Seperti yang dikatakannya, Raka memang benar mentransfer sejumlah uang untuk biaya operasi ibunya Aluna. Pria itu menepati janjinya untuk memberikan uang yang Aluna butuhkan, bahkan ia juga meminta dokter untuk memberikan fasilitas terbaik untuk wanita yang sebentar lagi akan menjadi calon ibu mertuanya itu.
Untuk sejenak Aluna bisa menghirup udara dengan tenang. Namun, sedetik kemudian jantungnya kembali berdegup dengan kencang, juga nafasnya kembali sesak. Seolah diafragma tengah menghimpit aliran nafasnya sekarang.
Ketika pikirannya kembali menarik Aluna, untuk mengingatkan jika sebuah kehancuran tengah menunggunya di depan sana.
“Aku harus menikah dengan bajing4n itu, tapi kenapa?” lirihnya pelan, gadis ini terduduk lemas di antara dinding rumah sakit yang dingin. Sepi tengah merasuki hatinya, sakit menusuk jiwa tapi pada siapa ia harus mengatakan semuanya. Ia hanya bisa diam dan tak bisa mengatakan apa-apa.
Ting ..
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunannya, pesan itu rupanya dari Raga. Kekasihnya itu tengah mengirim pesan padanya, Aluna tersenyum apa ini adalah jawaban dari semua kesulitan yang ia rasakan. Apa Raga adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menolongnya?
Ya Tuhan … Aluna merasa sangat bahagia. Ia lalu membuka ponselnya dan akan membalas pesan yang dikirimkan oleh sang pria tercinta.
Namun, baru saja Aluna akan membalas pesan itu tiba-tiba saja sebuah tangan kekar merebut ponsel itu lalu …
Brakkkk …
Ponselnya dilemparkan hingga hancur berkeping-keping, bahkan sepertinya tidak mungkin ponsel itu tak bisa lagi diperbaiki. Karena pria brengs3k yang menghancurkan ponselnya itu tengah menginjak-injak ponsel itu hingga remuk tak bersisa.
Dengan tatapan benci Aluna pun memaki pria itu, “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghancurkan ponselku!”
Dengan senyuman sinis ia menjawab, “Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan, Aluna? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau akan meminta pertolongan dari kekasih sialanmu itu?”
Aluna bangkit lalu menampar pipi Raka dengan kencang.
Plakkkkk …
“Apa yang ada dalam pikiranmu? Apa yang membuatmu melukai perasaanku sampai seperti ini? Apa salahku padamu?” Aluna tak bisa lagi menahan kesedihannya. Hatinya sakit karena Raka benar-benar membuat harapan satu-satunya hilang dari hidupnya.
Bagaimana ia akan meminta pertolongan dari Raga jika ponselnya saja hancur seperti itu.
Tangan kekar itu kini mencengkram leher kecil Aluna, “jika kau bertanya apa kesalahanmu padaku, jelas kau tidak memiliki kesalahan apapun. Tapi, dengan menyiksamu dan menyakitimu seperti ini, maka akan ada seseorang yang tersiksa melihatnya dan aku sangat menyukainya.” bisik Raka dengan licik.
Aluna pun menghempaskan tangan Raka dan mendorong pria itu. “Sebenarnya apa masalahmu sampai kau ingin menyakiti Raga, dia adalah kakakmu dan dia juga sangat memperdulikanmu.”
“Kakak tiri! Dia hanya kakak tiriku, dia telah mengambil cinta dari seorang wanita yang sangat aku cintai. Gara-gara dia wanita itu tidak mau bersama denganku, dan aku ingin Raga merasakan sakit yang aku rasakan, bahkan lebih dari itu aku akan menyiksa hatinya dan juga batinnya sampai dia gila!” Raka balas mendorong Aluna sampai gadis itu jatuh tersungkur.
“Bawa gadis ini!” perintahnya pada orang-orang berbaju hitam yang sejak tadi berdiri di belakangnya. “Pastikan dia aman, dan jaga dia sampai besok.”
“Baik, Tuan.” jawab mereka serempak dan lalu memegangi tangan Aluna.
“Ada apa ini? Kau mau membawaku ke mana?”
“Sepertinya ada perubahan rencana, lusa Raga akan pulang. Untuk itu kita akan menikah besok.”
“A-apa?”
-
-
Di lain tempat, Raga menatap heran pada ponselnya. Jelas tadi ia melihat Aluna telah membuka pesan darinya, karena tampak centang biru di layar ponsel itu. Namun, sedetik kemudian ponsel Aluna tidak bisa dihubungi. Raga menghela nafas panjang. “Apa ponselnya kehabisan baterai?” gumamnya pelan, “Padahal aku sedang sangat merindukanmu, Aluna.” Raga pun mengambil sebuah cincin yang ada di sakunya, saat meetingnya selesai tadi. Ia menyempatkan diri untuk membeli sebuah cincin untuk Aluna. Yang akan digunakan untuk melamarnya nanti
Ya … Raga akan melamar Aluna dan akan menjadikan gadis cantik itu istrinya. Raga sudah mantap dengan hatinya, restu juga sudah didapatkan dari kedua orang tuanya juga ibunya Aluna. Untuk itulah saat pulang nanti, Raga akan menikahi Aluna.
Dalam dinginnya malam, ia hanya menahan rindu dalam hatinya. Ia menatap indahnya kota di malam ini. Cahaya lampu di setiap bangunan menambah keindahan malam. Namun, hatinya sepi dan hampa karena tak ada Aluna di sampingnya.
“Sepertinya, aku memang tak bisa jauh darimu, Aluna.”
-
-
Keesokan harinya
Seperti yang dikatakannya, Raka benar-benar membawa Aluna untuk ia nikahi.
Tak ada pesta, tak ada tamu undangan. Yang ada hanya dirinya, Aluna, para saksi dan penghulu yang akan menjadikan mereka menjadi sepasang suami istri.
“Kau tidak boleh menangis, jangan kau memperlihatkan dirimu seolah terpaksa menikah denganku. Ingat … nyawa ibumu ada dalam cengkramanku, jika kau sedikit saja membuat masalah. Maka aku akan …. Kau mengerti kan?” Sengaja ia mengancam Aluna, agar rencananya untuk menikah tidak gagal.
Dengan tatapan penuh kebencian, Aluna pun menjawab. “Aku mengerti, sialan!” jawabnya, Aluna tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan Raka. Niatnya menikah dengan Aluna adalah untuk membuat Raga menderita, dengan melihatnya tersiksa. Namun, Aluna tidak akan menjadi wanita lemah di hadapan pria brengs3k yang menghancurkan hidup dan juga impiannya. Ia akan tegar dalam menghadapi hidupnya yang menyakitkan ini. Tidak akan Aluna biarkan Raka merasa puas dengan rencana jahatnya.
Aluna yang merupakan seorang anak yatim, juga tak memiliki kerabat lain selain ibunya. Itu memudahkan Raka untuk menikah dengannya. Hingga dengan mantap Raka pun mengucapkan ijab kabul untuk meminang Aluna menjadi istrinya.
Hingga para saksi pun berucap, “Sah …” maka sah-lah hubungan mereka berdua sebagai suami istri. Hubungan yang sebenarnya tidak pernah mereka inginkan. Namun, demi sebuah keegoisan, dan juga perasaan dendam. Pernikahan itu akhirnya dilakukan.
Raka tersenyum, ia bahagia karena kini Aluna telah menjadi istrinya. Dan sebentar lagi Raga akan menderita seperti yang ia inginkan.
Air mata tak mengiringi pernikahan Aluna dan Raka, air mata ini bukan air mata bahagia karena hubungan baru. Tapi ini adalah air mata penyesalan dari Aluna, penyesalan karena tak bisa menjaga cinta Raga untuknya, “Maafkan aku, Mas. Sungguh aku minta maaf padamu, maaf … karena aku tak bisa menjaga cintamu.”
Aluna hanya bisa membatin dan terus mengucapkan maaf pada Raga dalam hatinya.