Hari ini, Goji memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buku. Emang udah jadi kebiasaan Goji setiap sebulan sekali sih untuk nangkring di toko buku buat milih buku-buku bagus untuk dia beli.
Selesai membeli buku, Goji keluar dari toko buku itu. Dia lanjutin langkahnya untuk nyusurin jalan siang itu. Saat jalan, Goji liat ada seorang Nenek yang lagi butuh bantuan buat nyebrang.
Nenek itu diam di pinggir jalan pembatas, nunggu mobil yang lalu lalang sepi tapi yang ada mobilnya malah pada ngebut. Hingga akhirnya sang nenek itu pun beberapa kali gagal buat nyebrang.
Hati Goji merasa terketuk, dia menghampiri Nenek itu, lalu perlahan dia raih sebelah tangan Nenek itu tanpa aba-aba, sampai si nenek pun dibuat kaget karena perbuatan Goji.
“Ayok sini, saya bantuin Nenek nyebrang ya.” Kata Goji dengan senyuman manis di wajahnya.
Nenek itu juga ikut tersenyum karena senyuman Goji yang lucu banget. Dan Goji pun menuntun nenek itu sampai ke sebrang jalan.
“Terimakasih ya, Cu.” Kata Nenek itu.
“Iya Nek, sama-sama. Hati-hati ya, Nek.” Kata Goji yang masih terus menunjukan senyum diwajahnya.
Goji pun pergi meninggalkan Nenek itu, dan dia melanjutkan langkah kakinya untuk pulang dengan berjalan kaki.
Iya, Goji emang suka jalan kaki. Karena kan dia emang nggak punya kendaraan sendiri. Paling kalau mau kemana-mana, kalau nggak sama Dennies, ya Ethan yang jemput. Mereka berdua memang teman Goji yang paling setia dan paling baik yang pernah ada dihidupnya. Makanya Goji selalu ada kemana pun mereka pergi. Ya, walaupun nggak selalu sih.
“TOLOOOOOOONGGG!!!"
Sebuah teriakan minta tolong yang nggak sengaja Goji denger waktu dia melintasi sebuah lapangan parkir.
Sebenernya Goji, agak ragu sih buat nyamperin. Tapi, lama-kelamaan suara teriakan itu malah semakin keras hingga akhirnya Goji pun mutusin untuk mencari dimana sumber teriakan itu berasal.
Ketika sampai di sebuah g**g buntu, Goji lihat ada 2 orang pria dengan badan yang besar sedang tarik-menarik sebuah tas yang di pegang oleh seorang pria berbadan tinggi dan kurus.
Goji yang tertangkap basah sedang memperhatikan mereka pun langsung di hampiri oleh salah satu dari mereka.
“Lepasin! Toloooongg!!”
Lagi, teriakan pria tinggi kurus itu meminta tolong.
Pria satunya masih belum menyerah untuk merebut tas milik pria tinggi itu. Sementara pria lainnya mulai berkelahi dengan Goji.
BBGGGHHH!!!
BRUGGGGGG!!
PLAAAAAKKKK!!!!
BRUUGGGHHH!!!
Goji terus memukuli pria itu sampai tersungkur ke tanah hingga dia sulit untuk kembali bangkit. Dan setelah membuat pria itu tidak berkutik, Goji pun langsung menghampiri Pria yang sedang sibuk berebut tas dengan pria tinggi tadi.
BRRUUUGGGG!!!!!
BRUUGGGHGGG!!!
PLLAAAKKKK!!!!
Goji memukuli perut penjahat itu dan mendorongnya berkali-kali. Penjahat itu mencoba untuk melawan dengan pukulan. Tapi, untungnya Goji berhasil menghindar dari serangannya.
Pria tinggi kurus itu pun langsung berlari dan bersembunyi untuk menyelamatkan tasnya yang berbentuk seperti tas laptop.
Sepertinya tas itu terlihat sangat penting dan berharga untuknya.
BRUUGGGGGG!!!!
Sekali lagi, Goji memukul penjahat itu lalu mendorongnya dan mencoba mencekiknya dari belakang, penjahat satunya yang tersungkur tadi perlahan mulai bangkit dan berjalan mengendap-ngendap kearah Goji dengan pisau di tangan kanannya.
Pria kurus yang sedang bersembunyi tadi melihat pergerakan pria dibelakang Goji. Dia jadi khawatir kalo misalkan Goji sampai terkena tusuk oleh pisau pria itu.
Saat melihat batu yang tergeletak dihadapannya, Pria tinggi kurus itu perlahan meraih batu tersebut hingga akhirnya muncul sebuah keberanian untuk melempar batu tersebut kearah pria yang hampir menusuk Goji dari belakang.
PLAKKKKK!!!!!!!
Tepat mengenai sasaran, batu itu pun berhasil mendarat diatas kepala botak si penjahat yang ada di belakang Goji. Dia begitu kaget dan langsung melepas cekikan tangannya itu. Goji pun segera melangkah untuk mengambil pisau dari tangan pria yang tersungkur untuk kedua kalinya.
Kedua penjahat itu pun ketakutan karena pisau-nya dipegang oleh Goji saat ini. Mereka lalu pergi berlari meninggalkan Goji dan pria tinggi kurus itu disana.
“Kamu baik-baik aja kan?” tanya pria tinggi kurus itu menghampiri Goji.
“Ada yang luka nggak?” lanjutnya bertanya.
“Aku nggak apa-apa kok kak.” Jawab Goji dengan wajah meringis karena tangannya yang udah mulai kerasa sakit.
“-mendingan kita obatin dulu luka kamu. Ayok, aku ada kotak obat dimobil.” Kata Pria itu cemas karena melihat tangan Goji berlumuran darah.
Pria itu pun lalu menuntun Goji ke mobilnya, wajahnya bener-bener nunjukin kalo dia itu sangat khawatir dengan keadaan tangan Goji. Pria itu segera membuka pintu mobil dan mengambil kotak obat yang ada di dalam mobilnya. Dan setelah itu, dia langsung mengobati luka di tangan Goji.
“Aww!” pekik Goji pelan.
Pria itu cuma tersenyum, dia menatap wajah Goji yang lagi meringis kesakitan. Tangannya hanya sibuk mengobati tangan Goji.
“Selesai… duh, ini pasti sakit banget nih, ya kan?”
Pria itu pun akhirnya selesai memakaikan perban di tangan Goji.
“Hehe, nggak terlalu kok.” Jawab Goji terkekeh.
“Bohong kamu! Tapi, kamu keren banget tadi.” Kata Pria itu membereskan kotak obat-nya dan Goji hanya terdiam menahan sakit di tangannya. “Aku nggak tau kalo tadi nggak ada kamu, aku bakal kaya gimana sekarang.” Lanjutnya.
Pria tinggi itu lalu meraih dompet diatas dashboard mobil-nya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Goji, tapi Goji malah menolak mentah-mentah pemberian dari pria itu.
“Aku itu tulus niat tolongin kakak dan aku juga nggak minta ini kok.” Kata Goji menahan tangan Pria itu.
“Tapi kan kamu udah selametin nyawa aku, terus juga kamu udah selametin perusahaan aku.” Kata Pria itu masih ngerayu Goji supaya mau nerima uangnya.
“Oh, atau aku tambahin lagi ya?” lanjut Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang lainnya didalam dompet.
“Aku tulus tolongin kakak!” tegas Goji sekali lagi dengan penekanan dan senyuman diwajahnya.
“Hhfftt! Yaudah kalo kamu nggak mau...”
Pria itu kembali menaruh uangnya kedalam dompet. Lalu dia mengeluarkan benda tipis berbentuk segiempat dari dompet yang sama.
“Ini kartu nama aku. Kalo kamu butuh bantuan apapun. Kamu bisa hubungin aku, atau kamu bisa temuin aku dikantor. Alamatnya juga ada di situ kok.” Kata pria bertubuh tinggi dan kurus itu memberikan kartu namanya pada Goji.
“Ah, iya kak.” Jawab Goji sambil membaca kartu nama pria itu.
“Makasih ya sekali lagi. aku bener-bener berhutang segalanya sama kamu.”
Pria itu menatap haru Goji. Dan Goji cuma bisa senyum dan hanya mengangguk canggung.
“Oh iya, dari tadi kita ngobrol tapi kita belum kenalan. Kenalin, nama Aku Kim Tzuma, kamu pasti udah tau kan nama aku dikartu nama itu.” Kata Tzuma memperkenalkan namanya dan diakhiri dengan kekehan panjang
“Hehe iya kak, Hmm, aku Wang Goji.”
“Ah, okay Wang Goji. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat ngehubungin aku atau temuin aku di kantor ya.”
Tzuma bener-bener ngerasa nggak enak sama Goji. Karena dia udah baik banget mau nolongin Tzuma tanpa mau nerima uang sepeser pun dari Tzuma.
“Yaudah. Hmm, aku anter kamu pulang, atau-?” tanya Tzuma.
“Nggak usah kak, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Yakin?” tanya Tzuma yang nggak yakin dengan keadaan Goji.
“Iya kak. Yaudah aku pergi dulu. Makasih untuk perbannya.” Pamit Goji yang diakhir senyum dan memperlihatkan perban ditangannya pada Tzuma.
"Iya sama-sama.”
Goji pun pergi meninggalkan pria bernama Tzuma itu. Pandangan Tzuma pun juga nggak beralih dari sana. Dia masih sangat khawatir dengan keadaan Goji.
Sebenernya sih Goji juga udah lemes banget untuk jalan. Apalagi kan tenaga dia tadi abis buat mukulin 2 penjahat tadi. Tapi, ya mau gimana lagi, jagoan masa cengeng.
***
Goji sedang merebahkan badannya diatas kursi panjang di dalam kamar kost-nya. tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan sangat rusuh.
DUUGGG!! DUUGG! DUUGG!!
Goji perlahan bangkit lalu membuka pintu kamarnya. Saat terbuka, dia liat sepasang suami istri berdiri didepan pintu kamarnya. Mereka adalah pemilik kamar kos yang ditempati oleh Goji saat ini.
“Goji, gimana??! Ini udah akhir bulan. Masa mau nunggak terus!” Kata seorang lelaki paruh baya bernama Koh Liem.
“Iya, yang bulan kemarin juga kamu belum bayar Goji! Kapan mau bayar?!” sambung istri Koh Liem bernama Ci Lingling sedikit agak membentak.
“Secepatnya kok pasti saya bayar.” Jawab Goji dengan nada yang melemah.
“Pokoknya saya nggak mau tau ya Ji, 3 hari kalo nggak ada bayar. Terpaksa ini kamar mau saya sewain sama orang lain!” ancam Ci Lingling sedikit pedas.
“I-iya Ci.” Jawab Goji yang cuma bisa nunduk.
“Awas kalo bohong!”
Suami istri itu pun akhirnya pergi dengan membantingkan pintu kamar Goji.
Tambah pusing aja kepala Goji yang lagi sakit kepala. Ditambah lagi omelan dari pemilik kamar kos yang sudah menagih uang kos bulanan Goji yang menunggak beberapa bulan.
Goji pun terdiam sesaat, dia berfikir gimana caranya biar bisa dapet uang buat bayar uang kos. Pinjem Dennies? mana mau sih Goji. Dia itu tipe orang yang enggak mau ngerepotin temennya.
Bahkan karena sikap Goji itu, Temen-temennya ngira kalo Goji itu baik-baik aja. Padahal selama ini, ada banyak beban yang Goji tanggung sendiri sebenernya.
Tib-tiba terlintas dalam benak Goji tentang Kim Tzuma.
“Ahhh, iya. Kenapa nggak gue tanya tentang kerjaan sama kakak itu ya.”
Goji langsung meraih kartu nama Tzuma di dalam kantong jaketnya. Dan dia terus memperhatikan kartu nama Tzuma sambil berfikir.
“Okay, kalo gitu kayaknya besok gue harus temuin dia deh.”
***