My Dog, 06

2010 Kata
Ane meraih jaket kulitnya yang dia gantung di belakang pintu. Cuaca pasti dingin di luar saat malam hari, terlebih mendapati gorden jendelanya bergoyang tertiup angin, Ane menebak di luar pasti angin sedang berhembus kencang.  Dia sudah bertekad akan membawa Dipsy kesayangannya yang bosan di apartemen untuk pergi berjalan-jalan di luar. Dia tak bisa melakukannya di pagi hari karena harus bekerja, jadi malam hari merupakan satu-satunya pilihan yang tepat.  Diraihnya tubuh kecil si anjing yang sudah menanti-nantikan saat ini, si anjing yang tidak lain merupakan Alcander sejak tadi sudah duduk di atas lantai, sudah tak sabar untuk pergi keluar dengan begitu aksi melarikan dirinya bisa dimulai.  “Tumben gak berontak,” ucap Ane, merasa heran karena si anjing terdiam saat dia peluk, tidak seperti biasanya dimana dia akan berontak hebat mencoba melepaskan diri setiap kali Ane memeluknya.  “Tentu saja karena aku baru akan berontak setelah kita tiba di luar,” jawab Alcander.  Tanpa membuang waktu lagi karena waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, Ane pun melenggang meninggalkan apartemennya. Dia memeluk Alcander erat di sepanjang jalan, terlebih saat dirinya memasuki lift dan berpapasan dengan penghuni apartemen yang lain.  “Anjingnya lucu banget.”  Ane yang tengah fokus melihat ke arah atas, pada layar di atas pintu lift yang menunjukan angka lantai yang lift lewati, seketika menoleh ke arah samping kanan, pada seorang gadis remaja yang baru saja memuji Alcander.  “Iya, anjing ini memang lucu,” sahut Ane penuh semangat. Dia memiringkan tubuh agar si gadis bisa lebih jelas melihat anjing peliharaannya.  Gadis itu mengusap-usap puncak kepala Alcander, dia tak tahu bahwa dalam hatinya Alcander tak hentinya menggerutu. Jengkel bukan main karena orang-orang di sekelilingnya memperlakukannya tidak sopan. Hei, tidak lupa kan bahwa dia seorang pangeran yang biasanya dihormati semua orang? Mana ada yang berani mengusap puncak kepalanya seperti ini di dunianya. Hanya tunangan tercinta yang dia cintai sepenuh hati, yang Alcander izinkan melakukan tindakan tak sopan itu.  “Sabar ... sabar ... lihat saja, setelah ini aku akan bebas dari orang-orang barbar ini,” ucap Alcander, menenangkan dirinya sendiri.  “Siapa namanya, Kak?” Tanya si gadis pada Ane yang tersenyum lebar karena senang gadis itu menyukai anjingnya. “Dipsy,” jawab Ane.  Ane mengerutkan dahi saat mendengar suara kekehan dari sang gadis.  “Namanya lucu. Sesuai sama anjingnya,” ujarnya dan Ane kembali tersenyum lebar. Padahal awalnya dia berpikir gadis itu akan mencemooh nama yang diberikannya pada sang anjing kesayangan.  Pintu lift terbuka setelah tiba di lantai dasar. Semua orang yang ada di dalam lift berhamburan keluar, begitu pun dengan Ane.  “Kamar kakak ada di lantai berapa?” Gadis tadi kembali bertanya pada Ane. “Lantai 20. Kamu?” “Aku lantai 22, Kak.”  Ane mengangguk-anggukan kepala, lantas tersentak saat dia mengingat sesuatu. “Kamu kenal yang namanya Edo? Dia juga apartemennya di lantai 22.” “Oh, Kak Edo,” ucap si gadis dan Ane hanya mengangguk. “Iya kenal, apartemen kami sebelahan.”  “Kakak pacarnya Kak Edo?”  Ane menegang di tempat, semburat merah tiba-tiba muncul di pipinya. Namun, ketika dia mengingat status hubungannya dengan Edo, seketika wajahnya tertekuk lesu.  “Dia ini gadis malang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.” Yang mengatakan ini tentu saja adalah Alcander, yang terlihat senang setiap kali menyadari betapa mirisnya nasib seorang Ane.  Ane menggelengkan kepala cepat. “ Bukan kok. Kami cuma temen. Tapi aku pernah beberapa kali main ke apartemen Kak Edo.”  “Ooh gitu. Kapan-kapan kalau main lagi ke apartemen Kak Edo, mampir juga ke apartemenku kak.”  Si gadis menunduk sembari menjewer telinga Alcander, membuat anjing sombong itu menggonggong tak suka dan nyaris menggigit telunjuk si gadis. Untung saja pergerakan tangan Ane lebih cepat, dia menepuk kepala Alcander cukup kencang dengan telapak tangannya membuat anjing itu mencelos diam, tak jadi menggigit.  “Maaf, maaf, jari kamu gak kena gigit, kan?” Tanya Ane histeris, takut anjing kesayangannya menyakiti tetangga yang baru dikenalnya ini.  Si gadis menggelengkan kepala. “Nggak kok, Kak. Jari aku nggak kena gigit,” sahut gadis itu. “Kalau mau mampir ke apartemen aku, ajak juga Dipsy ya, Kak.”  Ane mengangkat jempol tangan kirinya karena tangan kanannya sibuk merangkul tubuh mungil Alcander.  “Nama kamu siapa? Kita belum kenalan, ngomong-ngomong.”  Gadis itu terenyak sebelum dia melemparkan senyum manis pada Ane. “Namaku Ana. Aku tinggal sendiri di apartemen ini karena orangtuaku tinggal di kampung. Aku lagi kuliah di Jakarta.”  Wajah Ane sumringah luar biasa, merasa dia senasib sepenanggungan dengan gadis bernama Ana tersebut. Bukan hanya nasib mereka yang mirip, nama mereka pun mirip.  “Waah, nama kita mirip. Namaku Ane. Aneila sebenarnya, tapi biasa di panggil Ane. Aku juga tinggal sendiri di apartemen ini.” “Senang bisa ketemu Kak Ane. Kapan-kapan aku juga main ke apartemen kakak ya?” “Siip,” sahut Ane antusias, kembali dia angkat satu jempolnya. “Ya udah Kak, aku duluan. Aku ada janji sama temen.”  Ane mengangguk antusias, mengizinkan Ana pergi lebih dulu. Begitu pun dirinya yang mulai melangkah mendekati pintu keluar.  “Eh, tunggu,” gumam Ane, lantas menghentikan langkah dengan tiba-tiba. “Gimana Ana bisa main ke apartemen aku, aku belum ngasih tahu nomor kamar apartemen? Haah, bodohnya aku.” “Baru nyadar situ bodoh,” timpal Alcander, sudah mulai terbiasa dengan sifat ceroboh Ane.  Tak ingin ambil pusing dengan kecerobohannya, Ane melanjutkan langkah. Dia berjalan-jalan tanpa tujuan di luar gedung apartemennya. Berjalan di sepanjang trotoar. Sedangkan di jalan raya kendaraan tampak ramai, ciri khas Ibu kota yang jalan rayanya selalu padat merayap.  Angin di sana berhembus begitu kencang, ketika Ane mendongak, dia tak melihat ada satu pun bintang di langit sana.  “Kayaknya mau hujan ya, Dip. Bintang aja nggak ada. Kayaknya kita gak bisa lama jalan-jalannya.” “Gawat. Aku harus mencari cara sekarang juga untuk melarikan diri. Atau aku akan terkurung lagi di rumah gadis jorok ini.”  Alcander yang sadar dirinya tak punya banyak waktu, akhirnya mulai melakukan tindakan untuk kabur dari Ane. Dia memberontak hebat seperti biasa, namun usahanya gagal karena Ane semakin mempererat pelukannya.  “Diem dong, Dip. Tadi kamu penurut, kok tiba-tiba berontak lagi. Huuh, anjing nggak tahu terima kasih padahal aku udah ajakin jalan-jalan.” “Aku bukan anjing. Berhenti memanggilku anjing,” sahut Alcander, tak terima. Dia mulai mencakar-cakar tangan Ane dengan cakar mungilnya.  Akan tetapi, bukannya menyakiti Ane, tindakannya itu justru membuat Ane terkikik kegelian.  “Sial, gadis bodoh ini kuat juga. Susah ditaklukkan,” gerutu Alcander sembari memutar otak untuk mencari cara lain agar kedua tangan Ane berhenti memeluknya.  Bagaikan sebuah lampu menyala terang di otak Alcander, sebuah ide akhirnya didapatkannya. Alcander membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menancapkan taring-taringnya di lengan Ane. Dia menggigit Ane dan kali ini Alcander yakin Ane akan melepaskan pelukannya.  Nyatanya, tidak sama sekali. Ane justru tertawa sendiri bagaikan orang kehilangan kewarasan. “Geli Dipsy, geli ... hahahaha.”  Alcander seketika menghentikan aksi gigit-menggigitnya. Dia pun mendongak menatap wajah Ane, cengo melihat tindakannya justru membuat Ane tertawa hingga sudut matanya berair.  “Sial. Kulit gadis ini seperti kulit badak. Masa iya dia tidak merasa sakit saat aku gigit?” Alcander heran bukan main. “Sabar ... sabar, Alca. Kesempatan melarikan diri pasti datang. Aku hanya perlu menunggu dengan sabar.”  Mendapati anjingnya kembali tenang dalam pelukannya, Ane mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tersenyum lebar saat menemukan penjual martabak telor. Kebetulan perutnya keroncongan karena dia belum makan malam. Dia juga sedang malas memasak, jadi membeli martabak telor yang menjadi salah satu makanan favoritnya merupakan pilihan terbaik.  Ane berdiri di depan gerobak si abang penjual martabak, mengantri di belakang ibu-ibu gendut yang sedang dilayani.  Ibu itu tiba-tiba mundur membuat Ane sempoyongan ke belakang karena terdorong tubuh si ibu yang segede gaban. Ibu itu tersentak kaget mendengar pekikan Ane, bergegas dia membalik badan.  “Oh maaf, saya tidak tahu ada orang yang berdiri di belakang,” ucap ibu itu sopan. Sosok ibu rumah tangga yang selalu memakai daster kemana-mana karena kini dia pun hanya mengenakan daster saat membeli martabak, tak peduli meski angin kencang menerjang tubuh gempalnya.  “Nggak apa-apa, Bu. Ini salah saya yang berdiri di belakang ibu,” sahut Ane, seramah mungkin, tak ingin menyalahkan si ibu bertubuh montok tersebut.  Tatapan si ibu tertuju pada Alcander yang meringkuk dalam pelukan Ane. Wajah si ibu tiba-tiba berbinar senang.  “Anjingnya lucu sekali. Di rumah juga anak saya punya hewan peliharaan.” “Oh, anak ibu melihara anjing juga?” Tanya Ane antusias, berpikir dirinya kembali berpapasan dengan sesama pecinta hewan terutama anjing.  “Bukan,” sahut si ibu sembari menggelengkan kepala. “Dia melihara tokek, kodok, sama ikan cupang.”  Ane ber-oh panjang sembari meringis, berpikir anak si ibu memiliki hobby yang langka.  “Makanya saya suka kesel sama anak itu. Apalagi kalau tokeknya udah bersisik.” “Bersisik?” Gumam Ane, tak paham. “Eh, maksudnya berisik. Kan kamu tahu sendiri tokek itu suka bunyi-bunyi gak jelas. Berisik sekali, kan?”  Dan Ane kembali ber-oh panjang sembari mengangguk-anggukan kepala.  “Saya juga suka jengkel banget kalau kodoknya udah lompat-lompat di lantai. Idiiih ... jijay ...,” kata si ibu sembari bergidik. Ane terkekeh melihat tingkah si ibu, memberikan hiburan tersendiri bagi Ane yang biasa kesepian.  “Terus yang bikin naik darah itu kalau dia sama temen-temennya udah kumpul bareng buat adu ikan cupang. Heeeh ... jengkel banget saya.”  “Kayaknya saya memahami perasaan ibu,” sahut Ane, sok bijak. “Kalau saya jadi ibu, udah saya buang hewan-hewan peliharaannya.”  Si ibu mendesah pelan, “Udah sering saya buang.”  Ane terbelalak, “Ibu buang?”  Si ibu mengangguk dengan wajah memelas frustasi, “Besoknya anak itu merengek minta uang. Ada aja alasannya. Buat beli buku sekolahlah, bayar iuran sekolahlah. Tapi ternyata dia bohong, uangnya dia pakai buat beli hewan-hewan itu lagi. Ujung-ujungnya saya ngalah juga daripada anak saya jadi penghuni kerak neraka  nanti gara-gara jadi tukang bohong.”  Ane menipiskan bibir, sepertinya mau tak mau dia menyetujui keputusan si ibu yang penuh keterpaksaan tersebut.  “Coba anak saya melihara anjing kayak punya kamu itu. Pasti saya dukung. Gak apa-apa deh walau saya bangkrut karena harus ngeluarin uang banyak buat perawatannya.”  Ane melebarkan mata dengan bibir terkulum menahan senyum.  “Kamu biasanya ngeluarin biaya berapa buat perawatan anjingnya?” Tanya si ibu, membuat Ane tertegun di tempat. “Hmm ... nggak ngeluarin uang sepeser pun,” sahut Ane, kini giliran si ibu yang terbelalak kaget.  “Kok bisa?” Tanyanya, sembari menelisik penampilan si anjing yang memang putih bersih, terlihat selalu mendapatkan perawatan super mahal dari sang majikan.  “Anjingnya bersih banget kok. Sehat lagi. Kayaknya gak ada kutunya. Soalnya anjing tetangga saya selalu garuk-garuk badan kalau telat perawatan. Gara-gara kutu.”  “Jangan samakan aku dengan anjing biasa. Aku ini keturunan bangsawan. Tentu saja tubuhku bersih dan menawan.” Alcander menyombongkan dirinya seperti biasa.  Ane terkekeh melihat wajah si ibu yang melongo keheranan.  “Anjing ini udah bersih begini sejak saya nemu dia beberapa hari yang lalu.”  Bukan hanya melongo, sekarang si ibu membuka mulutnya lebar hingga Ane meringis, khawatir ada lalat yang masuk ke dalam mulut si ibu.  “Kamu nemu anjing ini? Saya kirain kamu beli di pet shop” Ane mengangguk, “Saya nggak sengaja nemu kok, Bu,” jawabnya jujur.  “Nemu dimana?” “Di jalanan.” “Haah ... jadi anjing ini, anjing jalanan? Ya ampun, tapi kok kayak anjing punya orang kaya ya?” Tanya si ibu seolah tak percaya, dia bahkan berekspresi lebay dengan membekap mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangannya sendiri. Alcander semakin menyeringai lebar, “Bukan kaya lagi tapi aku seorang bangsawan terhormat,” katanya, membanggakan diri sendiri.  “Boleh nggak saya gendong anjingnya?”  Ibu itu merentangkan kedua tangannya ke depan, bermaksud mengambil Alcander dari dekapan Ane.  Ane tertegun melihat kedua tangan gemuk yang terulur padanya, sedikit ragu memberikan Dipsy kesayangannya pada si ibu. Bukan dia tidak percaya pada si ibu, hanya saja dia takut anjing itu akan menyakiti ibu tersebut. Hei ... Dipsy ini anjing yang agresif, walau sekarang sedang tenang, kapan pun dia bisa berubah seperti anjing galak. Terus memberontak dan ekstrimnya bisa menggigit.  “Kenapa? gak boleh ya? tangan saya bersih kok,” kata si ibu sembari menengadahkan kedua tangannya yang memang terlihat bersih.  Mendapati wajah si ibu tertekuk kentara tersinggung dengan sikap Ane yang mengabaikan permintaannya. Akhirnya Ane mengalah. Pikirnya tidak apa-apa jika sebentar saja membiarkan si ibu menggendong anjingnya. Awalnya, Ane sempat takut Dipsy kesayangannya akan berulah dalam pelukan si ibu. Ane tak ingin anjing miliknya melukai orang lain mengingat anjing itu belum cukup jinak. Di sisi lain, Ane juga tidak ingin membuat ibu itu tersinggung, karenanya dengan terpaksa dia mengizinkan. “Boleh kok, Bu, boleh,” sahut Ane, cepat-cepat membujuk si ibu agar tidak merajuk. “Ini, Bu.” Ane mengulurkan anjing dalam dekapannya pada si ibu, tanpa dia ketahui Alcander sedang menyeringai jahat.  “Ini dia, kesempatan untuk kabur akhirnya datang juga.”  Dengan wajah sumringah bagai anak TK yang baru saja diberi permen, si ibu menerima anjing yang diulurkan Ane.  Akan tetapi, belum sempat si ibu memeluknya, dia tersentak kaget ketika Alcander menggigit tangannya sekuat tenaga. Membuat ibu itu berteriak saking terkejutnya dan melepaskan Alcander begitu saja. Alcander pun memanfaatkan situasi itu dengan sangat baik. Dia melompat dan mengambil langkah seribu. Dia berlari secepat mungkin. “Dipsy!!!” Teriak Ane histeris, tatkala melihat anjingnya lari terbirit-b***t. Dirinya ikut berlari untuk bisa mengejar si anjing.  Dan Alcander pun berhasil meloloskan diri dari Ane. Jadi, bagaimanakah nasib dua orang ini nantinya? Mungkinkah mereka ditakdirkan bertemu lagi atau inilah pertemuan terakhir Ane dan Alcander? Entahlah, hanya waktu yang akan menjawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN