Aku kayaknya nggak bisa banyak bantu. Padahal aku yakin banget kalau ayah itu tahu sesuatu. Tapi, nggak tahu kenapa rasanya, beliau itu kayak berat banget buat bercerita,” jelas Bima. Ia kemudian memberikan minuman dingin yang memang sudah disiapkan untuk diminum bersama Yuni. “Ya udah lah, nggak papa. Tapi, aku minta tolong aja, kalau kamu emang tau sesuatu cepet kasih tau aku ya! Aku mohon. Aku ngerasa emang ada yang aneh sama kampus ini,” ucap Yuni. “Iya! Tapi ayahku pernah pesan. Terus, tadi pagi pas aku tanya perihal mahasiswi itu, ayah selalu bilang dan kudu aku ingat terus pesan itu," ucap Bima. "Pesan! Pesan apa?" "Pesan, kalau apapun yang terjadi, aku nggak boleh ngikutin penampakan mahasiswi itu, apalagi kalau sampai ikut ngecek dan masuk ke perpustakaan.” Yuni merasa semakin aneh. Seperti ada yang mengganjal dan sengaja disembunyikan. “Ehm ... aku mau tanya, penampakan mahasiswi itu kayak apa sih Bim?” “Dia cantik, putih, selalu pakai baju keperawatan kampus ini, terus kalau nggak salah, rambutnya sebahu." “Sebahu!” Yuni mengulang kata itu. Ia lalu coba mengingat bayangan seseorang yang menunjukkan tumpukan berkas lama yang ada surat kabarnya. Waktu itu ia bisa melihat perempuan berbaju seragam mahasiswi keperawatan itu rambutnya sebahu. "Apa rambutnya lurus? Maksudku lurus banget gitu, nggak bergelombang sama sekali?” tanya Yuni ingin memastikan lagi. Bima berusaha mengingat-ingat. Ia lalu menatap datar pada Yuni dan sedikit ada rasa takut juga. Padahal hari masih menunjukkan matahari sebagai lampu terbesar di tata surya. “Kamu kok tahu kalau penampakan mahasiswi itu rambutnya lurus?” tanya Bima yang rasanya sulit percaya. Bagaimana bisa cocok, ia tahu Yuni tidak mungkin datang ke kampus malam hari. Karena dirinya melihat penampakan itu hanya saat malam hari. Kalau siang, apalagi ada banyak orang, rasanya mustahil Yuni bisa melihatnya dan tahu sesuatu dengan sangat tepat. “Jadi, apa kamu pernah melihatnya?” tanya Bima. Bulu kuduk Yuni agak merinding. Ia ingin menjawab iya, tapi sungguh ia takut sekali. Lagi-lagi perasaan yang seakan diawasi muncul memenuhi hatinya. Yuni sampai harus mengecek sekeliling. “Ada apa Yun?” tanya Bima lagi melihat Yuni bangun dan melihat-lihat untuk mengecek keadaan di sekitar pos satpam. “Apa orang-orang uda pada pulang?” “Udah banyak yang pulang sih!” jawab Bima. “Gimana dengan Pak Haris?” “Pak Haris udah pulang dari tadi. Hey Yun! Jawab dulu pertanyaanku, apa kamu pernah lihat penampakan mahasiswi itu, dimana dan kapan?” “Maaf Bim! Aku ngerasa kayak ada yang ngawasin kita, beberapa hari selalu begitu perasaanku.” “Nggak ada siapa-siapa kok. Cepet cerita, aku penasaran. Kamu lihatnya dimana?” “Dimana-mana kayaknya.” “Hah! Kok bisa? Jangan bikin aku merinding dong! Jangan-jangan kamu yang ngerasa diawasin itu, diawasi sama dia lagi.” Bima semakin membuat suasana menjadi tambah seram. Ia memasang wajah yang sedikit agak takut juga. Yuni memukul keras lengan Bima. “Ngomong apa sih! Yang bener aja dong!” Bersamaan dengan itu, Riyan datang dan akan masuk ke pos satpam. Tapi, tiba-tiba rasanya ada angin berjalan dengan cepat dan menabrak tubuhnya. Ia sontak merinding dan merasa aneh. “Itu tadi barusan apa ya. Perasaan nggak hujan, kok ada angin kenceng banget sih!” keluh Riyan. Ia memegang tengkuk leher yang sepertinya bulu kuduknya berdiri dan lekas saja berjalan cepat ke arah Yuni dan Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN