6. Memory Christoff

1547 Kata
“Kau tahu tidak? Sebenarnya serangga ini tidak mati?” Aku heran dengan perkataan mertuaku. Bagaimana mungkin serangga-serangga dalam pigura ini tidak mati. Sudah jelas mereka semua kaku, tak bergerak dan tak bisa kurasakan hangat badannya ketika aku menyentuhnya satu per satu. Alia mengoleksi serangga-serangga itu dan diletakkan di sebuah pigura. “Kenapa mereka semua kaku?” tanyaku, lalu menutup kotak warisan Alia. Aku tidak suka serangga, jadi kemungkinan aku hanya akan menyimpannya dalam kotak. Tidak akan menggantung pigura-pigura ini untuk memenuhi dinding kamarku. “Alia punya ramuan khusus untuk membuat mereka berhibernasi. Tidur dalam jangka waktu yang lama. Pigura itu membuat tubuh mereka menjadi awet, karena ada sensor pengaturan suhu dan kelembaban.” Kulihat mimik Chistoff bercahaya. Dia sangat bangga pada Alia. Tentu saja, siapa yang tidak bangga pada Alia. Dia adalah wanita dengan jenjang karir tercepat di kesatuan. Tidak hanya karena dia jenius di bidang botani, dia juga piawai menjalankan alat-alat dalam Frontier. Sepertinya, isi kepalanya adalah semua memory komputer mengenai panduan manual berbagai mesin dalam Frontier. “Ayah benar, Alia selalu salah memilih jurusan,” ucapku kemudian. “Dia ahli botani, tapi pecinta serangga. Dia juga pakar mesin di Frontier. Bila ada mesin rusak, maka yang pertama dipanggil pasti Alia.” Christoff terkekeh. Dia mendekatiku lalu menempelkan kedua tangannya di pipiku. “Tapi dia tidak salah memilihmu. Jika Malik mengenalmu, dia pasti akan menjadi sahabat baikmu.” Lagi, aku mengalami kejadian itu. Semua ingatan dalam kepala mertuaku, bisa aku baca dengan cepat dan malah menjadi ingatanku dalam hitungan detik. Aku tak lagi mendengar apa yang diucapkannya, karena kepalaku diserbu ribuan gambar dan kalimat-kalimat. “Arrrghh!”  Aku merasa kepalaku menjadi sangat berat dan sakit. Christoff terkejut bukan kepalang ketika aku mengerang lalu membanting kepala di bantal. “Cherrrry!” teriak Chistoff panik. Dia beberapa kali berkunjung ke rumahku, tentu saja dia tahu harus bagaimana bila sesuatu terjadi padaku.  Christoff hanya membantu meluruskan kepala dengan kakiku di tempat tidur. Cherry masuk dan kurasakan aroma kepanikan di dalam kamarku. “Kenapa dia Tuan Crown?” Cherry langsung memeriksa kaki dan tanganku, menekan beberapa titik refleksi. Lalu memijit kedua alisku. Aku merasa rasa berat dan sakit itu mulai berkurang. Tiba-tiba aku menikmati rasa sakit ini, karena sejurus setelahnya aku melihat wajah Alia dalam ingatanku. Tidak, ini ingatan mertuaku. Wajah Alia dalam memory-nya, berupa Alia dari kecil hingga dewasa. Bahkan ingatan di hari pernikahanku itu begitu jelas seolah terjadi di depan mataku. “Alia …” Kurasa aku mendesiskan namanya berulang. “Dia pasti teringat istrinya saat bersama anda Tuan Crown dan itu menyiksa batinnya sangat dalam.” Cristoff menggeleng. “Aku yanga menyentuh pipinya, Cherry. Hanya itu. Lalu dia berteriak kesakitan.” Cherry mulai mengoleskan krim dingin di sekeliling kelopak mataku. Rasanya sungguh nikmat. *** Alia merajuk. Dia melempar tasnya ke atas meja, membuka lemari es dengan marah, dan meneguk s**u langsung dari kotak s**u. "Alia …," tegur ibu yang sedang menyusui adik Alia di ruang tengah. Ayah duduk di sebelah ibu, sedang membaca buku di ruang tengah. Dari balik bukunya, dia bisa melihat tingkah Alia, masuk rumah tanpa mengucap apapun. Dan sepertinya dia menandaskan s**u di kotak s**u. Alia tidak menjawab. Dia mengusap bekas s**u di mulutnya. Menutup kulkas, lalu menuju ayah dan ibunya. Wajahnya tampak begitu kesal. "Kalau minum s**u pakai gelas," nasehat Ibu. Alia tidak menjawab. Dia melirik Android ayahnya yang tergeletak di sebelah ayah. Kali ini ayah tidak asyik mengelus-elus Androidnya, dia sibuk membaca buku barunya. Buku hidroponik yang dia dapat dari pertemuan Rockwool. Pertemuan para pejuang hidroponik, begitu kata ayah. "Ayah, apa asyiknya bermain Android?" tanya Alia, menarik ujung baju ayahnya, meminta perhatian. Ayah masih meneruskan satu paragraf, Alia kembali menarik ujung bajunya. Anak itu sedang kesal, dan dia meminta perhatian. Setelah menandai halaman di bukunya, ayah meletakkan buku tebal itu di pangkuannya, lalu mengambil androidnya. "Ini? Ini bukan mainan." Ucap Ayah. "Tapi semua temanku main itu. Mereka mengajak aku main di rumahnya. Aku sudah bawa sepeda, bawa lompat tali, tapi mereka semua asyik dengan itu semua. Mereka tidak peduli padaku." Ibu dan ayah tersenyum. "Alia sendiri kalau main di kebun, juga tidak peduli pada yang lain." "Itu kalau aku main sendiri. Kalau ada temanku, semua aku ajak main. Aku bilang kalau menangkap belalang itu seru. Mengejar kupu-kupu apalagi. Mengumpulkan ulat itu asyik dan membuat tangan geli. Dan daun-daun tomat itu, lembut. Tapi, mereka tidak suka kalau kuajak ke kebun. Padahal, sudah aku tunjukkan biji-biji yang tumbuh. " "Tentu saja mereka tidak suka, " sahut ibu. Ayah menepuk tangan ibu perlahan, memberi tanda bahwa ini saatnya ayah bicara. Ibu tersenyum. Alia tentu saja berbeda dengan teman lainnya, karena dia tidak boleh mengenal Android sebelum dia 17 tahun. Di usianya yang 9 tahun, teman-temannya sudah memiliki android semua. Mereka tidak lagi mengenal apa itu bermain lompat tali atau menangkap belalang dan kupu-kupu. Sedangkan Alia, ayah selalu melibatkannya mengurus kebun hidroponik mereka. Meski, dia lebih banyak bermainnya. Di rumah mereka juga tidak ada televise. Mereka tidak ingin, pikiran Alia teracuni oleh isu besar yang sekarang melanda seluruh dunia. Yaitu keinginan para ilmuwan dan pemerintah akan kehidupan di luar bumi. Semua orang sedang bermimpi ke Mars. Alia, dididik untuk hanya mengenal bumi, tanaman, binatang, dan keindahan kebun hidroponik mereka. Itulah kehidupan Alia. Meski di sekolah dia mendapat banyak informasi tentang impian menujua Mars, tapi di rumah dia mendapatkan kehangatan tentang kehidupan Bumi. "Ayah akan memberitahumu. Kamu perlu tahu, tapi belum saatnya memiliki. Alia paham kan?" Alia mengangguk. Alia lalu duduk di samping ayahnya. Ayah melingkarkan tangannya di bahu Alia, lalu memulai membuka androidnya. "Ini hanya telepon biasa, Alia. Bagi sebagian orang. Bagi sebagian orang lainnya, ini luar biasa." "Apanya yang luar biasa, hanya kotak seperti itu?" "Dengarkan dulu sayang, kamu akan tahu bagian ajaibnya. LIhat ini, ayah tunjukkan. Bila kamu hendak menelpon ayah, kamu tinggal tekan tombol seperti gambar telepon ini. Lalu, cari nama ayah. Ini. Tinggal tekan, maka kamu bisa menelpon ayah. Tidak perlu lagi pakai telpon yang di rumah, Terus di sini ada kalkulator. Ini, kamu lihat ada tombol bergambar tanda matematika +, -, : dan x. Kamu tidak perlu lagi menghitung pakai tangan, atau menghitung di kertas, atau memakai kalkulator. Di sini juga ada jam. Lihat. Jamnya bulat seperti di dinding dan bisa juga dirubah menjadi angka. Kamu lihat, sekarang jam 16.15. Jadi, kita tidak perlu lihat jam lagi." Alia tidak berkomentar. Matanya membulat menatap layar android ayahnya. "Terus, kamu juga bisa belanja di sini. Lihat, tinggal tekan gambar ini. Kamu bisa melihat daftar barang yang dijual. Kamu tinggal pesan dan akan ada orang yang mengantar ke sini, kita tinggal bayar. Tidak perlu lagi naik sepeda ke toko." "Seperti waktu ayah beli rockwool dan pupuk itu?" "Iya, kau lihat kan. Ayah tidak keluar. Hanya berada di rumah. Dan barangnya datang." Alia mengangguk. "Terus, ini ada lagi. Lihat." Ayah mengarahkan android ke ibu dan terdengar suara, "Lihat, ayah mengambil gambar ibu dan adik. Ini juga bisa dibuat sebagai foto. Kita tidak perlu lagi pergi ke studio foto untuk foto, seperti waktu kita foto bersama. Dan, ayah memfoto tomat kita, mengirim ke teman-teman ayah. Karena itu, mereka jadi tahu kalau tomat kita siap panen. Mereka kemudian membeli tomat dengan memesan lebih dulu. Dan kita yang mengantar ke rumahnya." "Jadi, kalau pakai Android, kita tidak perlu keluar rumah?" Ayah dan ibu saling berpandangan. "Ya, itulah sebabnya beberapa orang menjadi malas. Seharusnya tidak boleh begitu. Kita punya dua kaki, maka kita harus sering berjalan." Alia menyentuh layar android lagi, "Apa lagi?" "Kita juga bisa membaca berita dari mana saja. Lihat ini, ada berita tentang hujan yang lama tidak turun. Juga tentang orang yang meninggal kedinginan di kutub utara. Semua berita dari penjuru dunia bisa kita baca di sini. Dan juga, lihat ini semua tentang hidroponik. Lengkap." "Kalau semua lengkap di sini, kenapa ayah membeli buku?" "Ayah suka membalik halaman buku, dan mencium bau kertasnya." Ucap ayah, "Sama dengan kamu, lebih suka bermain dengan daun daripada melihat gambar daun di sini kan?" Alia mengangguk-angguk. Di benda bernama Android itu, Alia tidak bisa merasakan gelinya bulu-bulu daun tomat ketika menyentuhnya. Tentu saja karena itu foto. "Kamu juga bisa mereka suaramu di sini, dan mendengarkannya kapan saja. Cobalah." Ayah menekan sebuah tombol. "Aku sayang Ayah, Ibu dan Malik, " ucap Alia ketika ayah mendekatkan android itu ke bibirnya. Ayah dan ibu tersenyum senang. Ayah menekan tombol, lalu terdengar suara Alia. "Aku sayang Ayah, Ibu dan Malik." "Aku sayang Ayah, Ibu dan Malik." "Aku sayang Ayah, Ibu dan Malik." Alia tertawa senang. "Lalu, yang dilihat teman-temanku itu apa? Pantas saja mereka asyik, tidak peduli padaku. Ternyata di situ ada semua. Mereka bilang main." "Mereka bermain game, sayang. Dan itu menghabiskan banyak waktu mereka. Mereka kesulitan untuk berhenti, karena kecanduan." "Kecanduan?" "Ya, mereka menjadi kecanduan Android. Tidak lagi peduli pada teman, asyik dengan dunianya sendiri, sangat tergantung pada Android. Seharusnya, kita yang memakai android tidak seperti itu. Bukan adroid yang menguasai kita, tapi kita yang menguasai android. Kita harus menggunakannya untuk membantu semua tugas kita." "Dan, itu membuat kita tidak keluar rumah?" Ayah dan ibu tersenyum. Bagi mereka, cukup memberi sedikit gambaran saja pada Alia, bahwa dunia digital tak seindah yang dibahasakan di media, yang dicandui teman-temannya. Bahwa, keindahan sebenarnya itu adalah berpijak di Bumi dan membiarkan mata menikmati semua ciptaanNya. Bagi Alia, cukuplah semua penjelasan ayah dan ibunya. Dia lebih suka mengejar kupu-kupu dan mencari kalajengking di kebun android.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN