Part 1

1579 Kata
Sore itu Seira berkeliaran di rumah sakit. Ceritanya dia habis berantem, tangan dan kaki lecet-lecet. Datang ke rumah sakit diseret sama Rain, teman masa kecilnya. Tapi habis itu Rain ditelepon tempat kerja sambilan. Jadi Seira berasa terdampar di sana. Dia celingak-celinguk seperti anak hilang. Tak kenal siapa pun. Mau daftar, tapi merasa terintimidasi melihat panjangnya antrean. Orang sakit serius, dia hanya lecet sedikit saja lebay sekali sampai datang ke rumah sakit. Pemandangan janggal di depan pintu masuk rumah sakit itu bikin Elard sakit mata. Cewek yang sempat mau dijodohkan padanya beberapa hari lalu muncul lagi di depannya. Elard, kan jadi curiga. Jangan-jangan mamanya lagi yang mengirim Seira kemari. “Sedang apa kamu di situ?” tanya Elard dari kejauhan. Seira berbalik secara refleks. Merasa terkejut melihat keberadaan Elard. Dia tak tahu Elard bekerja sebagai dokter. Apalagi letak rumah sakitnya. “Oh, si om sok jual mahal!” seru Seira. Tunjuk muka Elard dengan polosnya.   “Panggil apa kamu!” Elard segera menghampiri Seira, menutup mulutnya sebelum ada yang dengar. “Ehehe, sorry.” Seira menarik turun tangan Elard yang membungkam mulutnya. Dia tertawa melihat betapa paniknya cowok itu. “Bercanda kok,” sambung Seira. Pas itu, Elard tidak sengaja melihat luka di lengan Seira. Memanjang dari siku sampai ke dekat pergelangan. Bentuk lukanya seperti gesekan aspal ketika jatuh dengan kasar. “Itu tanganmu kenapa?” Elard kemudian mencengkeram pergelangan tangan Seira, mengecek lukanya. “Jatuh.” Seira memalingkan muka, tak mau mengaku habis berantem dengan segerombolan anak SMP. Selain malu, takut terdengar sampai ke telinga ibunya. “Jangan bohong! Luka begini dapatnya dari gesekan, jatuhnya didorong dengan kuat. Dengan siapa kamu berantem?” Sial sekali. Otak Elard jalan ternyata, tahu saja asal-muasal lukanya hanya sekali lihat. Memang ya, mau kibuli dokter itu susah. “Biar ah! Luka kecil kok. Dijilat juga sembuh!” Ketahuan berbohong, Seira berusaha kabur. Dia menghentakkan tangan Elard. “Jangan i***t. Kamu pikir berapa banyak bakteri di mulutmu! Sini ikut saya!” Sekali lagi Elard mencengkeram tangannya. Kali ini Seira diseret ke dalam ruang pemeriksaan Elard. Elard tidak jadi pulang ke rumah. Dia akan merawat Seira dulu. Setelah itu barulah dia akan menyeret anak itu pulang. Mau tak maulah. Habis Seira itu anak teman mamanya. *** Luka Seira sudah dibersihkan dan diperban. Bau obatnya mengganggu dan kain kasanya bikin gatal. Suasana di antara mereka juga tak enak. Duduk bersebelahan dalam diam disupiri oleh Elard. Akhirnya Seira punya kesempatan untuk minta maaf, tapi dia terlanjur kesal kena omel sepanjang dirawat tadi. Jadi Seira batal minta maaf, dia mau cueki Elard saja. Niatnya si begitu ... cuma tampang Elard yang sedang serius menyetir membuatnya terpesona kayak orang b**o. Seira biasanya main sama bocah. Terkadang kumpul sama teman kampus yang berjiwa bocah juga. Makanya sekali lihat cowok dewasa dari jarak dekat, hatinya nggak kuat. Bikin pangling. “Om,” panggil Seira pelan. Sudah bosan ngambek dia, maunya mencoba memulai pembicaraan. “Umur berapa kamu? Panggil saya om begitu? Paling beda dua atau tiga tahun, kan.” Eh, giliran Elard yang ngambek. Rupanya Elard agak sensian dipanggil om. Apalagi yang panggil cewek yang rencananya akan dijadikan calon istri oleh mamanya. “Ya, maaf.” Akhirnya Seira agak mengalah. Berakhir minta maaf sesuai rencana awal. Mereka saling diam lagi. Macetnya jalan kota Jakarta juga sama sekali tidak membantu. Membuat keadaan yang canggung itu jadi semakin canggung. Langit yang sudah gelap tergantikan oleh cahaya lampu warna-warni bangunan di tepian jalan dan pemandangan jalan yang penuh dengan kendaraan sudah begitu bosan mereka lihat. Lalu sosok asing di samping, juga sama sekali tidak mereka lirik. “Di mana rumah kamu? Satu kompleks sama rumah Mama?” Sekali Elard buka mulut, hanya tanya alamat. Seira jadi agak kecewa. Tadinya dia berharap diajak mengobrol untuk mengisi waktu luang. “Iya,” sahut Seira. “Ya udah. Telepon rumah sana. Bilang pulangnya agak telat, jalanan macet.” “Lah, kamu kira aku anak kecil. Telat dikit lapor-lapor.” “Saya kasih tahu baik-baik malah membantah.” Ugh. Seira tak bisa membalas. Nyatanya dia memang selalu dianggap anak kecil. Apa-apa mau disuruh. Sedikit-sedikit kena omel. Bicara soal diomeli ... Seira jadi takut. Perban itu terlalu mencolok dan obat antiseptik yang dioleskan oleh Elard baunya tajam sekali. Mau ditutupi dengan jaket juga pasti ketahuan. “Aku nggak berani pulang,” kata Seira lagi. Nanti diomeli tiga jam, sambungnya dalam hati. Mendadak Elard jadi cemas. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, khawatir luka itu didapat dari kekerasan rumah tangga. Makanya Seira tak berani pulang dan berbohong lukanya didapat karena terjatuh. “Kenapa?” Sebagai orang dewasa yang peduli pada anak teman mamanya, Elard mencoba untuk peka. Dia bertanya dengan nada lembut. Berharap Seira mau terbuka sedikit padanya. Kenyataannya, Seira bahkan tak sadar Elard salah paham. Dia sibuk menatap ke jendela dari tadi. Aroma dari gerobak martabak di tepi jalan telah menyita seluruh perhatiannya. Perut yang mulai demo membuat otak agak lambat bekerja.  “Seira, saya tanya sama kamu!” “Eh, apa?” Seira jadi terkaget. Heran kenapa tiba-tiba saja Elard mengguncang bahunya. Tampang kebingungan itu membuat Elard jadi makin cemas. “Kalau nggak mau pulang, kamu mau diantarkan ke mana?” Setidaknya, Elard ingin memastikan tujuan Seira. Nanti baru lapor mamanya dia mengantarkan Seira dengan aman ke tempat tujuan. Padahal Marisa saja tak tahu apa-apa, tak ada rencana mempertemukan mereka kembali secepat ini. Seira garuk-garuk kepala. Dia nggak ada tujuan. Tadi bilang nggak mau pulang hanya keceplosan saja. Akhirnya dia tetap bakal pulang sih ... paling siapkan telinga saat diomeli nanti. “Teman-teman lagi pada stres nggak menerima tukang inap.” Terjemahannya, teman-teman Seira sama payahnya dengan dia dalam belajar. Sesama penjuang skripsi kritis berat. Jadi dalam masa-masa begitu, menolak acara menginap dalam bentuk apa pun demi menghindari lupa waktu dan bertingkah nggak jelas. Namun, hasil sortir otak Elard berbeda. Dia pikir Seira tak punya teman yang bisa diandalkan saat dalam masalah. Biasanya Elard bersikap dingin, tapi akhirnya dia selalu tidak tegaan. “Ya udah, kamu boleh menginap di tempat saya hari ini. Tapi ingat! Besok pulang ke rumah, bicara baik-baik sama orang rumah.” Dengan penuh mengertian dia menawarkan tempat bermalam. Tidak ada niat buruk sama sekali, hanya rasa kasihan pada kenalan. “Wuaaa! Elard baik deh!” Seira tak tanggap sama sekali. Dia ikut saja karena kepo. Dari dulu ingin tahu rumah dokter itu seperti apa. Apa betul putih semua perabotnya seperti isu-isu tak jelas yang dia dengar dari teman ke teman. “Huh! Baru sekarang panggil nama saya.” Melihat betapa cerianya Seira, Elard jadi salah tingkah. Dipuji malah dia malu sendiri, berakhir membalas dengan judes. “Duh, jangan ngambek ah. Kan udah kubilang, panggilan om itu hanya bercanda. Aku panggil Elard terus kok nanti.” Seira tak ambil hati. Cewek kelewatan positif itu berpikir mereka sudah berteman sekarang. Soal rencana perjodohan tak jelas itu mah tak penting. Toh mereka sama-sama tidak berminat kok. “Ingat kata-katamu. Jangan kurang ajar lagi.” Seira senyum saja dibalas begitu oleh Elard. Dia sudah lega mobil sudah bisa jalan. Dan ternyata, rumah Elard berupa apartemen tak jauh dari rumah sakit. Mereka sampai dalam satu jam. Seira dengan tak tahu malunya langsung berlari masuk ketika dibukakan pintu. Putar-putar badan penuh bersemangat melihat betapa rapi dan bersihnya rumah Elard. Semuanya tertata sempurna. Jauh sekali bila dibandingkan dengan kamarnya yang seperti kapal pecah. “Huaaa! Luas dan bersih! Pajangannya nggak ada debu.” Tak lama dia mulai colek vas bunga, mengoceh tak penting. “Tanganmu kotor, jangan pegang-pegang! Itu tempatnya di sana, jangan digeser juga, jadi berantakan, kan!” Elard geram sendiri melihatnya. Dia paling sensian melihat barang-barangnya diotak-atik. Biarpun hanya digeser satu sentimeter saja. “Masih di atas meja kok!” Bagi Seira tak ada bedanya. Seira berbalik badan mau membela diri, tapi karena Elard yang berada di belakangnya tiba-tiba mendekat, wajah Seira jadi menabrak d**a Elard. “Aw! Jangan gerak tiba-tiba ....” Sekali lagi Seira terpukau. Tepat ketika dia mengangkat kepala, Elard menunduk. Mata mereka bertemu, memaksa untuk saling menatap lebih jelas satu sama lainnya. Tanpa sadar Seira menahan napas. Tajamnya bola mata cokelat terang itu seperti menghipnotisnya. Debaran dadanya sendiri mulai terasa mengganggu. Seakan bisa melompat keluar dari tempatnya. Baru sekarang Seira paham. Kalau Elard adalah seorang pria. Dia terlalu bersemangat dengan rasa penasaran, sampai lupa hal terpenting. Sebagai seorang cewek, tak seharusnya dia begitu ceroboh bersedia menginap di rumah laki-laki yang baru dikenal. “A-aku rasa sebaiknya aku pulang saja.” Akhirnya Seira memutuskan untuk kabur. Jantungnya benar-benar tak kuat menerima situasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Rona wajahnya telah berubah memerah, begitu panas setelah saling tatap cukup lama. “Apa yang kamu – huaaa!” Elard terjatuh. Dia tadinya mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba karena Seira berkata aneh. Namun, karena pergerakan itu pula, Seira jadi panik sendiri dan mencoba menerjang Elard untuk kabur. Alhasil, bukannya berhasil menyingkirkan Elard ... Seira malah tak sengaja menendang kaki Elard hingga cowok itu kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh menindihnya. Prang! Vas bunga itu terguling, jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Sementara meja itu telah menjadi alas bagi mereka berdua. “Kamu ngapain sih sebenarnya?” Elard mau mengomeli Seira, tapi ketika dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Seira ... Elard menemukan reaksi tak terduga. Akhirnya, Elard melihat sisi wanita Seira. Kulit yang halus, leher yang indah, bibir mungil yang ranum. Juga panas tubuhnya yang terasa kuat dalam jarak begitu dekat. Namun, yang paling mencolok adalah reaksi Seira. Betapa panasnya cara cewek itu menatapnya. Tanpa sadar Elard menelan ludah. Gejolak gairah membakarnya, membuatnya begitu ingin menyentuh gadis di depannya saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN