"Bahagia itu sederhana." Alam
"Om Dokter nanti kalau ibu marah bagaimana?" Aina melihat dengan menengadah ke atas.
"Om Dokter sudah kirim pesan sama ibunya Aina. Jadi Aina tenang saja, ya." Alam gemas melihat tingkah Aina yang menurutnya terlalu penurut.
"Jadi Aina bisa main bianglala dan makan es krim, Om?" Mata Aina berbinar saat Alam menggangguk.
Alam menggandeng lengan kecil Aina dengan erat. Alam tahu jika ini adalah pertama kalinya Aina ke pasar malam yang dipenuhi oleh orang. Memang Alam sengaja meliburkan diri sore ini untuk bertemu anak kecil yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Aina ...." panggilan dari jauh membuat Aina dan Alam menoleh seketika.
"Ibu ..."Aina melepaskan genggaman tangan Alam dan merajuk ke Hayu.
"Seharusnya kamu pulang bukannya malah main di sini." Hayu sedikit membentak Aina karena perasaan khawatir.
"Maafkan Aina, Bu."
"Ingat lain kali jangan pergi tanpa pamit sama ibu." Didekapnya tubuh kecil Aina.
"Maaf Hayu. Aku yang salah. Tidak seharusnya aku tidak membawa Aina ke tempat ini," ujar Alam dengan penuh sesal.
"Tidak apa-apa." Hayu berujar tanpa menoleh dan membelakangi Alam.
"Ibu marah sama Om Dokter, ya?" tanya Aina tersenyum.
"Tidak kok." Hayu berbohong.
"Kalau tidak kenapa ibu berbalik badan? Kata ibu kalau ada yang berbalik badan saat berbicara artinya kita marah," urai Aina persis yang dikatakan Hayu.
Alam maupun Arimbi malah terkekeh mendengar Hayu digoda anaknya sendiri.
"Tidak, Nak. Ibu tidak marah. Ibu menghapus air mata ibu saja karena ibu senang bertemu Aina." Hayu membalikkan badannya dan menatap mata Alam.
"Bu, kita main dulu, yuk," ajak Aina menyeret tangan Hayu ke tempat permainan bianglala.
Hayu sebenarnya takut dengan ketinggian, tetapi demi menyenangkan Aina seberapapun tingginya bianglala tak di hiraukannya asal dia bisa melihat Aina bahagia.
"Kamu sih Mas?" Arimbi memukul pundak Alam.
"Loh memang kenapa aku?" gerutu Alam yang tak tahu kesalahannya.
"Tadi Hayu panik saat di kafe mengetahui Aina tak kunjung datang. Saat aku melihat sosial media aku baru tahu kamu mengajaknya ke pasar malam."
"Mas memangnya sudah minta ijin sama Hayu?" lanjutnya dengan ekspresi tak percaya.
"Sudah tapi aku tidak bilang jika kami akan ke pasar malam."
"Nah itu salahmu, Mas. Mas ini lucu mau dekat sama ibunya malah buat ibunya khawatir," goda Arimbi.
"Maksudmu?" tanya Alam tak paham.
"Aduh Mas. Memang dasar Mas ini pura-pura tidak tahu," kata Arimbi beranjak pergi.
"Memangnya kamu bicara apa, sih?" teriak Alam di antara kerumunan banyak orang.
"Cari tahu sendiri jawabannya, Mas," balas Arimbi dengan teriak dan tertawa.
Alam masih bingung dengan pikirannya sendiri tanpa ia sadari jika Aina dan Hayu sudah ada di depannya.
"Om Dokter, kok bengong?" Aina menarik kemeja Alam yang membuatnya tersentak seketika.
"Antarkan kami pulang, ya Alam. Ini waktunya Aina meminum obatnya." Hayu mengajak Alam untuk segera pulang melihat Aina yang sedari tadi masih memakai seragam sekolahnya.
"Baiklah. Ayo Aina Om Dokter gendong." Alam langsung menarik tubuh kecil Aina kepunggungnya.
"Terima kasih Alam."
"Sama-sama Hayu," ujar Alam dengan senyuman manisnya.
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat mereka bertiga bercanda dan tertawa riang. Satu hal yang pria itu rasa adalah penyesalan yang sangat dalam.
"Kaukah itu Hayu?"
*******
"Ibu, tadi Om Dokter jemput Aina di sekolah lalu kita makan di Kfc. Enak loh, Bu."
Tak hentinya Aina bercerita mengenai Alam yang menjemputnya di sekolah. Pulangnya mereka dari pasar malam sampai di rumah tak hentinya Aina berseloroh betapa senangnya dia jalan-jalan hari ini.
"Bu, Aina tadi makan es krim cokelat loh tapi Aina makannya cuma sedikit kok Bu. Tidak banyak," jujurnya sambil mengikuti Hayu dari dapur ke ruang tamu.
"Aina tidak bohong, bukan?" tanya Hayu sambil melipat kedua tangannya.
"Aina tidak bohong kok. Tanya saja sama Om Dokter yang ganteng," ujarnya dengan mengacungkan dua jarinya.
"Oke deh ibu percaya. Tapi Aina sudah ucapkan terima kasih sama Om Dokter?" Hayu berujar sambil duduk di sebelah Aina.
"Tentu saja, Bu." Aina menyandarkan kepalanya ke d**a Hayu.
Hayu senang melihat kebahagian terpancar dari matanya. Memang sudah lama dia tak mengajaknya jalan berdua karena kesibukan yang mengharuskan dirinya bekerja.
"Ayo anak kita tidur. Besok Aina harus sekolah."
"Baik ibu. Biar Aina yang menutup jendelanya."
Hayu menggangguk melihat kearahnya.
"Bu ..."
"Iya Aina. Ada apa?" Hayu menoleh karena suara Aina.
"Bu, mobil itu sedari tadi di sana. Siapa itu Bu?" Aina menunjuk ke depan halaman.
Hayu mengintip dari balik jendela. Memang benar ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Hayu yakin itu bukan mobil Alam karena berbeda. Mungkin sadar jika ada yang memandang keberadaannya maka mobil itu melaju pergi.
Hayu segera menutup tirai dan mematikan lampu agar tidak ada lagi orang yang mengintip rumah mereka.
******
Setiap pagi menjadi hari yang menyenangkan untuk Alam karena dia menemui hal baru. Ya, Alam selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Hayu dan si kecil Aina yang menggemaskan.
"Den, mau ke mana?"Memang Bik Sumiati selalu bertanya kemana Alam akan pergi. Ya maklumlah itu atas perintah sang ayah yang selalu mengawasinya.
"Saya ada tugas pagi, Bi." Akhirnya Alam berbohong demi bertemu ibu dan anak itu.
"Ya Aden memangnya bibi tidak tahu apa jika Aden mau bertemu sama ibu Hayu dan Naina toh?" Pelayan yang sudah ikut sejak Alam masih bayi memang tak bisa di bohongi.
"Namanya Aina bukan Naina," ralatnya saat Bi Sum salah sebut nama.
"Aduh susah atuh namanya, Den."
"Ya sudah Bik. Saya mau ke sana dulu," pamitnya sambil memakai sandal.
"Den ..." panggil Bi Sum dari dalam.
"Iya Bi."
"Ini bawakan buat si kecil." Bik Sum menyerahkan bungkusan kecil yang Alam tak tahu.
"Apa ini, Bi?" Tak biasanya Bik Sum membuatkan sesuatu untuk tetangga sekitarnya, pikir Alam.
"Onde - onde, Den. Kapan hari itu si kecil memanggil si bapak onde-onde tapi sayang bapaknya kagak dengar."
Oh ... pantas saja. Meskipun Bi Sum sudah tinggal bersamanya sejak bayi tak pernah sekalipun wanita paruh baya bergosip atau berbicara dengan Art di perumahan ini. Baru sekarang Bi Sum membuat kue untuk seorang anak kecil.
"Ya Bi. Nanti saya berikan sama Aina." Alam mengambil bungkusan tersebut dan melangkah pergi dengan semangat.
Dari kejauhan Alam bisa melihat betapa repotnya Hayu yang merapikan bekal makanan Aina dalam tasnya. Pemandangan inilah yang membuat hari bahagia bagi Alam.
"Om Dokter ..." teriak Aina memanggil Alam.
Inilah yang Alam sukai setiap datang ke rumah bercat putih. Si kecil Aina langsung memanggilnya dan menyalami dengan sopan.
"Selamat pagi Alam," sapa Hayu tak melihat karena kesibukannya.
"Sedang apa Hayu?" Hayu melirik.
"Ini lagi merapikan buku pelajaran dan bekal Aina yang berantakan," ujarnya yang masih sibuk menata tas Aina.
"Om Dokter yang di tangan Om Dokter apa?"
Alam sampai lupa menyerahkan kue titipan Bi Sum kepada Aina.
"Onde - onde. Aina suka, kan?"
"Kok Om Dokter tahu?"
"Tentu saja."
"Doreamon dong Om Dokter, ya," goda Aina dengan manja.
"Aina jangan di makan kuenya. Buat nanti saja ya Nak. Ayo cepat busnya sudah datang," cerosos Hayu tanpa henti.
"Bye Om Dokter." Tangan kecilnya melambai ke arah Alam dan Hayu.
Sesudah Aina berangkat dengan bus antar jemputnya. Kini giliran Alam mengantarkan Hayu ke tempat kerjanya.
"Aku tidak enak loh tiap hari di antar sama kamu terus, Alam," kata Hayu sungkan.
"Tidak apa-apa Hayu. Rumah sakitku dengan kafe Arimbi dekat kok," Alam menyela.
"Ayo cepat. Nanti Arimbi akan mengomeli aku yang mengantarkan terlambat," guraunya sambil membuka pintu mobil.
Sesaat sebelum Alam masuk ke dalam mobil. Alam melihat mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah Hayu. Dia perhatikan mobil itu sudah ada sejak mereka di sini. Siapakah dia? Sepertinya Alam tak mengenali plat mobil itu tapi dia merasa ada yang aneh dengan mobil tersebut.