Semalaman sudah Tasya menangis tanpa sebab, air matanya terbuang sia-sia. Bahkan saat ini badan dia demam, tapi karena ada meeting evakuasi bulanan, Tasya tidak bisa mengambil cuti. Tasya datang ke kantor dengan wajah kucel, mata sembab dan bengkak akibat menangis. Demam yang dia rasakan mungkin masih bisa di lawan oleh dirinya sendiri, tapi raut wajah tidak bisa di sembunyikan dari siapa pun. Termasuk Gia. “Kamu sakit?” tanya Gia yang baru pertama itu menyapa gadis yang awal berjumpa memberikan kesan yang kurang menyenangkan. “Bu Giaaaaa, Tasya patah hati…. tapi yang lain hanya menertawakan ku. Kenapa Bu Gia baik banget sama aku? Aku jadi ingin menikah sama Bu Gia saja. Laki-laki memang sangat kejaaaam huhuhuhu. Aku bahkan belum sampai mengatakan apa uang aku rasa, kenal saj

