My Dog, 10

2469 Kata
Sudah dua hari Alcander tinggal bersama sosok pria yang mengambil alih kepemilikannya dari Ane. Raka nama pria itu. Pria muda yang usianya sekitaran 24 tahun.  Jika dibandingkan dengan Ane yang jorok, pemalas, ceroboh dan terkadang bodoh atau terlalu polos lebih tepatnya, yang sering membuat Alcancer uring-uringan sendiri jika melihat tingkah absurd Ane. Tidak demikian dengan sosok Raka.  Raka dan Alcander dalam wujud manusia bisa dikatakan memiliki beberapa kesamaan. Salah satunya kebiasaan hidup mereka yang mencintai kebersihan. Apartemen Raka yang bersih, rapi dan terawat merupakan tempat impian yang selalu diinginkan Alcander. Seharusnya Alcander senang sekarang, menikmati hidupnya yang memang sesuai dengan gayanya yang perfeksionis untuk urusan kebersihan dan kerapian.  Namun ...  Ternyata tidak demikian yang dirasakan Alcander. Putra mahkota  kerajaan Soungga yang dikutuk menjadi seekor anjing itu tampak tak bahagia hidup bersama pria perfeksionis macam Raka.  Benar Raka merawatnya dengan baik, akan tetapi Alcander yang sudah terbiasa dimanjakan oleh Ane, kini merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Terlebih  Raka yang memiliki karakter tenang, membuat hidup Alcander bagaikan di kuburan alih-alih di dalam surga.  Enggan mengakui, namun jika dilihat dari Alcander yang selalu murung, bisa disimpulkan dia merindukan sosok Ane yang berisik namun penyayang.  Alcander sedang meringkuk di atas sebuah bantal. Ya bantal yang menjadi tempat tidurnya semenjak tinggal bersama Raka. Berbeda dengan Ane yang mengizinkan Alcander tidur dimana pun sesuka hatinya, bahkan tak keberatan tidur di ranjang empuk gadis itu. Raka tidaklah demikian. Pria itu tidak akan segan-segan memarahi Alcander jika dia menginjak kasur atau sofa mahalnya. Alhasil hanya bantal bekas yang dijadikan tempat tidur untuk Alcander.  Jika saat bersama Ane dirinya selalu dimandikan setiap hari, dimanjakan dengan perawatan super rajin gadis itu. Alcander harus menelan kenyataan Raka belum memandikannya selama dua hari sejak mereka tinggal bersama. Padahal Alcander sudah merasa risih dengan tubuh anjingnya, meski tidak kotor sama sekali, dirinya yang pecinta kebersihan selalu ingin dimandikan setiap hari seperti yang selalu dilakukan Ane.  “Ini makan.”  Alcander memicingkan mata pada sebuah wadah kecil yang baru saja diletakan Raka tepat di depannya. Ada makanan khusus anjing yang diletakan di dalam wadah itu. Sebenarnya makanan yang diberikan oleh Raka dan Ane sama persis, tak ada perbedaan. Keduanya sama-sama makanan khusus untuk anjing dengan merk yang sama pula.  Hanya saja ... porsinya itu yang berbeda. Ane selalu memberi makan Alcander dengan porsi besar setiap harinya. Hingga Alcander yang semenjak menjadi anjing berubah menjadi sosok yang rakus itu pun selalu kekenyangan. Hidupnya bahagia.  Akan tetapi, sosok Raka kebalikan dari Ane, lihatlah ... bahkan porsi makanan yang diberikan pria itu tidak sampai setengah porsi yang diberikan Ane. Dengan kata lain, pria bernama Raka ini sangat pelit.  Alcander mendecih dalam hati. Jika boleh jujur, dia ingin kembali pada Ane.  Alcander tak tertarik menyentuh makanan itu. Dia menempelkan kepalanya pada bantal, meringkuk bagaikan anjing sekarat yang siap mati.  Suara dering ponsel yang tiba-tiba terdengar menarik atensi Alcander. Dia mengangkat kepala, memperhatikan gerak-gerik Raka yang sedang duduk di sofa dalam kamarnya, kini mengangkat telepon itu.  “Iya, Ran, kenapa? Tumben lo nelepon?”  Alcander mendengus, tak tertarik mendengarkan obrolan majikan barunya. Lantas dia kembali menidurkan kepalanya pada bantal.  “Temen ultah masa gue gak dateng. Gue pasti dateng dong. Malam ini kan ultah lo? jam tujuh mulai acaranya. Gue masih inget kok, lo tenang aja.”  Alcander masih tak peduli, dia mulai memejamkan mata.  “Males ah gue bareng cowok lo. Gue kan gak deket sama si Edo.”  Dan ketika nama itu disebut, refleks Alcander mendongak. Minatnya untuk mendengarkan pembicaraan Raka mulai naik ke permukaan.  “Ya elah, lo takut banget sih si Edo direbut ... siapa nama cewek culun yang sering lo ceritain?”  “Ah ya, Ane. Gak mungkinlah si Edo kepincut tuh cewek kalau beneran si Ane ini culun kayak yang lo ceritain ke gue.”  Alcander semakin menajamkan telinganya. Dia tak salah menerka, pria bernama Raka ini ternyata memang sedang membicarakan Ane dengan seseorang di seberang telepon. Alcander yang otaknya cerdas dapat mencerna dengan cepat. Dia menebak Raka sedang berbicara dengan gadis yang dia serang dua hari yang lalu, pacar Edo yang berniat jahat pada Ane.  “Ya kan gue belum pernah lihat muka si Ane ini, lo aja gak pernah ngirim fotonya ke gue. Jadi ya gue gak bisa main setuju-setuju aja kalau dia culun. Kecuali kalau gue udah lihat pake mata sendiri.”  Raka tertawa, dia tak sadar si anjing kini berjalan semakin mendekatinya.  “OK deh kalau gitu. Gue bakal puas-puasin lihat muka si Ane ini di pesta lo. Kalau dia cantik, boleh juga tuh gue deketin.”  Entah kenapa Alcander merasa kesal saat mendengar ucapan Raka. Tanpa sadar dia menggeram.  “Ya udah, gue siap-siap dulu deh kalau gitu. Satu jam-an lagi lah gue nyampe di rumah lo. OK, see u.”  Raka beranjak bangun dari sofa setelah sambungan telepon terputus. Dia berniat melangkah pergi namun urung karena melihat anjing yang jadi peliharaannya kini, berdiri tak jauh darinya.  Raka mengangkat tubuh si anjing, meletakannya kembali di atas bantal.  “Nih makan. Lo belum makan kan dari pagi?” Katanya sambil menyodorkan wadah berisi makanan anjing semakin mendekat pada si anjing yang tengah menatap dirinya.  Raka melanjutkan langkahnya yang tertunda. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus bergegas berangkat ke pesta Kiran atau gadis itu akan marah-marah jika dirinya terlambat.   ***    Penampilan Raka sudah sempurna. Setelan jas dan celana berwarna hitam yang jika dilihat dari bahannya yang lembut sudah pasti kualitasnya tidaklah sembarangan. Dirinya sudah bersiap pergi untuk menghadiri pesta bahkan sepatu senada dengan jasnya sudah membungkus telapak kakinya.  Raka menggeram jengkel tatkala langkahnya harus terhenti karena anjing peliharaannya yang terus menggigit dan menarik-narik ujung celananya. Pria itu berdecak, dia mengangkat si anjing agar gigitannya pada celana mahalnya terlepas.  “Tunggu di sini anjing manis. Sana makan kalau lo laper, gue kan udah siapin makanan buat lo,” ucapnya seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk, dia letakan anjing itu di lantai keramiknya yang dingin.  Namun, belum sempat dirinya melangkah, si anjing kembali berlari dan menggigit lagi ujung celananya.  “Duuuh ... kenapa sih ni anjing? Pergi sana!” Raka sedikit menendang tubuh si anjing, tidak juga terlepas gigitannya, dia pun menendangnya lebih kencang hingga anjing mungil itu terpental.  Namun, seolah tak tahu cara untuk menyerah, anjing itu kembali berlari menghadang jalan Raka dan kali ini menggonggong kencang.  “Berisik. Lo maunya apa sih? Baru kali ini gue nemu anjing rese kayak lo. Pantesan cewek yang kemarin itu mau buang lo. Gue buang juga lo lama-lama.”  Guk ... Guk ... Guk  Si anjing menggonggong lebih kencang dibanding sebelumnya.  “Bawa aku ke pesta itu. Aku harus menolong Ane!!”  Yang faktanya kalimat itulah yang sejak tadi diteriakan Alcander. Dia menggigit celana Raka sebagai isyarat bahwa dirinya ingin ikut.  Raka memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut, kesal setengah mati karena anjing itu tak kunjung menghentikan gonggongannya.  “Ck ... bodo amat. Kesel gue sama lo. Gue buang aja deh di jalanan.”  Raka memangku tubuh si anjing, membawanya keluar apartemen bersamanya.  “Nah, diem juga lo sekarang.” Raka menggeleng mendapati si anjing kini diam membisu dalam pelukannya.  Raka sempat berpikir untuk memasukan kembali anjing itu ke dalam apartemennya, tetapi urung mengingat dirinya kini hampir mencapai lift.  “Ck ... ni anjing udah ngerepotin, aneh banget lagi. Baru kali ini nemu anjing kayak lo,” gerutunya dikala menanti pintu lift terbuka.  Ketika pintu lift akhirnya terbuka, Raka masuk ke dalam masih membawa Alcander dalam gendongannya.  Ada beberapa orang yang berada di dalam lift, Raka tidak memperhatikan sekitar. Dia berdiri tak jauh dari pintu, sengaja mengambil jarak dari orang lain agar dirinya menjadi orang yang pertama keluar saat tiba di lantai dasar.  “Raka.”  Pria itu terenyak saat bahunya tiba-tiba ditepuk seseorang dari belakang, terlebih si pelaku memanggil namanya. Refleks dia menoleh, terpaku sepersekian detik saat melihat siapa orang yang menyapa dirinya.  Gadis itu bernama Anisa, rekan kerja Raka di perusahaan tempatnya bekerja sekaligus gadis yang diam-diam diincar oleh Raka.  “Nis ... kamu ngapain di sini?” Tanyanya terheran-heran, pasalnya yang dia tahu tempat tinggal Anisa bukan di apartemen ini.  “Aku baru pindah ke apartemen ini. Baru pindahan hari ini. Baru selesei beres-beres.”  Kedua mata Raka melebar sempurna. Tentu dia senang mendengar kabar baik ini. Mengetahui gadis yang ditaksirnya kini tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya, kesempatan untuk pendekatan semakin terbuka lebar.  “Waah ... kalau tahu kamu pindah ke sini, aku bantuin beres-beres.”  Gadis itu tersenyum manis membuat jantung Raka bertalu-talu tak karuan.  “Kamar apartemen kamu di lantai berapa, Ka?” “Di lantai 21. Kamu?” “Beda satu lantai kamar kita, aku di lantai 22.”  Senyuman di bibir Raka semakin mengembang lebar.  “Eh Ka, itu anjing kamu?”  Anisa menunjuk ke arah anjing dalam pelukan Raka.  Tanpa ragu Raka mengangguk, “Iya, anjing aku ini.” “Lucu banget. Boleh aku gendong gak?” “Oh, boleh dong.”  Dalam sekejap Alcander sudah berpindah tangan, kini dirinya berada dalam pelukan Anisa. Alcander mendengus pelan saat gadis itu mengusap-usap puncak kepalanya lembut. Gadis ini dan Ane tidak ada bedanya bagi Alcander.  Saat tatapan Alcander tertuju pada Raka yang menatap Anisa seolah lupa cara berkedip, Alcander memutar bola matanya malas.  “Dari sekian banyak tempat di bumi, kenapa aku harus terlempar ke tempat ini? dimana-mana hanya orang yang sedang jatuh cinta yang aku temui,” gerutu Alcander dalam hati.  “Ini benar-benar menyebalkan. Ternyata aku memang muak tinggal di sini. Kapan aku bisa kembali ke istanaku?”  “Aku baru tahu kamu penyayang sama binatang. Keren. Anjing ini kelihatannya terawat banget, pasti kamu sayang banget ya sama dia.”  Alcander memutar bola matanya malas mendengar pujian Anisa pada Raka.  “Jangan tertipu mulut manisnya. Pria ini sangat pelit. Jangan mau dengannya,” sahut Alcander, yang tentunya tak dimengerti Anisa.  “Iya, aku sayang banget sama dia,” jawab Raka bohong, padahal beberapa detik yang lalu dia bertekad akan membuang si anjing. “Nenek aku pernah bilang, cowok penyayang binatang pasti hatinya baik.”  Raka memperlebar senyumnya, dia menunduk, wajahnya tampak berseri-seri mendengar sang gadis pujaan hati memujinya.  “Nenek kamu berlebihan kayaknya.” “Tapi aku setuju kok sama pendapat nenek aku. Nanti boleh ya aku main ke apartemen kamu kalau kangen sama anjing kamu ini? Dia lucu banget deh, aku suka.”  Spontan Raka mengangguk-angguk, “Boleh dong pastinya. Maen aja kapan pun kamu mau, pintu apartemen aku selalu terbuka buat kamu.”  “Kamu juga boleh kalau mau mampir ke apartemen aku. Tapi syaratnya harus ngajak anjing ini juga ya.”  Raka mengangkat jempolnya, setuju.  Ketika pintu lift akhirnya terbuka, Anisa mengembalikan si anjing pada Raka.  “Kamu lagi ada acara kayaknya, Ka? Mau ke tempat pesta atau gimana?” “Iya nih, aku mau datang ke pesta ultah temen aku.” “Anjingnya mau kamu ajak ke tempat pesta?”  Raka terdiam, dia melirik si anjing yang kini anteng dalam pelukannya.  “Tuh kan kamu baik banget, ke pesta aja anjingnya diajak. Gak salah berarti yang nenek aku bilang. Cowok penyayang binatang, hatinya emang baik.”  Anisa tersenyum manis saat mengatakan itu, sukses membuat debaran di dalam d**a Raka semakin menjadi.  Dia terkekeh pelan, “Iya, aku mau ajak anjingnya ke pesta. Kasihan ditinggal sendiri di apartemen,” Bohongnya.  Anisa mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar.  “Kamu mau kemana, Nis?” “Nyari makanan.” “Mau aku anter?”  Anisa menggeleng, “Nggak usah, aku nyari makanan di deket sini kok. Gak usah yang jauh-jauh.”  Raka ber-oh pendek, ini kesempatan emas untuk berduaan lebih lama lagi dengan Anisa, namun tak mungkin juga dia memaksa. Akhirnya mereka berpisah di luar gedung apartemen. Anisa yang berjalan menuju restoran terdekat sedangkan Raka yang berjalan ke area parkir untuk mengambil mobilnya.  “Huuh ... tadinya gue mau buang lo ke jalanan. Tapi lo pembawa keberuntungan juga buat gue. Berkat lo gue bisa deket sama Anisa. Dia juga suka sama lo. Ya udah lo bakalan tetep gue pelihara demi Anisa,” kata Raka, kini dirinya sudah masuk ke dalam mobil. Si anjing pun dia dudukkan di samping kursi kemudi.  “Bagiku juga gadis itu pembawa keberuntungan. Berkat dia sekarang aku bisa ikut ke pesta gadis jahat itu.” Alcander mendengus di akhir ucapannya.  Mobil Xenia berwarna hitam itu akhirnya melesat meninggalkan pelataran gedung apartemen, rumah Kiran adalah tujuan mereka.   ***    Raka tak ragu lagi sekarang, anjing putih yang dia pungut dari majikannya yang ingin membuangnya itu memang luar biasa aneh. Seolah tahu Raka berniat meninggalkannya di dalam mobil, anjing itu langsung melompat turun begitu pintu mobil terbuka.  Raka mengejarnya karena si anjing yang berlari cepat memasuki halaman rumah Kiran yang sudah dihias sedemikian rupa. Pesta ulangtahun diadakan di halaman depan rumah Kiran yang luas nan indah. Mengambil tema garden party karena halaman rumahnya memang berupa kebun yang dipenuhi tanaman hijau. Dari rumah Kiran yang megah dan terdiri dari empat lantai, tak diragukan lagi gadis itu memang berasal dari keluarga konglomerat.  “Raka!!”  Raka yang tengah celingukan mencari sosok anjing yang melarikan diri pun seketika menoleh ketika namanya dipanggil. Dia tersenyum mendapati Kiran sedang berjalan ke arahnya.  “Lo telat.”  Raka terkekeh sembari menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Dia telat, tentu saja karena ulah si anjing yang merajuk sejak di apartemen.  “Jalan macet, sorry.”  Kiran mendengus, dia tahu teman semasa kuliahnya itu hanya beralasan.  “Macet atau lo sengaja ditelat-telatin datangnya?” “Nggaklah, serius tadi macet di jalan.”  Kiran mengangkat kedua bahunya, tak ingin berdebat jadi dia memilih percaya saja.  “Eh, Ran, itu muka lo kenapa? Kayak ada luka cakaran gitu?”  Raka menunjuk dengan jari telunjuknya wajah Kiran yang meski disamarkan dengan bedak tebal, tetap saja luka cakaran yang belum benar-benar mengering itu masih terlihat jelas.  Kiran menggeram saat ingatan dua hari yang lalu kembali terngiang di kepalanya, “Gara-gara anjing si culun Ane itu. Dia nyakar gue ampe muka gue ancur kayak gini.”  Raka terkekeh sembari menggeleng, “Benci kali cewek yang namanya Ane itu sama lo makanya pake anjing dia buat nyelakain lo.”  Kiran berdecak, “Bisa jadi. Tapi lihat aja, gue pasti balas dendam sama dia malam ini.”  Raka mengerucutkan bibir dengan kepala terangguk. Hubungannya dengan Kiran memang cukup dekat karena mereka sempat bersahabat baik semasa kuliah dulu. Dan ngomong-ngomong soal anjing, Raka kembali mengedarkan mata untuk mencari anjing nakalnya yang kabur.  “Lo nyari apa sih, Ka?” Tanya Kiran sembari memukul lengan Raka yang celingukan kesana kemari seolah mencari sesuatu.  “Anjing gue.” “Anjing? Lo bawa anjing ke pesta ultah gue?”  Raka cengengesan merasa tak enak hati, “Gue gak niat bawa dia ke sini tapi dia kabur pas gue buka pintu mobil tadi.”  Kiran cemberut dengan mata melotot, tak suka. Menyadari sahabatnya marah, Raka cepat-cepat menenangkan.  “Jangan ngambek gitu dong, Ran. Tenang aja gue jamin anjing gue gak akan mengacau di pesta lo.” “Gue masih trauma sama anjing, tahu gak? awas aja anjing lo bikin pesta gue berantakan.”  Raka menggeleng, “Gak bakalan, tenang aja.”  “Oh ya, mana cewek yang namanya Ane? Gue penasaran pengin lihat seculun apa dia.”  Wajah cemberut Kiran berubah antusias begitu mendengar pertanyaan Raka.  “Sini gue tunjukin, tapi dengan satu syarat.”  Satu alis Raka terangkat naik, “Pake syarat segala. Emang apa syaratnya?”  Melihat seringaian yang tiba-tiba tercetak di sudut bibir Kiran, Raka memicingkan mata. Dia tahu sesuatu yang buruk sedang direncanakan sahabatnya itu.  “Bantu gue ngasih pelajaran sama dia. Gue mau bikin dia malu di pesta ini. Saking malunya ampe dia pikir mati lebih baik daripada tetep hidup.”  Raka melebarkan mata, sebenci itukah Kiran pada gadis bernama Ane ini? diam-diam pria itu bergidik ngeri. Wanita dan sifat cemburu mereka memang mengerikan. Bukankah Kiran jadi sebenci ini pada Ane karena cemburu Edo dekat dengan gadis itu? sedikit banyak Raka tahu kisah percintaan sahabatnya tersebut.  “Ayo, gue bawa lo ketemu sama dia!” “Dia udah ada di sini?”  Kiran mengangguk, “Jadi, lo mau kan ya bantuin gue ngasih dia pelajaran?”  Raka mengangguk, jika itu demi membuat sahabatnya senang, dia akan bergabung. Tapi, jika menurutnya perbuatan Kiran sudah keterlaluan, dia akan berhenti. Tak mau ikut campur.  Mereka pun melangkah melewati beberapa tamu undangan yang sedang bercakap-cakap. Raka sudah tidak sabar ingin melihat wajah gadis bernama Ane, tanpa dia sadari sejak tadi Alcander mengawasinya dari kejauhan.  Jadi, apakah yang akan menimpa Ane malam ini? dan apa yang akan dilakukan Alcander untuk menyelamatkan Ane dari rencana jahat Kiran? Sebentar lagi semua pertanyaan ini akan mendapatkan jawabannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN