8. Menikahlah Denganku

1199 Kata
Seharian Cherry berusaha membujukku, bahwa aku harus melapor pada Profesor Nomad terkait cahaya biru yang kulihat. Cherry khawatir bahwa batu Phosperium itu suatu ketika akan menyakitiku dan membuat segalanya menjadi lebih buruk. “Tuan Eran, please dengarkan saya, sebagai orang yang sudah melakukan terapi selama ini. Saya yang paling mengetahui kondisi kesehatan anda. Semua rekam medis anda selama ini, hanya saya yang paham. Kesatuan telah mengganti dokter berkali-kali, tapi semua hasilnya dalam analisa saya. Jadi, tolong dengarkan saya, meski saya bukan orang paling pintar di Kesatuan.” Aku menatap Cherry saat dia memegang lenganku begitu kuat, tidak lagi lembut seperti biasanya. Aku tahu, dia bersikeras membawaku pada Profesor Nomad karena dia tidak ingin batu ini melukaiku lebih buruk lagi. Masalahnya, mataku sudah mulai terbiasa dengan kedua bola mata hitam pekat ini. Bahkan rongga mata dan kelopak mataku tidak lagi merasa keberadaan batu ini sebagai ganjalan. “Kau benar. Tapi aku tidak ingin membuat semua orang dalam kesulitan karena aku.” Cherry menggeleng kuat. “Jangan berpikiran seperti itu, Tuan. Anda adalah aset berharga Kesatuan. Anda pikir Entity Core itu hanya main-main? Kesatuan tidak ingin kehilangan anda dengan terjebak terus dalam rumah seperti sekarang. Dan saya adalah orang yang bertanggungjawab membuat anda kembali ke Kesatuan, bagaimanapun kondisinya.” “Dengan kebutaanku?” “Ya,” sahut Cherry tegas. “Saat Nyonya Alia memilih saya atas rekomendasi Kesatuan, saya menandatangani sebuah perjanjian. Bahwa saya harus membuat anda terbiasa dengan kegelapan namun dapat melakukan banyak hal. Di Kesatuan.” Aku mendengus. Kalimat itu terdengar sebagai intimidasi apa penghinaan, aku tidak dapat membedakannya. Namun terselip sedikit rasa haru, bahwa pradugaku selama ini ternyata salah. Cherry dikirim untuk tugas berat. Memperbaiki fungsi tubuhku menjadi normal, juga memperbaiki mentalku. Jujur, bersama Cherry, aku menjadi percaya diri. Meski rasa itu kadang menyurut bila Jayen datang membawa perkembangan berita Frontier XI. Namun melihat wanita ini bertahan di sebelahku selama lima puluh lunar, pasti hatinya terbuat dari pualam yang tak akan bisa retak meski dihantam godam berkali-kali. “Bagaimana bila kamu gagal?” “Saya tidak gagal. Anda sudah bisa berjalan dan pikiran anda sudah waras.” Aku menyeringai dan membeliakkan kelopak mataku. Semoga Cherry ketakutan melihatku. Namun ternyata, perlahan dia menyentuh kedua pipiku. “Aku tidak takut pada anda, Tuan. Meski kedua bola mata itu berwarna merah. Yang jelas, kita harus segera ke laboratorium dan Profesor Nomad akan menyelidikinya.” Selama Cherry berbicara, aku sama sekali tidak mendengarnya. Untuk ketiga kalinya, transfer ingatan itu terjadi. Semua ingatan Cherry masuk ke dalam kepalaku. Nyeri yang sangat hebat, namun aku mulai terbiasa untuk menahannya. Semua gambar yang berada di memory Cherry menyerbu masuk dalam kepalaku. Aku bisa melihat bagaimana dia menatap wajahnya. Dia menunggui aku berganti baju, bahkan ada ingatan saat dia memandikanku dan aku berteriak histeris mengusir dan menendang ke sana ke mari. Namun dengan sabar, dia mengelus punggungku, tanganku, kakiku. Bahkan dia rutin memijit pelipisku untuk menstimulasi indera penglihatanku. “Cherry …” bisikku sembari menunduk, berusaha untuk tidak mengaduh. Cherry seperti tersentak, lalu menarik kedua tangannya dari pipiku. “Ma-maafkan aku, Tuan.” Dia merasa bersalah karena menyentuhku di bagian tubuhku yang tidak seperti biasanya. Aku mendongak dan mendapati dia membekap mulut lalu beringsut menjauh. Aku yakin, dia salah tingkah atau gugup. Gerakan tubuhnya menunjukkan hal itu, dan aku merasakannya. “Maukah kau berjanji padaku?” “Ap-apa itu, Tuan?” Aku meraih kedua tangannya dan menggenggam erat. Tangan ini begitu dingin dan gemetar. Perlahan aku menyadari bahwa kini, hubunganku dengan Cherry bukan lagi seperti kemarin saat aku tidak bisa melihat apapun selain kegelapan. Getaran tangannya sungguh berbeda, ketika dia mengetahui kalau aku bisa melihatnya, meski hanya berupa cahaya biru. “Apapun yang terjadi padaku, tetaplah bersamaku.” Cherry perlahan menarik tangannya. “Bila semua ini sudah jelas, maka saya harus kembali ke Kesatuan, Tuan.” “Tidak!” seruku lalu menarik Cherry dalam dekapanku. Dia tidak meronta ketika aku memeluknya erat dan membenamkan wajahku di rambut berombaknya. Aroma yang sangat aku kenal menguar lembut dari rambut dan badannya, aroma yang selalu membuatku nyaman karena mengetahui dia ada di dekatku. “Cherry …” Aku berbisik di telinganya, bahkan aku sendiri nyaris tidak mendengar suaraku sendiri. Bayangan Alia berkelebat, namun logikaku berusaha kutegakkan. Alia sudah mati. Dan batu pemberiannya ini telah membuat aku bangkit lagi. Maka aku harus memenuhi harapan mendiang istriku, melanjutkan hidup dengan batu Phosperium. Dan untuk itu semua, aku hanya membutuhkan Cherry yang selama ini berada di sisiku. “Maukah kau menikah denganku?” Rasanya suaraku begitu parau. Namun balasan pelukan Cherry dengan tangan gemetarnya di punggungku membuat sepasang mataku berdenyut, hingga ke jantungku. Aku merasa ada yang menyatu dalam diriku. *** Profesor Nomad menatapku dan Cherry bergantian. Dia pasti heran melihat aku dan Cherry sejak tadi saling menggenggam tangan. Semua orang di Kesatuan tahu bahwa selama ini Cherry adalah terapis paling sabar yang sanggup bertahan bersama orang egois seperti aku. Maka melihat kedua tangan kami bertaut sejak memasuki Laboratoirum dan menaiki lantai dua, semua orang memandang aneh. Membuat Cherry tak sanggup mengangkat muka. Sepertinya aku harus menjelaskan situasinya, agar Cherry tidak merasa canggung. “Kami akan menikah, Prof.” “Ouh,” ucap Profesor Nomad dan wajahnya tampak mengembang senyum lega. “Aku sudah menduga hal itu sejak awal. Semua orang di Lab juga.” “Kalian menuduhku mencurangi Alia?” tanyaku, entah kenapa tiba-tiba merasa tersinggung. “Aku melamarnya tadi pagi, sebelum ke sini.” Cherry mengetatkan genggamannya, meminta aku tidak tersulut emosi yang tidak berfaedah. Aku pun menunduk dan menghela napas. “Tentu saja tidak demikian, Kapten. Kenapa kamu selalu sensitif,” tukas Profesor. “Kami hanya mendoakan yang terbaik bagiku. Jika Tuhan mengabulkan dengan cara mengambil Alia, itu sudah kehendakNya. Dan kita hanya bisa mensyukuri apa yang sudah terjadi.” Aku lebih baik memilih diam bila menghadapi lelaki tua yang religious ini. Percuma berbantah argumen, dia lebih berumur dan tentunya lebih berpengalaman. “Baiklah, apa tujuan kedatangan kalian ke sini … untuk mengumumkan hubungan kalian?” “Itu yang pertama,” ucapku sembari menoleh ke arah Cherry, dan gadisku itu hanya menunduk dalam. “Aku ingin Profesor meneliti batu Phosperium dalam mataku ini. Bila ternyata nantinya berakibat buruk padaku, tolong keluarkan.” Profesor Nomad menggeleng. “Aku tahu pada akhirnya kau akan ke sini mengatakan itu. Apakah batu itu menyakitimu?” Aku menggeleng. “Tidak. Sebenarnya, aku merasa batu ini semakin menyatu denganku. Namun Cherry merasa khawatir suatu ketika akan berakibat buruk padaku.” “Cherry benar,” sahut Profesor lalu mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya. Aku tidak bisa melihat benda apa yang dipegangnya, hanya kulihat gerakan tangan Profesor seperti sedang memainkannya. Lalu sejurus kemudian terdengar suara rekaman. Suara Profesor sendiri. Dia memang selalu merekam hasil penelitian medisku, agar aku bisa mendengarnya. Namun sebenarnya, rekaman itu berupa video, hanya saja dia sengaja mengisinya dengan suara sendiri. “Batu itu memang sudah menyatu denganmu, Kapten. Dia berakar dan setiap akarnya sudah mulai menyatu dengan syaraf di kepalamu. Aku tidak tahu kenapa bisa secepat itu sebagaimana aku tidak kenapa dia bisa seperti itu.” “Maksudnya?” Aku tidak mengerti kalimat itu, seperti bukan bahasa seorang ilmuwan. “Batu itu tidak akan bisa dikeluarkan dari rongga mata Kapten. Dia sudah menjadi bola mata anda, Kapten.” Aku mendengar suara Cherry terperangah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN