BAB 1: DIA DEI GADIS TEH

956 Kata
SELAMAT MEMBACA  ***  "Pewaris tunggal Sanjaya group, Sonia sanjaya di kabarkan meninggal dunia pagi tadi, di duga overdosis penggunaan obat- obat terlarang." Seorang gadis cantik, yang tengah duduk didepan sebuah televisi yang menyiarkan tentang putri seorang konglomerat yang meninggal dunia akibat overdosis obat- obatan terlarang, dia adalah Deidamia atau yang biasa di panggil Dei. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun meliaht berita itu, namun tidak ada yang tau apa yang hatinya rasakan. Entah duka ataupun bahagia yang jelas tidak akan pernah ada yang akan mengetahuinya. "Deiii," panggilan seseorang dari dapur membuayarakan lamunan Dei. "Iya Bude…" Mendengar panggilan Bude nya. Dei langsung bergegas ke dapur. "Ada apa Bude?" Dei melihat bude nya sedang membuat minuman didapur. Sari perempuan yang di panggil bude oleh Dei, sosok perempuan yang lembut dan keibuan namun sayang tuhan tidak menitipkan seorang anak untuk lahir dari rahimnya, akhirnya dengan senang hati Sari dan Amir suaminya merawat Dei yang merupakan anak dari mendiang adik Tari yang telah lama meninggal dunia sejak Dei masih kecil. "Dei sudah sudah tau kalau ..." belum selesai Tari bicara, Dei sudah memotongnya. "Sudah Bude." "Dei tidak ingin pergi?" Hanya gelengan yang Sari dapatkan, selanjutnya Sari tidak lagi bertanya. "Dei mau kekebun Bude, kemarin kata juragan teh yang ada di sebelah barat bisa mulai di panen," Dei berjalan kesamping rumah, mengambil peralatan berkebunnya. "Nanti Bude sama Pakdemu menyusul, Bude mau cuci baju dulu." "Iya Bude, Dei berangkat. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Sari menatap kepergian keponakannya dengan wajah  sedih, mengingat perjalanan hidup keponakannya yang sangat menyedihkan membuat Sari lagi- lagi meneteskan air matanya. "Sudah Buk. Jangan di tangisi, nanti Dei sedih," tiba - tiba Amir sudah berdiri di belakang Sari.  Sari hanya bisa mengangguk, mendengar ucapan suaminya. **** Dei sampai di kebun teh tempatnya bekerja namun belum banyak pekerja yang datang karena hari masih tergolong pagi. Dei, Sari dan Amin menggantungkan hidupnya dengan bekerja di kebun teh yang amat luas di desa mereka tinggal. Tidak seperti teman – teman sebayanya yang pergi merantau ke kota untuk mencari kerja ataupun menikah, Dei lebih suka menikmati hidupnya seperti ini menjadi pemetik teh di kebun orang yang di bayar setiap minggu dan akan habis untuk mencukupi kebutuhan hariannya meski dengan begitu Dei merasakan kenyaman dan ketenangan hati. Cukup hidup di desa dengan tanpa gangguan menurutnya sudah cukup. "Selamat pagi Juragan," Dei menyapa juragan perkebunan yang kebetulan pagi ini datang untuk mengawasi pemanenan daun teh.  "Pagi Nak Dei yang cantik, kenapa pagi sekali datangnya?" jawab Juragan Karno, pemilik kebun teh tempat Dei bekerja dengan ramahnya.  Jika biasanya juragan perkebunan akan bersikap sombong dan keras, namun Juragan Karno adalah pengecualian. Beliau merupakan sosok yang sangat ramah dan dermawan, makanya para pekerja betah bekerja lama dengannya termasuk Dei dan keluarga. "Iya Juragan, Dei bangunnya kepagian dari pada bingung tidak ada kerjaan Dei langsung kekebun." "Dei Dei, wong kamu ini sarjana kok ya tidak cari kerja ke kota malah di desa kecil seperti ini to Dei," Juragan Karno kerap sekali menawari Dei bekerja ke kota sesuai dengan ijazanya tapi sesering apapun juragan Karno menawari Dei maka sesering itu pun Dei akan menolaknya. "Enak hidup begini Juragan, di kota tidak enak," jawab Dei dengan senyuman manisnya.  "Dei Dei, sayang sekali saya sebentar lagi tidak akan bertemu kamu lagi Dei," kata Juragan Karno dengan pelannya. "Memangnya juragan mau kemana?" tanya Dei dengan penasaran. "Perkebunan ini mau saya jual Dei, saya mau ikut anak saya untuk menetap di Malaysia.  Kan anak saya cuma satu menikah dengan orang Malaysia, dia menetap di sana dan saya akan ikut dengan dia." "Terus kebun teh ini bagaimana Juragan, kami bagaimana?" tanya Dei dengan wajah seriusnya. "Kamu tenang saja Dei, kalian semua tetap akan bekerja di sini, hanya saja dengan pemilik kebun yang baru." "Orang mana yang membeli kebun ini Juragan?" "Dia orang Jakarta, rekan kerja menantu saya." "Syukurlah kalau kami masih tetap bisa bekerja Juragan." "Yasudah Dei, saya jalan- jalan dulu ya Dei. Selamat bekerja." "Iya Juragan silahkan." **** Di tempat yang berbeda dengan pemandangan yang berbeda pula. Pagi – pagi di kediaman Trancargo, sang putra mahkota tidak juga beranjak dari kasurnya membuat sang nyonya rumah sudah bernyanyi pagi – pagi. “Bang kalau kamu masih belum bangun juga, Mami tidak mau tau kalau kamu telat ke kantor,” Rara sudah berulang kali membangunkan putranya, namun yang di bangun kan sama sekali tidak terusik justru semakin nyenyak seperti mendnegar dongeng. “Kalau sampai tiga Mami hitung belum bangun Bang, Mami siram kasurmu Bang.” “Satu…” “Dua …” “Ti…” Dengan perlahan Alvaro yang sejak tadi memancing emosi Maminya pagi – pagi berjalan pelan kearah kamar mandi dengan mata setengah terpejam. “Abang tidak ngantor Mi,” Al berkata dengan nada malasnya sebelum masuk kekamar mandi. “Kalau tidak ke kantor kenapa tidak bilang sih Bang, Mami sampai capek teriak – teriak,” Rara kesal sudah teriak – teriak dari tadi ternyata dia di kerjai oleh putranya. “Tidak masalah Abang kangen marah – marahnya Mami,” teriak Al dari dalam kamar mandi. Setelah mandi Al langsung menuju meja makan, disana sudah ada Rey papinya dan maminya tengah duduk manis siap untuk sarapan. “Jadi pergi kamu Bang hari ini?”  Rey bertanya ketika melihat Al sudah rapi dengan pakaian santainya. “Jadi Pi …” “Memang sudah cocok dengan harganya Bang …” “Cocok Pi, awalnya minta 20 tapi bisa dapat 15 bagus Pi tempatnya.” “Sudah kamu survey Bang, nanti tidak sesuai lagi.” “Hari ini mau survey Pi sekalian bayar uang muka.” “Apa yang kalian bicarakan sejak tadi?” Rara yang tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan anak dan suaminya merasa penasaran. “Abang mau beli kebun teh Mi,” jawab Al. “Untuk apa Bang?” tanya Rara dengan penasaran. “Untuk mengurangi uang Abang Mi,” jawab Al dengan santainya sambil mengoleskan selai ke roti yang ada di tangannya. “Sombong kamu Bang, Papi saja tidak sombong kaya kamu.” Rey menyahut jawaban Al. “Bercanda Pi, habis Mami tanyanya aneh. Punya kebun teh kan bisa buat investasi.” *******BERSAMBUNG *****  WNG, 1 OKT 2020  SALAM E_PRASETYO 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN