“Whaatt! Aku milikmu?” tanya Ambar setengah menjerit lalu meraba kulit leher. Benar saja ada perasaan tak enak dalam hatinya. Kulit leher terasa perih dan kasar dan itu sudah pasti hasil olah bibir Rafael. Sang pria tertawa lebar melihat kepanikan Ambar dan dia semakin gemas. “Kenapa, Angel? Bukankah kamu selalu menginginkan ini?” Rafael semakin mempererat pegangan tangannya di pinggang Ambar. Bukannya menjawab, wanita berkuncir kuda ini segera mengurai pelukan lalu mencari sesuatu dalam tas. Rafael memeluknya dari belakang, sementara Ambar mengoleskan cairan terapi pada kulit leher. “Semoga segera pulih,” gumam Ambar yang terdengar jelas di telinga Rafael. Sang pria lalu membalikkan tubuh Ambar dan tampak ekspresi kecewa di raut wajah pria berdarah Spanyol tersebut. “Hunter, kita bukan

