Bab 2 Rencana.

1006 Kata
"Cukup! jika kamu tidak suka dengan senior aku dan lelaki yang aku sukai. Maka... diam lah... berpura-pura lah seakan kamu tidak pernah tahu. Mengerti? apa kamu mengerti?" ucap Calista yang saat itu membuat Rey tertegun sesaat di tempatnya. "Aku mencintainya. Dan dia sudah membalas cintaku itu bagiku sudah cukup Rey. Apa kamu mengerti hah?" ucap Calista lagi disana masih sama dengan nada meningginya. Rey sangat terpukul aras penolakan itu. Rey tahu jika dirinyalah yang mengenal Calista lebih dari siapapun. Dan ia pula yang sudah mengenal gadis itu bertahun-tahun lamanya dibanding dengan lelaki yang baru resmi menjadi kekasih Calista itu. "Apa Gary lebih baik dari aku di mata kamu Ca?" tanya Rey tiba-tiba. "Rey... cinta itu tidak pernah salah. Entah dia tidak lebih baik dari kamu, atau tidak setampan kamu. Tapi aku mencintainya Rey... aku mencintainya... haruskah kita menjadi canggung hanya karena persoalan ini?" ucap Calista pada lelaki itu. Dan Rey jelas tidak ingin itu terjadi. Rey jelas ingin selalu berada di sisi gadis itu. Layaknya Calista yang sangat mencintai Gary. Begitu pula dalam cinta Rey untuknya. Hingga akhirnya Rey pun mengalah. "Oke... aku mengerti! aku tahu dari dulu kamu tidak pernah menganggap ku lebih dari teman. Baiklah... lupakan saja ucapanku tadi dan... anggap makan malam kita ini sebagai ucapan selamatku atas terbalasnya pengakuan cintamu pada Gary." Ucap Rey dengan senyum palsu yang ia paksakan. Sembari satu tangannya mengangkat gelas wine di depannya untuk bersulang dengan gadis di depannya itu. Dan Rey mendapat sambutan Calista yang segera mengangkat gelas wine nya dan bersulang dengan Re disana. "Apa pun yang terjadi, aku nggak.akan pernah melepaskanmu Ca..." ucap dalam hati Rey saat ia meneguk winenya sampai habis tidak tersisa. Lalu melanjutkan makan malamnya. Namun di tengah acara Calista mendapat pesan singkat di ponselnya dari Gary. Keduanya tidak tahu jika saat itu Gary tengah menatap keduanya dari luar kaca jendela transparan yang ada di samping keduanya tepat. Gary tengah menatap dengan tatapan tajam disana. Seonggok buket bunga mawar merah dan lilin yang ada di tengah meja depan Calista dan seorang lelaki disana membuat pikiran negatif Gary pun.betperan. Sebenarnya lelaki itu sangat mencintai Calista. Seperti gadis itu mencintainya. Namun karena sesuatu yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri itu, membuat Gary sedikit tidak percaya pada cinta Calista yang sering ia banggakan di depannya. Gary pun merasa sakit saat itu, namun.ia segera bisa mengendalikan perasaannya. Gary pun memutuskan untuk bertanya dahulu pada kekasihnya sebelum ia memutuskan semuanya. Mengingat kedua saling mencintai. Gary tidak ingin hubungan asmara yang baru ia jalin dengan Calista kandas begitu saja di tengah jalan. Meski ia sangat mencintai gadis itu. Meski Gary juga mengenal Reyga. Bahkan keduanya berada di perusahaan yang sama. Namun Gary menjadi pimpinan anak cabang. Sedangkan Reyga hanya karyawan biasa. "Kau mau main-main denganku Rey? tunggu saja. Kamu pikir aku akan tinggal diam? tidak! kamu salah Rey..." ucap ancaman dalam hati Gary saat itu. Calista segera meraih ponsel yang ada di samping tangannya. Menatap pada layar ponselnya disana yang ternyata adalah pesan dari Gary. Dengan senyum yang merekah sempurna. Calista membukanya lalu membaca pesan tersebut. "Kamu sudah sampai rumah? dimana sekarang?" tanya Gary yang seolah tidak tahu keberadaan Calista disana. Gary berharap jika Calista akan jujur padanya. Dan jika sampai gadis itu bohong dengan jawabannya. Maka Gary pun tidak akan sungkan jika harus memutus hubungan dengannya. Calista pun segera menjawab pertanyaan Gary dalam pesan tersebut. "Aku sedang makan di restoran sama teman. Bentar lagi pulang yang... kamu sudah pulang?" ucap pesan balasan yang Calista kirimkan untuk kekasihnya. Nampak saat itu Gary menyunggingkan senyumannya disana. Ia senang karena gadis itu jujur padanya. Namun... ia tidak senang saat tahu teman makan malamnya adalah Reyga. Saingan kuat cintanya. Meski Gary yang sudah menjadi pemenangnya saat itu. Tetap saja ia masih merasa tidak suka. "Oke. Kalau begitu cepat pulang setelah makan malam. Aku ada kejutan untukmu." Ucap lelaki itu pada pesan balasannya. Sedangkan Reyga yang melihat senyum merekah dari bibir Calista yang tiada hentinya tersungging disana pun ikut tersenyum senang. Meski ia tahu... jika ia tidak berhak atas senyum itu. Karena jelas bukan dirinya yang membuat Calista tersenyum senang. "Akh... aku sangat kenyang Rey... makasih banyak ya..." ucap Calista dengan riangnya. "Oke. Kalau begitu... aku antar pulang ya?" ucap Rey dengan tawarannya. Namun nampak gadis itu menggeleng sebagai jawabannya. "E'em..." sahut Calista. Dengan beberapa gelengan disana. Ia jelas tidak ingin lelaki itu mengantarnya pulang. Calista khawatir jika Gary akan melihatnya nanti. Mengingat kata-kata lelaki itu terakhir kali jika ia akan memberi kejutan pada dirinya. "Kok nggak mau Ca? hanya nganterin... nggak nginap!" ucap Rey pada gadis itu lagi. "Nggak Rey... aku naik taksi aja... khawatirnya nanti Gary ada di depan apartemen dan dia melihatmu menjadi tidak nyaman. Aku ambil jalan tengahnya aja deh... kamu... nggak apa-apa kan pulang sendirian?" ucap Calista pada lelaki yang tengah duduk di seberang bangku depan mejanya. "Oke lah... kalau begitu... aku antar sampai kamu naik kedalam taksi aja ya kalau begitu..." ucap Rey pada gadis itu. "Oke lah kalau itu..." ucap jawaban Calista pada Rey. Lalu keduanya pun segera beranjak dari duduknya. Calista berdiri sembari membawa buket bunga mawar merah besar di tangannya. Tiba-tiba... "kak... tunggu sebentar!" ucap dua orang gadis yang datang mengejar dan menuju kearah keduanya. "Emb.. iya... ada apa ya?" tanya Calista segera setelah kedua gadis itu sampai di depannya. "Boleh pinjam buket bunga mawarnya nggak kak? buat foto... boleh ya..." ucap salah seorang dari kedua gadis pada Calista saat itu. "Emb... boleh... boleh banget kok... ouh ya... kalau begitu... ambil aja deh aku rela..." ucap Calista selanjutnya. Membuat kedua gadis itu disana bersorak gembira seketika. Namun tidak untuk Reyga. Lelaki itu menghela nafasnya dalam-dalam beberapa kali saat itu. Dan ia merasa memang tidak ada kesempatan sedikitpun untuk masuk kedalam hati gadis yang di cintainya itu. "Sungguh sakit Ca... tega sekali kamu." Ucap Reyga dalam hatinya. Di sisi lain. Di tempat Gary. Lelaki itu mendapat kabar jika ia harus memimpin salah satu divisi anak cabang perusahaan yang berada di Negara lain. Dan di Negara itu pula kelak Gary bertemu dan berhubungan dengan Sekretaris sekaligus kekasih tersembunyi nya. Gadis itu bernama Diandra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN