Only You (1)

1441 Kata
Author POV Farhan melewati meja nomor 6 yang tersaji banyak makanan yang terlihat lezat, ia melewati meja itu dengan wajah nya yang datar serta langkah nya yang tegas, seolah-olah tak terpengaruh sama sekali dengan keberadaan gadis yang menunggu meja tersebut. "Eh, jangan disitu, disana ada rendang, yang nunggu juga si Rara." Bima berbisik di telinga Farhan, ketika lelaki itu hendak singgah di meja bernomor 5. Farhan melirik ke arah Gea, perempuan yang menunggu meja nomor 6, perempuan itu terlihat manis dengan rambut kepangan yang dihiasi pita berwarna merah muda. Farhan membuang muka ketika tatapan nya bertemu dengan Gea, perempuan itu mempunyai mata bulat yang indah. Namun sayang, ia terlalu gengsi mendekati perempuan itu secara langsung. Farhan mengikuti langkah Bima menuju meja bernomor 9 yang paling ramai dikunjungi rekan mereka, laki-laki yang paling mendominasi meja itu. Kedatangan Rara memang menjadi pusat perhatian para prajurit disana, perempuan itu merupakan relawan yang dikirim dari perusahaan yang bergerak di bidang kimia, termasuk Gea. Bima maju paling depan sambil memasang senyum andalan nya untuk memikat perempuan, Rara hanya tersenyum ketika mendengar kata rayuan yang terus para anggota TNI itu keluarkan. Farhan hanya memperhatikan Bima dari jauh, dan tak ada niat untuk mendekat apalagi ikut menggoda Rara, lelaki itu mengeluarkan smartphone nya dan membuka fitur kamera lalu berpura-pura merekam keadaan di sekitar nya. Padahal yang dilakukan lelaki itu adalah merekam Gea yang sedang tersenyum sambil mengajak para warga maupun para prajurit TNI untuk mencicipi makanan yang ia sajikan di meja. Farhan sebenarnya ingin sekali menghampiri Gea, hanya sekedar menyicipi atau bertanya tentang makanan apa yang ia sajikan, namun ia masih canggung dengan perempuan itu, karna Gea merupakan tipe perempuan pendiam, teman-teman nya pun segan jika ingin mengeluarkan rayuan nya kepada Gea. "Bro! Lo liat apaan sih?" Bima tampaknya sudah selesai dengan urusan pergombalan nya, buktinya tangan lelaki itu sudah membawa mangkuk plastik yang berisi rendang. "Udah? Tumben cepet?" Tanya Farhan sambil mencicipi rendang. "Udah, males lama-lama ada si Roy." Farhan hanya diam mendengar nada kesal yang terdengar di akhir kalimat. "Cari minum, yuk. Makan mulu dari tadi." Bima berjalan melewati Farhan sambil mencari meja yang menyediakan minuman segar, dan mata lelaki itu terhenti di meja nomor 6 yang menyajikan jus buah mangga. "Nah, meja nomor 6 ada minuman tuh." Farhan yang mendengar hal itu tentu saja dengan senang hati mengikuti langkah Bima yang menuju ke meja Gea. "Jus mangga nya dua, ya." Gea menolehkan kepala nya ketika mendengar suara berat lelaki yang merupakan prajurit TNI mampir ke stand nya, Gea tentu saja merasa senang karna dari tadi perempuan itu menunggu momen untuk bisa melayani para relawan ataupun warga sekitar. "Baik, tunggu, ya." Ucap Gea dengan diakhiri senyum yang manis. Senyuman itupun tak luput dari pandangan Bima, lelaki itu menyenggol lengan Farhan yang terlihat fokus menatap wajah Gea. "Manis, bro." Bisik Bima dengan senyum misteriusnya. Farhan memandang tajam kearah Bima ketika lelaki itu paham maksud dari senyum Bima itu. "Diam." Ucap Farhan dingin. Bima yang mendengar hal itu hanya tertawa kecil, sepertinya Farhan tertarik dengan perempuan ini, pikir Bima. "Silahkan." Gea memberikan minuman itu kepada dua lelaki di depan nya. "Relawan dari mana? Kok nggak pernah lihat." Bima mulai membuka percakapan. "Saya dari perusahaan Halim Group." Jawab Gea. "Oh, berarti satu kantor dong sama Rara." "Iya." Gea tak pandai memulai percakapan, maka dari itu yang dilakukan Gea hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bima tanpa berniat bertanya balik. "Perkenalkan, saya Bima." Bima mengulurkan tangan nya kearah Gea. Gea terkejut ketika Bima mengajak nya berkenalan, biasanya para lelaki mendekati nya hanya untuk mengetahui informasi tentang Rara, seperti nama media sosial Rara, ataupun nomor pribadi perempuan itu. Karna dirinya memang dekat dengan Rara. "Saya Gea." "Gea, nama yang manis seperti orang nya." Mulai sudah, Farhan merasa hatinya terbakar ketika melihat sifat Bima yang agresif dengan terus menerus mengajak Gea mengobrol. "Ini teman saya-" "Farhan." Farhan mengambil tangan Gea setelah memotong perkataan Bima. Gea merasakan tangan nya diremas pelan oleh Farhan ketika tangan mereka bertaut, lelaki itu memiliki mata yang tajam dan tubuh yang lebih kekar dari pada Bima. Pandangan Farhan membuat Gea sedikit takut. "Teman saya ini memang sedikit kaku, tapi jangan takut, dia baik sebenarnya." Ucap Bima dengan santai. Tak menyadari bahwa Farhan sudah muak mendengar kalimat candaan yang keluar dari mulut Bima. Farhan ingin berbicara dengan Gea namun Bima terus menyela, akhirnya Farhan pun diam tak mengeluarkan suara apapun sampai Bima menyudahi percakapan nya. "Ya sudah, kalau begitu terima kasih, ya. Semangat, tinggal 4 hari lagi disini." Bima memberikan semangat kepada Gea dalam menjalani tugas sebagai relawan disini. "Sama-sama, Bapak juga semangat." Ucap Gea malu-malu. "Eh, saya masih umur 29 loh, masa dipanggil bapak." "Maaf. Semangat, Mas." Ucap Gea pelan meralat panggilan kepada lelaki itu. "Mas. Saya suka itu." Bima tersenyum senang mendengar panggilan yang entah mengapa membuat hati nya berbunga-bunga. Percakapan mereka pun selesai, Farhan masih dengan wajah nya yang menyeramkan berjalan di depan Bima. "Bro, Gea manis-" Bugh... Pukulan kuat itu dilayangkan Farhan ke perut Bima, lelaki itu terlihat sangat marah. Bima tak berani membalas pukulan itu, karna ia tahu bahwa Farhan lebih hebat dari nya dalam hal bela diri, Bima tak ingin ambil resiko wajah nya yang tampan ini akan babak belur. "Lo kena-" Belum sampai Bima menyelesaikan kalimat nya, kata pedas Farhan membuatnya terdiam. "Bacot." Setelah mengatakan itu, Farhan berjalan meninggalkan Bima yang hanya diam memandang punggung Farhan sambil memegangi perut nya yang terasa sakit. Bima tahu sifat Farhan, pasti Gea sudah menarik perhatian lelaki itu, tapi memang sifat kaku Farhan sungguh tak bisa dikurangi sedikit pun. Jika seperti ini, Bima yang selalu menjadi samsak lelaki itu. Bima berdecak lalu berjalan mengikuti Farhan dari belakang. ****** "Lapor komandan! warga di sebelah sana ada yang bertengkar, mereka menunggu komandan datang untuk menengahi." Riko menghampiri Farhan dengan tergesa-gesa dan terlihat panik. "Baik, ayo kesana." Sikap Farhan yang kaku dan tegas memang lebih disegani oleh warga sekitar karna lelaki itu selalu bijak jika mengambil keputusan. "Nah, ini Pak Farhan sudah datang, Si Tio membuat ulah lagi, Pak." "Betul, Pak. Kali ini sudah keterlaluan, dia memasang kamera di kamar mandi perempuan." Warga sekitar tampak berebut menjelaskan masalah yang ditimbulkan oleh Tio itu, sedangkan Farhan dengan sabar mendengarkan penjelasan warga. "Lalu dimana Tio?" Farhan menanyakan keberadaan pelaku itu, Tio memang sering kali membuat ulah yang membuat warga sekitar geram, padahal mereka baru tertimpa bencana gempa, namun sepertinya Tio tak kapok sama sekali melancarkan aksi b***t nya itu. "Dia pingsan, Pak. Mereka mengeroyok Tio sampai tak sadar diri." Jawab Riko. "Nggak usah diobati, Pak. Biar aja mati sekalian." Ucap salah satu Ibu-ibu dengan kejam. "Untung tadi mbak Rara lapor, kalau nggak ya si Tio itu nggak bakal kapok." Lanjut Ibu itu. "Betul." Ucap serentak warga disana. "Riko, kamu bawa pelaku ke tenda pengobatan." Perintah Farhan. "Siap!" Setelah itu Farhan mendengarkan keluhan warga akan sikap Tio dan memberikan beberapa cara agar mereka bisa mengawasi Tio jika para anggota tentara itu sudah selesai dari tugas nya. Farhan sudah selesai berbicara panjang dengan para warga, sekarang lelaki itu berjalan menuju tenda pengobatan untuk menghampiri Tio meminta penjelasan akan alasan dia berbuat yang tak pantas. Farhan mengambil jalan di belakang tenda, namun tiba-tiba langkah kaki Farhan memelan ketika melihat rambut kepang dengan hiasan pita merah muda yang familiar itu. "Kamu udah lapor?" Farhan tahu jika itu adalah suara Gea. "Iya." "Kenapa baru sekarang? Kan kejadian nya udah dari 3 hari yang lalu." "Yaudah, sih." Jawab perempuan yang tak Farhan kenali suara nya tampak meninggi. "Tapi kata kamu nggak perlu dilaporin?" "Udah, diem." Setelah itu percakapan mereka selesai, dan Farhan menjadi salah tingkah ketika Gea berbalik badan dan tatapan mereka bertemu. Gea hanya tersenyum kecil kearah Farhan lalu hendak berjalan melewati tubuh lelaki itu. "Gea." Perempuan itu menghentikan langkah nya ketika Farhan memanggil nama dirinya. "Ya?" Hanya bertatapan dengan mata Indah Gea saja sudah membuat perasaan Farhan tak karuan, lelaki itu seolah terpaku melupakan kalimat yang akan ia ungkapkan tadi. "Ada apa?" Tanya Gea lagi. "Kamu-" "Selamat siang, Komandan Farhan." Rara datang di tengah-tengah mereka sambil tersenyum manis. "Siang." Jawab Farhan singkat. "Komandan Farhan pasti mau mengintrogasi Tio?" Rara menebak alasan lelaki itu berada di dekat tenda pengobatan pasti ingin menemui pelaku c***l itu. "Ya." "Kebetulan kalau begitu, saya juga akan menemui pelaku." Ucap Rara. "Kalau begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Gea langsung berjalan cepat keluar dari situasi canggung itu. Lagi-lagi kesempatan Farhan mengobrol lebih lama dengan Gea harus terpotong, banyak sekali pengganggu yang membuat Farhan kesal, tetapi ia tak bisa mengabaikan tugas nya begitu saja. Setelah itu Farhan berjalan bersama Rara dengan perempuan itu yang terus bercerita mengenai kronologi bagaimana dia bisa menemukan barang bukti. Namun, pikiran Farhan sebenarnya tidak ada disana, ia hanya merespon ucapan Rara dengan deheman atau sesekali jawaban singkat. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN