Bagian Ke Sebelas

1527 Kata
Kau temanku yang manis. Ku buat lagu ini untukmu. Sepi. Hampa. Gue seperti kehilangan sosok orang yang selama ini bikin gue merasa nyaman buat mencurahkan isi hati. Entahlah, kenapa gue seperti kehilangan orang yang berharga dalam hidup gue. Gue seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Padahal, masih bisa seperti dulu. Seharusnya juga, gue bersikap wajar saja. Toh, Naura juga enggak ke mana-mana. Dia tetap ada di kota ini. Dia masih sahabat gue. Seharusnya... Tapi, yang gue rasakan semenjak Naura bersama Ken, dia lebih sering menghindar dari gue. Entah ini Ken yang nyuruh atau inisiatif Naura sendiri, karena menjaga perasaan si Ken. Itulah yang buat gue takut akan benar-benar kehilangan dia. Sekarang gue bingung mau ngapain. Gue sudah terlanjur ambil cuti dari jadwal manggung gue jauh-jauh hari. Karena dulu gue pikir, hari ini akan jadi hari yang istimewa buat gue, tapi kenyataan berkata lain. Sudah satu jam lebih, gue Cuma mondar-mandir ke depan, lalu ke kamar. Ke depan lagi, terus ke kamar. Seperti orang yang hilang akal. Setelah menyadari kekonyolan itu, gue memutuskan untuk membaca buku yang baru gue beli seminggu yang lalu, sambil rebahan di kasur. Baru dapat dua halaman, mood membaca mendadak hilang. Gue beralih ke gitar yang ada di meja kamar. Sambil bermain gitar, sambil coba-coba bikin lagu. Ya.. Siapa tahu jadi. Kan lumayan hahaha. Setelah merenung dan melamun, tiba-tiba manajer gue telefon. Dia mengabarkan kalau gue dapat tawaran untuk menyanyikan ulang single milik Atta Halilintar. Youtuber terkenal di Indonesia. Dan setelah gue di kasih tahu seperti apa lagunya. Gue langsung setuju. Lagunya adalah perwakilan ungkapan hati gue kepada Naura, yang mungkin susah untuk gue ungkapkan. Atau bahkan enggak akan gue ungkapan. Mengingat seperti apa keadaan kita saat ini. Teman tapi cinta a-aa a-aa Teman tapi cinta a-aa a-aa Kuterjebak suasana Cinta karena terbiasa Apa kau rasakan yang sama Bila di dekatmu, Hey Kurasakan nyaman denganmu Kau teman terbaikku Ku takut menyakitimu Awalnya kita berteman Kamu tempat ku bercerita Ku yakin kamu masa depan Inikah yang dinamakan Inikah yang dinamakan Cinta. Inikah yang dinamakan cinta Inikah yang dinamakan cinta Teman tapi cinta a-aa a-aa Teman tapi cinta a-aa a-aa Oh temanku yang manis Ku buat lagu ini untukmu Jikalau kau menangis Pundakku selalu ada untukmu Ku tak pernah bisa bayangkan Ku tak rela bila kau tinggalkan Semoga kau dikirim Tuhan Atas doa yang ku panjatkan Awalnya kita berteman Kamu tempat ku bercerita Ku yakin kamu masa depan Inikah yang dinamakan Inikah yang dinamakan Cinta Inikah yang dinamakan cinta Inikah yang dinamakan cinta Setelah mencoba mengaransemen sedikit, gue memutuskan untuk tidur sejenak. Lumayan pusing juga, untuk mengeluarkan unek-unek hati gue selama ini. ??? Satu bulan kemudian. Hari ini adalah hari yang spesial buat gue. Setelah sekian lama berjibaku dengan perasaan yang nggak karuan, akhirnya single pertama gue keluar. Aransemen ulang lagu Atta. Hasil kolaborasi yang luar biasa menurut gue. Jam satu siang nanti tayang perdana di Channel Youtube gue dan juga di Youtube label yang menaungi gue selama ini. Oh iya, gue lupa bilang. Gue mulai aktif lagi di youtube. Dulu gue sempat buat beberapa konten tapi setelah itu off, karena sibuk manggung dan kalau ditambah harus bikin konten youtube, gue semakin nggak punya waktu buat istirahat. Karena gue nggak punya tim untuk youtube. Semua gue lakukan sendiri. Mulai dari buat videonya, edit dan mikirin konsepnya. Itu lumayan bikin pusing. Tapi sekarang, gue udah punya dua orang yang bisa bantu gue. Editor dan kameramen. Gue berpikir youtube gue akan menjadi besar dikemudian hari. Bisa buat selingan kalau lagi nggak ada job manggung. Atau bisa jadi juga, nanti gue manggung sambil ngevlog. Nggak ada salahnya. Ya... Kita lihat nanti gimana kedepannya. Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidup gue. Entah itu baik atau buruk. Gue jadi banyak belajar. Bahwa beberapa hal dalam hidup ini mewajibkan kita untuk memilih salah satu atau beberapa diantara yang lain. Namun sebagian lagi, hanya menyuruh kita agar menerima dan menjalani apa pun kehendak Tuhan. Tidak untuk memilih salah satunya. Tanpa kita sadari, seringkali kita dipaksa dewasa oleh keadaan. Bukan usia. Dari yang selama ini gue lihat, usia tidak menjamin seseorang itu bisa berpikir dan bersikap dewasa. Kita sudah pasti akan menua, tetapi menjadi dewasa adalah sebuah proses yang lahir karena adanya tekanan dalam hidup. Semua orang pasti pernah ada dalam fase ini. Hanya saja dengan tingkatan masalah yang berbeda-beda. Dan yang membuat beda adalah bagaimana orang itu menyikapi dan mengambil pelajaran dari setiap masalah yang datang. Gue mau pesan ke kalian semua, jangan pernah membanding-bandingkan permasalahan lo dengan permasalahan orang lain. Kayak, halah, gini doang. Elo masih mending, lah gue. Udahlah nggak usah lebay lo. Seolah-olah permasalahan lo yang paling berat. Dan elo yang paling hebat dalam menghadapi masalah. Berhenti menjadi orang yang menyebalkan. Saat teman lo curhat, jadilah pendengar yang baik. Kadang mereka hanya butuh di dengar. Mereka hanya perlu teman yang bisa dengar segala keluh kesahnya. Tanpa berkomentar. ??? Menjadi seorang Arka yang dikenal banyak orang ternyata tidak semenyenangkan yang gue pikir. Semakin hari gue seperti kehilangan privasi gue. Diantara rasa bahagia teramat yang gue rasain, ada sedikit rasa khawatir. Entahlah, gue juga bingung. Untuk pertama kalinya gue ngerasain punya fans yang ternyata membeludak. Apalagi setelah peluncuran perdana single Teman Tapi Cinta, lagu ciptaan Atta Halilintar, peran mereka luar biasa. Terhitung sejak seminggu yang lalu sampai detik ini, lagu Teman Tapi Cinta, sudah ada di puncak trending youtube. Gilaaa.... Ini gokil. Gokil. Gokil. Tapi, dibalik itu semua, ada segelintir orang yang berkomentar dengan nada sinis. Ada juga yang malah jadi fans overprotectif. Mulai atur-atur hidup gue. Dari semua itu gue mencoba buat memahami mereka dari berbagai sisi. Meskipun sebenarnya risih dan terganggu, tapi ya mau gimana lagi. Ini risiko. Saat ini mungkin gue belum terbiasa dengan perubahan keadaan yang secepat ini. Tapi gue yakin, perlahan tapi pasti, semuanya akan membaik. “Bunda bangga sama kamu.” Senyumnya yang tipis, menggaris manis di wajahnya yang cantik menawan. Jilbabnya yang berwarna merah, semakin membuatnya terlihat cantik. Ah Bundadari ku. Gue Cuma mau peluk Bunda gue yang erat banget. Rasanya ucapan terima kasih karena selalu support dan doakan, nggak cukup. Pokoknya kali ini gue mau peluk Bunda. Bundaku yang hebat. “Hari ini Bunda nginep ya?” Pinta gue, setelah lepas dari pelukannya, masih dengan posisi kepala bersandar di bahu Bunda. Dia sengaja mengulur waktu buat menjawab. Dia lihat wajah gue dengan raut muka seperti orang yang sedang berpikir. Lalu senyumnya kembali mengembang, “Pasti Arka. Bunda bukan hanya mau nginep malam ini saja.” “Oh oke. Bunda mau nginep berapa hari? Dua hari? Tiga hari? Atau seminggu?” Tanya gue penasaran. “Kok seminggu?!” Gue bingung, pikir gue mungkin Bunda mau kasih kejutan. “Satu bulan, Bunda?” “Bukan hanya satu bulan.” “Maksud Bunda?” “Bunda udah putusin kalau, Bunda, mau, tinggal, sama Arka,” jawabannya sengaja dia kasih jeda tiap katanya. Seperti ingin menegaskan bahwa dia ingin sekali tinggal bareng gue. “Jadi....” “Iya, Bunda berubah pikiran. Bunda pikir, setelah ini pasti kamu akan sangat membutuhkan Bunda untuk selalu ada di samping kamu.” Tuh kan. Bunda memang hobi bikin gue nangis -terharu-. Gengsi dong gue kalau nangis di depan Bunda. Selama ini Bunda nggak pernah liat gue nangis. Jadi, ya, gue harus bisa tahan air mata gue. Akhirnya setelah sekian lama bujuk rayu gue menghasilkan. Bunda mau tinggal sama gue. “Oke Bunda, abis ini kita pulang ambil barang-barang Bunda, ya.” Tiba-tiba dia keluar dan membuka bagasi mobilnya. “Nggak perlu. Ini Bunda udah bawa. Hehehe” Tawa gue pun merekah juga. Bunda.. Bunda... Bisa-bisanya kasih kejutan seperti ini. ??? “Oh iya, Naura gimana?” Tanya Bunda saat kita lagi asik nonton tv. Gue kaget. Jujur. Seperti shock terapi di pagi hari. Gue harus jawab apa? Bohong atau jujur? Kalau gue bohong, Bunda pasti akan tahu. Dan seandainya gue jujur, kira-kira gimana reaksi Bunda? “Eh kok malah diem.” “I iyaa Bund. Kenapa? Bunda tadi tanya apa?” “Itu, sahabat kamu, Naura Kok Bunda nggak pernah lihat dia, semenjak Bunda ada disini?” Gue ambil napas dalam-dalam dan Bunda ternyata mengamati gerak-gerik gue dari tadi. Dengan sorot matanya yang tajam, dia kembali bertanya, “Kamu berantem ya, sama dia?” “Enggak Bund. Kata siapa ih. Bunda nih sok tau deh.” “La itu kamu diem aja.” “Ya...” “Iya apa? Iya bener gitu kan?” “Enggak Bund. Kita baik-baik aja. Nggak ada masalah.” “Terus kenapa Bunda enggak pernah lihat Naura main kesini? Ini udah satu minggu lebih loh Bunda ada disini.” “Iya, mungkin Nauranya lagi sibuk kuliah, Bun.” Gue asal aja jawabnya. Padahal sebenarnya gue enggak tahu kesibukan Naura sekarang seperti apa. Jujur sekarang kita sudah enggak seintens dulu dalam berkomunikasi. Bahkan Enggak pernah malah. Ini adalah hal yang enggak pernah gue inginkan dari dulu. Gue putus hubungan dengan Naura. Kita berdua sudah sama-sama berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain, apa pun yang terjadi. Tapi, apa mau dikata? Keadaan membuat semua menjadi sulit. Tiba-tiba Bunda menepuk pundak gue sambil berkata, “Kalau ada masalah itu diselesaikan masalahnya. Bukan malah ditinggal pergi begitu saja.” Sambil tersenyum simpul, Bunda lalu pergi ke kamar. Meninggalkan gue sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN