6. Pemberontak

1318 Kata
Untuk pertama kalinya, Ares dan Rere benar-benar tidur bersama di rumah mereka sendiri. Meskipun Ares tidak melebihi batasnya, tapi kejadian semalam benar-benar membuatnya seperti mabuk kepayang. Semua yang ada pada diri Rere, entah kenapa selalu saja membuatnya candu. Hanya dengan sentuhan dan kecupan singkat saja rasanya sudah membuatnya puas. Rere dengan segala keistimewaan dalam dirinya, membuat Ares kadang enggan berpaling. Bahkan ia merasa berat jika harus meninggalkan. Terkadang ia berpikir, bagaimana hidupnya setelah mereka berpisah nanti? Dengan Raisa? Ares tidak yakin, hidupnya akan memiliki warna yang sama ketika saat bersama Rere. Apakah Ares mulai mencintai Rere? Sepertinya tidak. Soal perasaan, untuk siapa yang Ares cintai tentu saja jawabannya adalah Raisa. Namun, Rere adalah persoalan lain. Gadis itu memiliki tempatnya tersendiri dalam diri Ares. Ares tidak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan pada Rere. Karena yang jelas, Ares belum siap untuk berpisah dengan Rere. Membayangkan ada pria lain yang mendekati Rere saja rasanya sudah membuatnya tidak terima. Perlahan, Rere membuka mata. Tidak terkejut saat menyadari ternyata Ares tidur di kamarnya. Meskipun ini untuk pertama kalinya, mereka tidur bersama di rumah sendiri. Rere hanya sudah menduga saja, mengingat semalam Ares benar-benar membuat mereka berolahraga tanpa henti. Tetapi juga tidak berhasil membuat Area keluar dari batasannya. Di sisi lain, Rere memang merasa salut dengan Ares yang memegang teguh prinsipnya dan mampu menahan hawa napsunya saat mereka sedang bermain bersama. Rere bangun dari tidur, menyingkirkan selimutnya. Ia juga tidak berniat membangunkan Ares karena ini adalah akhir pekan. Sebelum sibuk di dapur, Rere akan membersihkan dirinya terlebih dulu. Ia mengenakan dress berwarna putih polos dengan tali spagetti. Rambut panjangnya ia kuncir, membuatnya menyerupai ekor kuda. Ia menatap dirinya ke arah cermin, tanda kemerahan di leher dan juga sekitar dadanya terlihat dengan jelas. Namun Rere tidak memperdulikan itu. Lagipula hari ini ia tidak pergi-pergi keluar. Saat Rere hendak keluar, suara Ares menghentikan langkahnya. "Re ....." Rere berbalik, menatap ke arah Ares yang sedang mengumpulkan nyawanya. Ia berjalan menghampiri suaminya itu. "Kenapa?" "Hari ini tidak ke toko bunga, kan?" Rere menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini akhir pekan, toko bunga selalu kututup." "Jika begitu tidak perlu masak." "Ah, baiklah. Kak Ares akan pergi?" tanya Rere. Ares mengangguk, setelah itu turun dari ranjangnya dan keluar kamar meninggalkan Rere begitu saja. Baiklah jika memang tidak perlu memasak untuk 2 porsi, lagipula Rere tetap harus memasak untuk porsinya sendiri karena ia benar-benar sudah sangat lapar. Mengingat semalam ia tidak jadi makan. Itu pun karena Ares yang tidak mengabarinya. Benar-benar menyebalkan. Rere hanya membuat sandwich. Roti yang ia isi dengan telur, irisan daging ayam, tomat, selada, keju dan juga saus saja sudah membuatnya kenyang. Ia menikmatinya di meja makan dengan segelas s**u. Tidak berselang lama, Ares terlihat menuruni tangga. "Pakailah baju yang sedikit tertutup," ujarnya pada Rere. "Memangnya kenapa? Lagipula tidak ada orang di sini selain kita, kak Ares juga akan pergi, kan?" "Raisa akan kemari. Kamu tidak berniat akan memamerkan tanda kemerahan itu, kan?" ujar Ares tanpa ekspresi di wajahnya. Rere yang mendengar Ares menyebut nama kekasihnya itu entah kenapa seketika membuat moodnya jelek. "Jika dia melihatnya, itu juga tidak akan merugikanku sama sekali, kak." Entah keberanian dari mana, Rere menjawabnya seperti itu. Karena biasanya, ia memilih untuk menuruti perkataan Ares daripada membantah. Lagipula Rere selalu enggan memperpanjang masalah sepele. "Re ....." Ares menggeram, menatap Rere dengan tajam. Ia pun merasa tidak menyangka juga, jika Rere akan membantah perkataannya. "Aku tidak ingin berdebat. Memakai pakaian tertutup atau pergilah ke mana yang kamu inginkan. Yang terpenting tidak memperlihatkan dirimu dengan dress murahan itu di depan Raisa." Kali ini, kalimat Ares benar-benar menusuknya. Bagaimana bisa Ares mengatakan jika dress yang digunakan adalah baju murahan? Lagipula sejak dulu, ia selalu suka mengenakan dress-dress seperti ini dan Ares pun tidak pernah merasa keberatan. Ares selalu membiarkan dirinya melakukan apa pun yang ia sukai. Tidak pernah memberikan larangan-larangannya. Apalagi jika menyangkut masalah sepele. Karena Rere tau, Ares tipikal orang yang tidak suka memperpanjang masalah sama seperti dengan dirinya dan cenderung untuk segera menyelesaikannya tanpa bertele-tele. Bahkan pernah ada mobil yang menabrak mobilnya, tanpa berpikir panjang justru malah Ares yang menanggung semua kerusakannya. Rere membanting sandwich yang baru saja dimakannya satu gigitan itu ke atas meja. "Pergilah sana! Kak Ares tidak perlu mengkritik dressku murahan." "Membuatku muak saja." Lanjut Rere lalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Ares yang merasa bersalah sekaligus heran dengan sikap Rere yang menurutnya berubah. Sejak kapan gadis itu menjadi pemberontak? Batinnya bertanya. "Kenapa dia menjadi menyebalkan? Lagipula semua ini adalah ulahnya!" ujar Rere dengan kesal, saat sudah berada di kamarnya. Ia memang berniat untuk menjadi gadis yang sedikit pemberontak dan lebih berani pada Ares. Tidak akan ada lagi Rere yang penurut. Karena baginya, menjadi gadis penurut membuatnya lebih mudah merasa lemah. Ia juga tidak akan membiarkan hatinya secara tidak langsung disakiti terus-menerus oleh Ares. "Memangnya dia siapa seenaknya menyuruh-nyuruh. Apa peduliku jika wanita itu melihat tanda kemerahan ini?" Rere tersenyum miring, saat sesuatu hal terlintas di pikirannya. Membayangkan wajah Raisa yang menyebalkan setiap kali mereka bertemu, lama-lama membuat Rere muak. Mungkin dulu, Rere masih seorang bocah yang merasa takut untuk bersikap menyebalkan. Tetapi sekarang? Mengingat usianya yang terbilang sudah memasuki usia dewasa, membuat Rere memantapkan hatinya untuk lebih berani lagi. Apalagi di mata masyarakat, dirinya adalah istri sah Ares, sedangkan Raisa adalah selingkuhan suaminya. Apa pun alasan ia dan Ares menikah, itu tidaklah penting. Karena yang namanya istri sah akan selalu menjadi pemenangnya, bukan? Rere melihat Ares sudah pergi, ia tinggal menunggu suaminya itu kembali bersama dengan selingkuhannya, kan? Lalu setelah itu ia akan pergi dengan tetap menggunakan pakaian seperti ini, agar Raisa melihat tanda kemerahan yang ada di leher dan sekitaran dadanya. Bukankah itu sungguh menyenangkan? Sembari menunggu pasangan tidak tau diri itu datang, Rere memutuskan untuk kembali mengambil s**u dan sandwich yang belum sempat ia habiskan. Ares benar-benar menguji kesabarannya. Sekitar satu jam menunggu, akhirnya Rere mendengar suara mobil milik Ares. Ia bersiap-siap terlebih dulu, tidak lupa mengambil sling bag berwarna cream dan juga cardigan yang berwarna senada dengan tasnya. Ah, tidak mungkin dirinya berkeliaran di luar sana tetap dengan memamerkan tanda kemerahannya, kan? Itu sangat memalukan. Lagipula nanti ia tetap akan menggerai rambutnya, meskipun akan terasa panas. Rere menuruni tangga, ia pergi ke dapur terlebih dulu untuk mencuci piring dan gelas. Saat berbalik, bersamaan dengan Ares yang datang bersama Raisa berjalan menuju ruang bersantai. "Akan ke mana?" tanya Ares saat Rere hendak lewat. Ia menatap tajam ke arah istrinya itu yang tetap memakai pakaian terbukanya dengan memperlihatkan tanda kemerahan. Rere tersenyum, menatap Ares dan Raisa yang terlihat sedang menatap ke arah bagian lehernya. "Bukan urusanmu, kak." "Setidaknya pakai pakaian yang tertutup," ujar Ares tajam. "Kalian tidak sedang saling bercinta, kan, sebelumnya?" tanya Raisa yang sejak tadi diam. Sepertinya, wanita itu tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. "Kamu mulai penasaran dengan kehidupan kita?" tanya Rere menanggapi pertanyaan Raisa. "Kamu tidak mungkin mengkhianatiku, kan, sayang?" Tanpa memperdulikan Rere, Raisa menoleh ke arah Ares. Sedangkan pria itu terlihat memejamkan matanya sebentar, sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Saat Ares akan menjawabnya, Rere sudah terlebih dulu membuka suara. "Oh, ayolah. Rasanya tidak adil jika hanya kak Ares saja yang memiliki kekasih, bukan?" ujar Rere dengan suara mengejek dan kalimatnya sukses membuat Ares, juga Raisa dengan serempak menatap ke arahnya. "Tentu aku juga memilikinya tanpa harus kalian ketahui." Lanjutnya dengan senyum lebar. "Sayang, lihatlah jalang kecil ini. Dia sudah berani membantah. Lalu apa katanya tadi? Memiliki kekasih juga? Itu berarti dia mengkhianatimu." Raisa dengan kalimat tidak tau dirinya terkadang membuat Rere geram dan ingin menyumpal mulutnya agar bungkam. "Sadarlah, kamu bahkan lebih jalang dariku," balas Rere mengejek. "Jaga sopan santunmu di depanku atau aku akan membuatmu viral karena menjadi pelakor." Setelah mengatakan itu, Rere langsung melangkahkan kakinya pergi tanpa mendengarkan balasan Raisa dan juga Ares. Jalang tidak tau diri itu pasti sedang menahan marah sekarang. Batin Rere dengan senang. Rere merasa, ia seperti terlahir kembali. Menjadi gadis pembangkang dan berani nyatanya tidak se-menakutkan itu. Justru malah membuatnya bahagia dan merasa lega setelah melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN