Brama menghampiri kedua putranya, “Apalagi yang kalian ributkan?” tanyanya dengan kesal, dipandangnya dengan tajam Raga dan juga Raka. “Aku hanya menegurnya.” jawab Raga dingin. “Dan aku hanya bilang kalau aku tidur dengan istriku. Apa ada yang salah?” Brama menghembuskan nafas berat, “Raka, sepertinya dengan berat hati kau harus pergi dari rumah ini. Bawa Aluna bersamamu.” ucapnya lalu ia menatap Aluna, “Aluna, maafkan Papa. Bukan Papa tidak ingin kau tinggal disini, tapi kau bisa lihat sendiri apa yang terjadi pada kedua putraku.” Brama merasa bersalah pada perempuan malang yang terseret dalam hubungan rumit anak-anaknya. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya. Sebab Raka tidak mau menceraikan Aluna. “Pah …” Raga menyela. “Aku tidak apa-apa, Pah. Karena sebenarnya aku juga merasa

