Bagian Ke Lima

1119 Kata
Menularkan kebaikan akan menelurkan kebahagiaan untuk kita dan orang sekitar. Dalam satu minggu ke depan, gue dan Naura, bersama dengan anggota osis senior dan junior lainnya akan sangat sibuk sekali. Iya, gini-gini, gue dan Naura adalah anggota Osis. Dan hari Sabtu nanti, sekolah gue akan mengadakan dies natalis yang ke 45 yang juga di gabung dengan acara kelulusan. Sebagai panitia, gue terlibat di hampir semua acara. Apalagi, Pandu si ketua panitia, sejak awal sudah minta agar gue jadi wakil dia. Jadi, ketika dia sedang ada kesibukan lain, dia menyerahkan keputusan di tangan gue. Disini gue merasa benar-benar jadi orang penting di sekolah. Tertulis di jadwal, mulai minggu depan, selama satu minggu penuh akan ada berbagai macam perlombaan. Baik antar kelas atau pun antar sekolah. Mulai dari bulu tangkis, basket, volly, tenis meja, futsal, cerdas cermat, dan masih banyak lagi. Dan puncaknya terjadi di hari minggu. Akan ada juga beberapa anak alumni yang akan unjuk gigi. “Ka, makan yuk. Gue laper banget nih,” ajak seorang perempuan yang suaranya sudah enggak asing lagi di telinga gue. Gue melirik sekilas, setelah itu kembali fokus ke laptop yang ada di depan gue. Karena enggak dapat jawaban, dia langsung masuk dan duduk di sebelah gue. Saat ini Perpus menjadi tempat yang gue suka untuk berpikir dan menyendiri. “Arka makan yuk....” Teriaknya ditelinga gue. “Apaan sih. Astaga. Elo enggak lihat gue lagi sibuk?” “Iya, tahu...” “Nah, yaudah.” “Ya tapi, kan, ini udah jam istirahat, Ka. Waktunya makan. Kan bisa dilanjut lagi ntar.” Sambil wajahnya memelas, dia terus berusaha membujuk gue agar makan. Bersama dengannya. “Ini nanggung, Naura. Bentar lagi kelar. Elo makan duluan deh. Ntar gue nyusul.” “Enggak mau. Gue maunya barengan sama elo.” “Katanya Lo laper. Disuruh makan enggak mau. Gimana sih.” Sambil gue terus fokus ke laptop. “Ya iya, mangkanya elo cepetan selesaiin.” “Elo lupa jalan menuju kantin?” Dia menggeleng pelan. Sementara gue masih terus berkutik dengan laptop. “Nah yaudah, berarti elo enggak perlu gue buat anterin lo makan. Sekarang lo makan, gue mau beresin ini. Setelah itu gue bakal nyusul. Oke?” “Enggak mau.” “Dih.. Elo kenapa sih? Sakit? Apa lagi ngigau? Aneh banget.” Dia malah menidurkan kepalanya di bangku, sambil membolak-balik handphone nya. Memang dasar ini cewek aneh. Paling bisa bikin gue kesal, tapi enggak bisa marah. “Yaudah oke. Ayo makan.” “Yeeee. ..yuk,” ajaknya kegirangan. ??? “Elo kenapa lagi? Tadi ngeyel ngajak makan, sekarang malah nggak mau makan. Kenapa sih nyebelin banget. Astaga...” Kali ini biarkan gue yang ngomel. Sebel banget gue. Ya, kalian bayangin saja. Tadi ngajak makan, sampai di kantin, gue sudah pesan, dia bilang malas makan. Apa coba itu? “Arka, lo bisa diem enggak!” “Dih, malah dia yang sewot.” “Eh, harusnya itu gue yang marah sama elo.” Menyadari ada sesuatu yang aneh, gue mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Ooo gue tahu. Lo lagi PMS ya. Ya kan??” Naura mengangguk pelan disertai debgan nyengir kuda. “Emang dasar lu ya. Bikin orang sebel melulu kerjaannya.” “Sssttt.. Nyeri banget nih, Ka. Aduuhhh.” Kedua tangannya terus meremas perutnya. Sesekali kepalanya disandarkan ke meja. Agak lucu sih, tapi kasihan juga. Karena emosi yang susah dikontrol, rambut keriting yang tadinya terkuncir rapi, perlahan mulai berantakan. Tapi menurut gue, makin berantakan makin lucu, dia. “Elo tuh aneh. Udah tau sakit perut, kenapa malah ngajak makan? Kenapa lo enggak tiduran aja di UKS? Ribet banget sih, ya Allah nih orang.” “Yaudah, anterin gue ke UKS yuk.” “Lah, ini makanan gimana? Gue udah pesan juga.” “Gue udah enggak kuat. Sakit banget ini,” rengeknya sekali lagi. “Ini bakso dua porsi, Nau. Ya makan dulu, abis itu baru ke UKS.” “Elo enggak kasihan sama gue, Ka?!” Gue menarik napas dalam-dalam sampai paru-paru gue terisi penuh, dan menghembuskan perlahan. “Oke. Kita ke UKS sekarang. Biarin aja makanan ini mubadzir.” Gue beranjak dari tempat duduk dan menggandeng tangannya, bersiap untuk pergi ke UKS. “Tapi nggak boleh kan buang-buang makanan? Yaudah, kita makan dulu deh. Abis itu gue ke UKS. Gue sendiri aja deh. Nggak usah di anter. Lo lagi sibuk kan?” Tanpa rasa bersalah sama sekali, dia kembali duduk dan menikmati bakso yang tadi gue pesan. Seketika sikapnya kembali normal. Ini seperti acara-acara hipnotis yang ada di tv. Bisa berubah-ubah begitu moodnya. Berhadapan dengan cewek yang lagi PMS itu menguji kesabaran. Kita dituntut untuk menjadi layaknya air. Yang memberi kesejukan. Yang mendinginkan. Yang menenangkan. Karena yang kita hadapi itu, bukan hanya singa yang bersiap menerkam, tapi juga api yang sewaktu-waktu bisa membakar. Sebisa mungkin hindari perempuan yang lagi PMS. Atau jika sudah terlanjur, cosplay menjadi Pak Mario Teguh adalah pilihan yang tepat. ??? Senin, 25 Januari 2021. Hari pertama diadakan perlombaan di SMA Pelita Bangsa. Lomba dimulai dari pukul 09.00 sampai selesai. Jadwal lomba hari ini futsal. Selasa waktunya volly, rabu, bulu tangkis, kamis basket, Jumat acara random. Dan Sabtu waktunya cerdas-cermat antar sekolah. Bukan hanya tingkat SMA saja. Tapi mulai dari SD, SMP dan SMA sederajat, bisa mendaftarkan diri untuk memeriahkan acara. Hadiah yang diperebutkan untuk lomba cerdas cermat ini tidak main-main. Selain mendapatkan piala dan piagam, mereka yang mendapatkan juara 1-3 akan mendapatkan beasiswa. Karena di SMA Pelita Bangsa, bukan hanya fokus di sekolah menengah atas saja, tetapi lengkap. Mulai dari SD sampai SMA. Jadi siapa pun yang menang nantinya bisa sekolah secara gratis tanpa harus membayar sepeser pun. Menarik bukan? Dan mata pelajaran yang diperlombakan juga tidak hanya satu. Tetapi ada beberapa, diantaranya; Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pendaftaran tidak dipungut biaya apa pun. Hanya menyerahkan fotokopi kartu pelajar sebagai identitas siswa. Pihak sekolah tidak ingin memberatkan anak-anak yang memang niat ingin belajar dan meraih cita-cita. Kepala sekolah, Ibu Hera Sulistyorini, pernah berkata saat apel upacara, bahwa kita tidak boleh membisu atau pura-pura tuli, melihat kebodohan masal. Kita seharusnya menjadi pelopor kecerdasan anak bangsa. Tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk membantu sesama. Mulai dari sekarang, lihat sekitar, tularkan kebaikan. Pelita Bangsa siap membantu siapa pun yang memiliki potensi dan punya keinginan kuat untuk belajar. Seandainya semua orang-orang besar negeri ini mau mendengarkan jeritan orang bawah, pastilah tidak akan lagi kita temui anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis. Akan berkurang, anak-anak yang luntang-lantung hidup di jalanan tanpa masa depan yang jelas. Pergerakan dimulai dari diri sendiri, lingkungan sekitar. Mari saling peduli. Setiap anak bangsa, berhak memiliki dan meraih impian mereka. Dengan semangat berapi-api dan suara bergetar, beliau mengajak untuk saling peduli. Jangan bangga menjadi orang yang bisu dan tuli terhadap sekitar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN