Bab 2

1490 Kata
Siang hari setelah kejadian itu selesai. Brendy terkepar di atas kasur empuk ber sprei putih yang di lumuri darah dan cairan putih kental walaupun tidak banyak tapi cukup terlihat. "Apakah sakit?" tanya Ale seraya  Memakai jas nya dan menarik dasi nya. Wanita itu hanya diam seribu bahasa merasakan s**********n nya yang begitu perih dan alat pribadi nya terluka karena serangan yang kasar dan bertubi-tubi. Ale mendekati tubuh itu duduk di samping nya mengamati wajah lembam akibat menangis lalu menyentuh pipi gadis itu di arahkan untuk menatap wajah nya. "Dengar, jangan memasang wajah itu aku benci melihat wanita yang memasang wajah menangis seakan dia begitu menyakitkan, pasti itu hanya sandiwara mu di balik tangis itu" sambil menepuk pipi 3x milik Brendy Miru. Brendy mengambil selimut menutupi bagian tubuhnya yang telanjang dan ada bekas merah di sedikit leher,buah d**a. Dengan mundur pelan karena lelah di sekujur tubuh Brendy, dan sakit di bagian selangkan nya ia menghempiskan tangan kekar yang menyentuh pipi itu. "Jangan pernah sentuh aku lagi b******n pergilah dari hadapanku, kau sudah mendapatkanya bukan? aku tidak mengenal dirimu tapi yang jelas aku benci dirimu," ucap nya ingin menangis tapi air mata nya habis untuk menangis lagi. Ale hanya melihat nya seperti melihat nyamuk dan sama sekali tidak ber ekspresi. "Aku akan pergi pakailah ini karena bajumu sudah ku rusak jadi aku membelikan baru untukmu sebelum aku memperkosa mu," Ale melempar plastuk kecil pink dengan senyum sinis di mulutnya. "Oh ya, kau jangan ganggu keluarga ku lagi atau kau akan merasakan yang lebih dari ini, apa kau mengerti!" Perintah nya  Sambil menatap gadis itu. Perempuan itu sama sekali tidak mengerti apa arti dari ucapan lelaki itu. "Apa maksudmu, aku tidak pernah menganggu keluargamu dan aku tidak pernah mengena siapa kau," bela nya penuh lirih. Ale hanya tersenyum bersendekap d**a. "Apa kau lupa bahwa kau membuat kakak ku masuk penjara dan kini keluargaku harus menanggung malu itu," bibirnya yang berbelok matanya yang tajam ekpresi dari lelaki itu. Ale mendekat dan menarik selimut itu. "Aku ingin kau merasakan malu itu," ucap Ale dengan memandang tubuh yang sudah telanjang itu. Brendy berniat untuk bangun dari tempat tidurnya mengambil plastik pink itu ia ingin memakai baju dan segera pergi dari tempat ini. "Aaaaakkhh," suara gadis itu. Kaki nya sulit sekali untuk berjalan selangkan nya teramat perih. "Hahaha ambillah tas plastik itu, kau mungkin susah untuk berjalan tapi kau harus mengambilnya dan sekarang cepatlah pergi," Ale mengambil rokok yang di nyalakan dan segera menyedotnya. Brendy berjalan menuju kamar mandi berganti pakaian jalan nya begitu aneh dan sesekali memegang meja diiringi berjalan menahan tubuh agar tidak terjatuh dari lantai. Brendy keluar dari kamar mandi langkah nya tidak stabil menuju pintu keluar kamar itu. Ale menatap punggung gadis itu dari belakang dan mengamati kepedihan nya sungguh terlihat bagaimana susah nya ja berjalan langkah demi langkah namun semua ia tepis ketika mengingat bagaimana menginggat kejadian kakak nya, kini wanita itu sudah benar-benar keluar dari pintu itu. Di ruang tengah terlihat 2 lelaki meminum bir dan bermain kartu Kennedy dan Vicki spontan 2 lelaki itu menoleh ke arah wanita itu. "Woow, penampilan nya sangat kacau Vick, apakah bos melakukanya dengan kasar?" Tanya Ken pada Vicki. "Hahahah bukan kacau lagi Ken, itu bukan sekedar kasar tapi ada sedikit menyiksa nya," tawa Vicki tak lepas mengelenggkan kepala. Brendy tidak memperdulikan ke 2 orang itu ia langsung berjalan keluar ingin secepatnya keluar dari tempat ini. ~~ Ale menghabiskan rokok nya dengan santai tiba-tiba ia melihat dompet jatuh di bawah posisi terbuka. "Apa ini dompet dia," mengambil dompet itu dan menutup lalu di masukan di saku nya. Ale berjalan kebawah menemui 2 orang penjaga nya yang disuruh untuk menjaga tempat ini ketika kejadian jahat itu di mulai. "Boss," ucap Vicki. "Kemana wanita tadi," tanya Ale menatap seluruh ruangan. "Dia pergi boss, rupanya boss ketagihan ya," tawa Ken. "Bos, berapa kali kau melakukannya? kelihatan begitu menyiksa sekali," senyum Vicki dan Ken bersamaan. Ale tidak menjawab malah pergi begitu saja. "Bersihkan tempat ini, urus semuanya aku pergi," ucap Ale pergi meninggalkan tempat itu dan 2 laki-laki itu. "Kemana dia, apakah dia melapor polisi?" Ucap Ale menyalakan dan menyetir mobil. "Bodoh sekali dia tidak mungkin melapor kan," dalam hati Ale. Beberapa saat. Ale pulang menuju rumah nya dan ingin berkata sudah membalas semua dendam sakit hati dari seorang kakaknya tapi setiba di rumah Ale di kejutkan beberapa orang. "Tunggu siapa dia kak?" Tanya Ale menatap wajah babak belur pria yang di pukul habis-habis an oleh kakak nya Adra Zardian. "Kau tahu adik dia adalah penghianat yang sudah membuatku masuk penjara dan sekarang aku kembali untuk membunuhnya untung aku hanya 2 hari jika aku tidak keluar maka dia akan kabur bukan," emosi memuncak kakaknya sesekali memukul wajah seseorang di hadapanya. Ale shock matanya melotot bibirnya terbuka lebar. "Bukan kah penghianat itu wanita?" Tanya Ale kepada Adra. Adra yang memukuli penghianat tersebut menghentikan aksi nya menoleh kepada adik nya. "Apa?wanita? Apa tidak salah? Pengacaraku menemukan bukti kuat bahwa dia lah yang menusuk kita dari belakang. Flashback Tangis di rumah keluarga besar Aric Zalio terdengar begitu keras. "Oh tidak anakku tidak boleh masuk penjara, dia tidak salah lepaskan anakku pak polisi," tangis ibunya Shilla Zalio menangis dan menarik tangan putra nya Adra Zardian. "Maaf nyonya ini bisa kita bicarakan saat sesampai di polisi," kata pak polisi dan pergi Membawa putra Shilla dan Aric. Ale turun mendengar keributan di ruang tamu Ale terkejut ibunya jatuh menangis dan terus memanggil nama kakak nya. "Ibu ada apa kakak?" Ale berlari mendekati ibunya mencoba memindahkan di sofa. Shilla hanya terus menangis dan menatap kepergian putra nya. "Carilah penghianat itu ale, kakakmu di fitnah" deru Shilla Shilla menceritakan bahwa kakak nya di fitnah karena mengelapkan uang cerita panjang lebar Shilla kepada Ale putra kedua Aric dan Shilla. "Ibu tapi bisakah menceritakan bagaimana aku bisa mencari nya," nada tinggi menerima bahwa kakak nya di fitnah seperti itu. "Yang aku tau terakhir dia pergi bersama teman nya di sebuah cafe entah apa aku tidak tau selanjutnya nak," sambil terus menangis. Ale berniat membalas semua perbuatan itu ia ingin pergi nanti malam dan membalas kan dendam nya. "Dia wanita atau lelaki bu," tanya Ale serius "Ibu tidak tau nak tapi yang jelas ibu hanya tau ia pergi dari cafe bersama teman lalu setiba itu hal buruk ini terjadi," balas Shilla menepuk d**a nya. "Baiklah bu, besok malam aku akan mencari orang itu," Ale berlari ke kamar dan segera memikirkan rencana. __ Esok. Malam pukul 20:00 Ale pergi bersama kedua kawan nya menuju cafe yang semalam kakak nya datangi dan teman nya. Ale memanggil pelayan yang ia kenal dan mendekati nya. "Kalau boleh tau kakak ku kemarin kesini kan, bisa jelaskan bersama siapa ia menghabiskan banyak waktu nya disini." Ale menyelipkan uang dan di sempitkan di tangan pelayan. "Ya bener tuan, kemarin kakak anda bersama teman nya tapi ia mendekati wanita yang berambut panjang itu kakak anda bahkan sangat lama berduaan dengan wanita itu," pelayan itu menunjuk ke arah gadis. Ale menatap tubuh wanita yang membawa nampan berisi beberapa gelas. "Apa ada hubungan nya dia dengan kakak ku?" selidik Ale "Tidak tahu tuan, tapi setiap kakak tuan datang ia ingin wanita itu menemani," penjelas dari sang pelayan. Entah apa yang ada di otak Ale Zandro otak nya berkata to the point bahwa wanita itu lah dalang dari semua siasat ini. Ale menghampiri wanita itu ia memberi kode kepada Vicki dan Ken untuk segera beraksi. "Maaf bisakah bicara sebentar," ucap lembut tutur Ale kepada nya. "Ia tuan bisa saya bantu," senyum dari pelayan itu yang tak lain adalah Brendy. "Apakah ada hubungan nya anda dengan lelaki yang bernama Adra Zardian?" Masih dengan nada lembut. "Maaf saya tidak mengenal nya tuan,permisi saya harus pergi." Wajah pucat Brendy dan ia pergi dari hadapan Ale. Brendy tidak berani berkata apa-apa karena ia tidak ingin orang harus mengintrogasi dengan siapa ia bertemu karena hal itu sangatlah privat dan selama menjadi pelayan cafe dia banyak bertemu pria tentu tak mudah membicarakan satu per satu ditambah ketakutan jika yang ia temui adalah memiliki istri dan bisa saja orang ini adalah suruh an istri orang itu, tapi selama ia menemani beberapa pria ia tidak pernah meniduri nya bahkan menolak untuk di sentuh. Ale semakin yakin bahwa wanita cantik yang baru saja pergi dari hadapan nya menggunakan kecantikan nya untuk menjebak kakak nya. Ale memutuskan bahwa malam setelah pelayan pulang ia akan memulai aksi nya. Pelayan pulang dengan kesibukan sendiri keluarlah gadis cantik dari pintu belakang di sebuah cafe, gadis itu berjalan melewati jalan sepi tiba-tiba obat bius membekap nya dari belakang hingga pingsan wanita itu. 2 kawan termasuk Ale segera berjalan menuju rumah yang jarang dilewati namun masih terjangkau dengan daerah cafe dan rumah Brendy. Ale mengikat nya di sebuah ranjang dan membangunkan wanita itu sampai terbangun sesekali menggoda nya hingga wanita itu teriak dan ketakutan. Flashback end. "Kakak kalau dia adalah pelaku nya, lalu siapa wanita kemarin yang aku temui di sebuah cafe berambut panjang itu?" Tanya Ale. "Wanita?berambut panjang? Di cafe?apa yang kau lakukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN