Emma menatap wajah khawatir Tian yang kini menggendongnya. Kali ini ia tidak bisa mendebat suaminya untuk tidak ke rumah sakit karena ia merasa cukup kesakitan. Lututnya juga terluka dan membuat celana jeans yang dipakainya robek pada bagian lutut. Sedangkan motor milik Tian tadi sudah diamankan oleh Haris. “Maaf ya… Motor kamu jadi rusak.” ucap Emma dengan menyesal. Ia bisa melihat mimik wajah kesal dari sang suami. “Perut kamu nggak sakit kan?” “Nggak… Badan aku aja yang rasanya nyeri. Lengan sama paha aku.” “Tolonglah, Emma… Bisa nggak sih kamu duduk manis aja dalam kamar. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa telepon aku, Haris, atau Fitri yang ada di depan kamu. Kenapa sih kamu selalu aja punya gebrakan baru setiap harinya…” ucap Tian sambil mendudukkan Emma pada mobilnya yang tad

