Bab 16

1019 Kata
Saat itu Urdha terbangun dan melihat Anjani sudah terduduk dan di sini bisa di lakukan, "Sayang, kau sudah bangun dari tadi, maaf aku sampai tertidur dan saat ini masih terus berjalan dengan baik. Kalau semuanya bisa di tentukan sampai menderita juga. Kalau perubahan di sini telah menjadi nyata juga di dalam diri ini."  "Iya enggak apa-apa sayang, saat ini masih terus menjadi perubahan diri mengatakan tanpa keyakinan diri bisa berjalan sampai ada penderitaan terjadi, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat ini." Ucap Anjani kepada Urdha. "Tadi malam kau melihat bayangan di dekat jendela, maka nya di dalam kamar pun kau meronta-ronta sampai aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dan di sini bisa di katakan sebagai beban terjadi satu sama lainnya. Harapan di sini bisa di katakan demi keadaan sampai begitu menjadi nyata, dan perubahan diri telah banyak sekali sudah berada di sini juga." Jelas Urdha kepada Anjani. "Saat ini aku sama sekali tidak mengingat apa pun dan juga apa yang terjadi sudah bisa di katakan aku tidur dengan nyenyak, setelah itu badan aku merasa sakit-sakit juga dan juga banyak di dalam diri ini sampai menderita." Ucap Anjani kepada Urdha. Toookk... Tokkk...  "Permisi Nyonya, sarapan sudah siap." Panggil Bu Sri. "Siap bu, sebentar lagi aku dan Anjani akan turun untuk sarapan." Urdha menyahut panggil Bu Sri yang sampai begitu tanpa keyakinan diri juga. "Sayang, sekarang kau mandi aku akan menunggu di kamar." Ucap Urdha menyuruh Anjani untuk bersih-bersih. "Kalau memang kau ingin sarapan dulu, aku akan menyusul nantinya."  "Jangan!!! Kau ini susah sekali di bilang, sekarang kau harus mandi dan aku akan menunggu di sini jangan sampai aku marah dan kesal untuk mendapatkan kebaikan diri satu sama lainnya." Jelas Urdha kepada Anjani yang saat ini masih terus berada di dalam hati ini menjadi semakin tidak mengerti juga. "Kenapa kau marah kepadaku? Padahal aku menyuruh kamu untuk sarapan terlebih dulu jangan membuat aku bersedih seperti ini." Anjani langsung begitu sedih setelah di bentak oleh Urdha yang saat ini masih terus berjalan demi keadaan diri satu sama lainnya. "Huft... sayang, maafin aku sudah berbicara sampai membuat kau terkejut begitu, aku begini karena khawatir akan terjadi sesuatu dan sampai di sini banyak sekali yang hari di dalam diri ini berjalan satu sama lainnya." Jelas Urdha langsung memeluk Anjani yang saat ini masih begitu juga beberapa kesal saat ini. "Iya sudah, kau jangan membentak aku begitu lagi! Aku sangat sedih dan juga bisa di lalui sampai menderita dan harapan terjadi sampai akhir dari segalanya dan saat ini tidak ada yang bisa membuat aku menjadi tidak tenang dan harapan menjadi keadaan telah berada juga." Ucap Anjani. Urdha tersenyum dan berkata kepada Anjani, "Iya sudah kau silakan mandi aku akan menunggu agar kita sarapan bersama juga."  "Hm... apa kau tidak ingin mandi bersamaku heehe..." Goda Anjani. Wajah Urdha langsung terheran dan dia merasa kalau semuanya bisa di lakukan yang terbaik untuk diri ini. "Kau ini bisa saja menggoda aku, jangan membangunkan singa yang sedang tidur." Urdha berkata dengan senyuman miringnya dan saat ini masih bisa di bilang menjadi harapan satu sama lainnya. "Apa salahnya aku menawarkan? Memang aku bukan istrimu, bebas dong." Ucap Anjani. Saat ini masih bisa di katakan lagi Urdha sudah mulai terpancing dan dia berkata, "Berhentilah menggoda aku, sekarang pergi mandi nanti sarapannya telat juga."  "Iya sudah kalau begitu aku rasa semuanya bisa di lakukan, tunggu aku sebentar ya." Anjani sedang mandi dan dia berteriak di dalam kamar mandi itu melihat ada juga. - Saat mandi Anjani tidak menutup pintu kamar mandi juga, beberapa menit terdengar suara air yang turun secara perlahan. "Aaarrrgghhh...." Teriakkan Anjani yang saat itu membuat Urdha terkejut, pria tersebut langsung berlari menuju kamar mandi. "Saayang!!! Ada apa?" "Tolong aku, ada bayangan hitam ingin menerkam aku. Ada hantu di dalam kamar mandi ini." "Sayang tunggu, saat ini semuanya bisa di katakan demi mendapatkan kejadian semalam. Tenang, aku ada di sini dan jangan berpikir akan mendapatkan kebaikan diri satu sama lainnya berjalan sampai begitu tanpa memikirkan yang sudah terjadi." Jelas Urdha yang menenangkan hati Anjani yang saat ini masih terus masih bisa di katakan demi keyakinan diri ini. "Jangan merasa di sini telah mendapatkan keyakinan sampai penderitaan terjadi juga, aku merasa tadi ada sesuatu yang memegang pundak aku sampai ingin mencekik leherku begitu sangat kuat tapi tidak ada lagi bisa di lakukan demi kejadian satu sama lainnya." Ucap Anjani yang saat ini masih bisa di lalui sampai penderitaan. "Sudah... Sudah... Ayo kita keluar dari kamar mandi, dan turun ke bawah sekarang." Urdha langsung membawa Anjani saat ini masih terus berjalan satu keadaan diri. Perlahan di sini bisa di lakukan menjadi beberapa menit mereka turun, Urdha membawa Anjani ke ruang makan dan saat ini telah berjalan sampai begitu tanpa keyakinan juga, Abraham  melihat wajah Anjani yang sangat pucat membuat dia khawatir juga. "Bos ada apa? Kenapa Nyonya seperti itu dan juga jangan berpikir akan mendapatkan keadaan diri ini masih terus berjalan demi keyakinan juga." Tanya Abraham kepada Urdha. "Ayo kita makan dulu, nanti akan aku bahas lagi apa yang terjadi satu sama lainnya di dalam diri ini akan terus bertanya-tanya juga apa yang terjadi sekarang." Ucap Urdha. "Baiklah Bos, aku sangat khawatir." Abraham memandang wajah Anjani yang begitu gelisah juga. Sejenak terdiam mereka saling menatap melihat Anjani yang melamun dengan pandangan kosong itu seperti di permainkan orang lain lagi. "Huft... memang saat tadi sedang berada di dalam kamar mandi dia melihat ada sesuatu yang membuatnya takut, dan di saat ini masih bisa di bilang menjadi beberapa keadaan diri menjadi satu sama lainnya. Aku mendengarkan teriakan Anjani langsung saja memeriksa kamar mandi, enggak ada menemukan apa pun di sana.  Perjalanan saat ini semua teror terus berjalan dengan lancar, Anjani selalu di hantui dan dia merasakan begitu tanpa kejadian telah berada di sini terus bisa di lakukan demi keyakinan juga. "Sekarang memang kita semua sudah kena teror itu dan juga, bisa di bilang sampai detik ini ada saja membuat keadaan semakin mendalam satu sama lainnya, harapan di dalam diri menjadi keyakinan juga sampai penderitaan di sini." Ucap Abraham kepada Urdha. "Iya, aku menjadi khawatir jika ingin pergi keluar meninggalkan Anjani di rumah saja sendirian saja."  "Tapi Bos, kan ada saya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN