37. Ramalan Arool

1147 Kata

Aku akan memecat Jayen. Kurasa sahabat dan anak buah setiaku itu bisa membaca kata-kataku dari sorot mataku. Tapi aku lupa, bahwa mataku tidak seperti mata mereka yang bisa menyiratkan emosi dari dalam hati. Mataku hanya bola mata hitam masif. “Kenapa matamu jadi biru?” tanya Jayen. “Kau mau membunuhku dengan lasermu, kan?” “Aku akan memecatmu, karena kau kurang ajar pada Kaptenmu!” Arool di sebelahku mengembang senyum. Dia menidurkan aku di tempat tidurnya berupa batu datar beralaskan anyaman kulit kayu dan lapisan jerami. “Setidaknya aku tahu bagaimana caranya biar kamu tidak membelahku,” bantah Jayen. “Disiram air, seperti anak bujang yang tidak mau bangun padahal hari sudah siang.” Aku berusaha duduk. Sepertinya Jayen benar, bahwa dia telah menemukan teknik untuk mengatasi mataku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN