Bahagia itu sederhana.
Apa gue pernah menyangka bakal memiliki sahabat perempuan? Jawabannya Tidak. Gue adalah tipe orang yang susah untuk dekat dengan orang, apalagi bersahabat dengan perempuan. Dalam pandangan gue, perempuan itu makhluk ter-ribet di dunia ini. Bahkan Naura adalah satu-satunya sahabat perempuan gue dengan jarak waktu yang paling lama. Meskipun kita sering adu pendapat dan juga cek-cok, tapi kita enggak pernah punya niatan untuk saling menjauh satu sama lain. Dan gue berharap semoga keinginan gue dan juga Naura ini bisa terus terjaga. Sejalan dengan rencana Tuhan. Gue enggak bisa bayangin, bagaimana kalau gue harus berpisah dengan Naura. Menjalani hari-hari tanpa dia.
Perlu diingat juga. Gue bilang seperti itu bukan berarti gue harus bertemu dengan dia setiap hari. Maksud gue adalah jangan sampai kita lost contact. Sebisa mungkin kita tetap berkomunikasi, meskipun sibuk dengan urusan masing-masing.
Hari ini gue akan berangkat ke Jogja. Dari pagi sebenarnya sudah was-was. Khawatir kalau tiba-tiba Naura muncul dan maksa mau ikut. Sedangkan gue paling enggak bisa lihat dia merengek. Jatuhnya nanti pasti gue yang ngalah dan mengiyakan keinginan dia.
Pukul 09.00 gue dan tim sudah mendarat di bandara Adi Soetjipto. Sesuai rencana, kita semua langsung ke hotel yang enggak jauh dari Malioboro. Karena tempat gue manggung juga di sekitar Malioboro. Sesampainya di hotel, kita semua istirahat sejenak. Sebelum malamnya ada checksound.
Ini adalah pertama kalinya gue ke Jogja. Penasaran sekali sama yang selama ini orang-orang deskripsikan tentang Jogja. Pokoknya setelah selesai manggung nanti, gue akan mengulik Jogja lebih jauh lagi. Semoga rencana awal gue liburan disini untuk sementara waktu setelah manggung selesai, terealisasikan. Kalau pun nantinya rencana gue gagal, dan harus balik bareng rombongan. Ya sudah. Itu diluar kendali gue.
Setelah kurang lebih satu jam istirahat, sekalian bersih-bersih, Nadin, istri gitaris gue ketuk pintu.
“Ka, mau ikut makan di bawah, nggak?” Ajaknya.
“Iya sebentar. Ambil handphone dulu.”
Total ada delapan orang yang ikut ke Jogja. Enam orang tim inti dan yang dua adalah istri gitaris dan pianis gue. Katanya mereka ngajak istri, biar sekalian bisa jalan-jalan. Udah lama enggak jalan bareng soalnya. Ya, memang akhir-akhir ini kita sibuk banget. Sampai kurang ada waktu untuk keluarga. Dan itu sangat terasa bagi yang sudah berkeluarga terutama. Bahkan anak sambung Ivan, gitaris gue, katanya dua hari yang lalu sempat protes karena ayahnya jarang ada di rumah kalau weekend. Tapi kali ini dia juga enggak ngajak anaknya, “Nggak usah, ntar ribet,” katanya waktu gue tawarin untuk ajak anaknya.
Dari kelima personil AIUEO Band, baru dua orang yang sudah beristri. Yaitu Ivan dan Endy. Mereka juga belum lama berkeluarga, baru tahun kemarin menikah, di waktu yang hampir bersamaan. Ivan bulan Februari dan Endy bulan Maret. Hanya selang beberapa minggu saja. Entah disengaja atau tidak. Sedangkan gue, Ovie dan Uki masih jomblo hahaha.
Ngomong-ngomong soal pernikahan. Setiap melihat Ivan atau Endy sedang bersama dengan istrinya, entah kenapa selalu terlintas di pikiran gue, setelah ini siapa yang akan nyusul mereka? Siapa kira-kira yang akan bertemu dengan pasangannya lebih dulu? Apakah gue? Uki? Atau Ovie? Entahlah. Kita semua enggak ada ya g tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
???
Jogjakarta di sore hari menyuguhkan pemandangan yang teramat indah. Langit ufuk barat menawarkan pesona langit berwarna jingga. Sedangkan sisanya berwarna biru. Cerah. Enggak diganggu dengan mendung yang biasanya angkuh.
Senja kali ini lebih indah dari biasanya. Mungkin karena gue menyaksikannya di kota orang dan dengan suasana yang berbeda. Atau memang Jogja sudah terbiasa dengan senja yang indah. Yang jelas, gue happy dengan suasana yang menentramkan.
Sebenarnya, sayang sekali kalau hanya dinikmati seorang diri. Ah andai saja... Hm tapi yasudah lah.
Sebelum malamnya checksound , gue memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di Malioboro. Kebetulan dari hotel enggak seberapa jauh. Hanya 15 menit dengan berjalan kaki. Ini juga perdana, seorang Arka jalan-jalan sendiri di kota orang. Biasanya selalu rame, bareng teman-teman band.
Malioboro di sore hari katanya seru, rame. Tapi pas gue sampai, belum terlalu banyak orang. Baru beberapa orang yang lalu lalang. Para pedagang juga belum menggelar dagangannya.Tepat pukul 16.00 gue sampai di titik nol kilometer. Gue menghela napas panjang. Huft... Akhirnya gue bisa melepas penat. Sejenak merefresh pikiran.
Tiba-tiba gue ingat Naura. Gangguin ah.
Cekrek
Gue ambil foto berlatar belakang suasana Malioboro. Lalu, send to Naura. Hahaha. Gue yakin, habis ini dia pasti langsung video call, lalu ngomel tanpa henti. Sebelum gue bilang, iya nanti kita liburan kesini deh.
Dan, benar. Sepuluh detik setelah pesan diterima, dia langsung video call. Sengaja nggak gue angkat. Dan sengaja mau jahilin dia lagi. Hahaha. Kangen juga dengar omelannya dia.
Arka angkat enggak?! Cepet! Isi pesannya setelah tiga kali panggilannya gue abaikan.
Dan seperti yang sudah-sudah, gue akan selalu kalah jika berhadapan dengan Naura. Akhirnya gue angkat juga panggilan video darinya.
Sambil duduk di bangku yang ada di seberang jalan, gue mencoba menceritakan suasana Malioboro, yang juga belum pernah ia kunjungi. Wajahnya terlihat sedikit kesal tetapi juga excited.
"Arka lo jahat." Ucapnya agak berteriak.
“Dih... Eh, mana pernah gue jahat sama lo? Hah?”
"Ya, abisnya, lo nggak ngajak gue."
“Karena elo ribet orangnya. Kalau lo ikut, yang ada lo malah nyusahin banyak orang disini.”
"Gue nggak mau tau, pokoknya bulan depan lo harus ajak gue liburan ke jogja, titik!"
“Lah, ngapa ajak-ajak gue. Ya lo aja sendiri.” Hahaha kangen banget rasanya dengar Naura seperti ini. Padahal baru juga kemarin gue ketemu dia. Astaga... Ada-ada saja gue.
"Arka.... Sekali aja, jangan iseng bisa nggak?"
“Iya.. Iya.. Bawel banget deh. Tahun depan aja tapi, hahaha.”
"Bulan depan!"
Tut. Tut. Tut.
Perbincangan diakhiri dengan sebuah perjanjian, bahwa bulan depan gue harus ajak si bawel ke jogja. Padahal gue enggak tahu juga ritme manggung gue bulan depan bagaimana. Tapi gue udah terlanjur janji sama dia.