33. Pintu Menuju Kaburu

1177 Kata

Aku dan Jayen berjalan perlahan menyusuri lorong dengan bantuan obor. Bila ada obor di sini, artinya jalan ini terbiasa dilalui manusia. Dalam hatiku bersyukur, karena kami  berdua tidak jatuh ke tumpukan tulang manusia, yang menandakan bahwa lubang yang membuat kami jatuh ke sini adalah lobang kematian. Aku berjalan di belakang Jayen, dengan irama langkah mengikut Jayen. Kadang Jayen berhenti untuk memastikan bahwa di depan tidak ada hewan yang membahayakan. Karena cahaya dari obor ini tidak bisa menerangi sampai sepuluh meter ke depan. “Kau bisa melihat dalam gelap?” tanya Jayen saat berhenti untuk ketiga kali, karena ada batu yang lumayan besar menghalangi jalan. “Tidak bisa. Harus ada cahaya.” Jayen mendengus. “Kurasa kau bisa melakukannya, tinggal tembakkan saja laser dari matamu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN