"Za!" Hasan melambaikan tangan. Ia sudah menunggu di kantin sejak sepuluh menit yang lalu. Eza muncul dari arah gedung belakang. Biasa, ia menemui Kakek Jamal dulu baru kemudian makan siang bersama Hasan di sini. "Lo kenal sama tuh orang?" Kening Hasan mengerut. Eza baru saja duduk dan sudah menanyakan orang lain. "Itu," tuturnya. Ia malas menyebutkan namanya. "Yang kecelakaan. Yang kemarin lo jenguk." Kali ini sebelah alis Hasan terangkat. Siapa yang dia maksud? Eza menghela nafas. Lantas mau tak mau menyebut namanya. "Adit." Ah. Hasan mengangguk-angguk. "Kenal sih tapi gue gak jenguk." "Lah? Kemarin-kemarin gue lihat lo datang!" Hasan terkekeh. Selalu saja begini. "Itu Husein." Aaaaah. Eza merasa bodoh lantas terkekeh. Ia masih tak bisa membedakannya. "Terus kemarin lo ke man

