"Udah bell guys yok ke kantin." ajak Valerie.
"Kei lo ikut ke kantin kan?" tanya Sella.
Mengapa Sella bertanya seperti itu, karena seorang Keisya sangat anti dengan keramaian. Dia lebih suka taman dan roftop karena lebih nyaman dan tenang. Kei juga sering bawa bekal. Kalo dia lupa bawa bekal pun ada Sella dan Valerie yang bisa bantu dia beli makanan di kantin dan memakan nya di ruang osis. Karena banyak yang harus ia urus.
Untuk tahun ajaran baru mungkin Kei akan lebih sering bawa bekal dari rumah dan makan di taman atau nggak di roftop.
"Nggak kalian aja, gua mau di kelas. Ngantuk," balas Keisya.
"Tapi lo bawa bekal kan?" tanya Sella khawatir takut sahabat nya lupa makan dan maag nya bisa kambuh.
"Iya sel bawa kok," ujar Kei sambil tersenyum.
"Yaudah kita ke kantin yah kei," timpal Valerie. Kei tersenyum dan mengangguk.
Mereka berdua pun langsung pergi ke kantin. Sepanjang koridor banyak para kaum adam menatap mereka dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak mereka berdua memiliki wajah yang rupawan. Valerie memiliki wajah yang imut dengan mata bulatnya. Dan Sella memiliki wajah yang dewasa dengan postur tubuh yang pas untuk ukuran remaja dan jangan lupa rambut gelombang mereka.
"Ih itu kakel yah? Cantik banget"
"Kak valerie imut banget sih"
"Kak sella keliatan badas yah tapi cantik banget"
"Caperrr"
"Cantik banget sayang bukan punya gue"
"Sella masih jomblo ye kan?sama abang aja"
Sella dan Valerie tidak mengubris bisik bisikan para murid yang masih bisa mereka dengar.
Sampainya mereka di kantin, mereka bingung karena kantin sangat penuh tidak ada tempat duduk yang tersisa lagi. Tidak lama kemudian Valerie mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Siapa lagi kalo bukan sang pujaan hati.
"Yok sel kita ke sana Nathan udah manggil," ucap alerie semangat. Sella hanya pasrah karena perut nya udah demo minta di isi.
"Hai sayang," ucap Valerie kepada Nathan. Teman-temannya pun mendengus melihat pasangan bucin itu.
"Kalian cari tempat duduk kan?" tanya Nathan. Di balas anggukan Valerie.
"Yaudah sini aja,boleh yah ken?" tanya Nathan.
"Hm," gumam Keenan. Nathan tersenyum itu berarti Ken mengiyakan.
"Kalian mau pesan apa? Biar Gavin yang pesan," tanya Nathan.
"Heh mulut loh enteng banget yang ngomongnya, lama-lama jadi babu beneran gua," dengus Gavin. Dion hanya bisa terbahak melihat penderitaan sahabatnya itu.
"Nggak usah biar gue aja yang pesan," timpal Sella
"Eh ayang Sella nggak apa apa kok kalo abang Gavin yang pesan untuk neng Sella," ucap Gavin sok manis.
"Nggak perlu." ketus Sella.
Bukan rahasia lagi kalo Gavin dan Sella seperti itu jika bertemu.Entah Gavin yang kesenengan ngegoda Sella atau Sella yang selalu memasang wajah tidak suka ke arah nya. Itu membuat mereka menjadi seperti tikus dan kucing.
"Awas jodoh." cetus Dion sambil senyum menggoda.
"AMIN"
"NAJIS" balas Gavin dan Sella barengan.
Aksa dan Keenan hanya tersenyum tipis melihat kelakuan mereka berdua, ingat hanya tersenyum tipis bahkan tidak terlihat seperti tersenyum.
"Sel jadi mesan nggak?" tanya Valerie.
"Iya jadi," balas Sella dan lanjut pergi ke stan makanan.
"AKU TEMENIN," teriak Gavin sambil nyusul Sella.
"NGGAK USAH TERIAK GAVIN!" tekan Sella.
"Kei nggak ikut kekantin yang?"tanya Nathan
"Nggak, kamu tau sendiri dia seperti apa," balas Sella. Nathan yang mengerti pun menganggukkan kepala saja. Lain hal dengan Keenan dan Dion bingung siapa itu Kei setau mereka sahabat Valerie cuman Sella.
"Keisya sahabat gue sama sella," jelas valerie.
"Kok nggak pernah liat?" tanya Dion di balas anggukan Keenan. Ntahlah Keenan tiba-tiba penasaran dengan Keisya itu. Bukan kah dia berada di circle yang cukup populer di SHS kenapa bisa ia tidak pernah melihatnya.
"Dia jarang ke kantin. Kei selalu bawa bekal. Makannya pun di kelas kalau nggak di taman di tempat yang sepi," jelas Valerie.
"Wah cupu?" ujar Dion. Di balas tatapan tajam dari Aksa dan Valerie.
"Enak aja loh bilang sahabat gue cupu. Kalo lo udah liat awas lo suka dan kagum-kagum sama dia," sinis Valerie.
"Lagian sahabat gue kan tahun belakang ketos masa kalian nggak kenal?" Tanya Vale bingung
"Mereka kalau upacara bolos terus," jawab Nathan.
"Bukan nya si ketos itu Fajri?" tanya Dion bingung.
"Udah enggak. Fajri kan udah pindah itulah jabatan nya di ganti oleh Kei," jelas Nathan.
"Oh pasti cantik ni kalo ketos." seru dion semangat.
"La sa ngapain lo natap tajam ke gue, lo kenal Keisya itu?" Tanya Dion.
Keenan pun menatap Aksa dengan bingung. apakah Aksa kenal dengan cewek yang di maksud mereka? Karena setaunya Aksa nggak pernah berhubungan dengan perempuan kecuali mami nya. Yah Aksa sama dengan keenan sama-sama anti perempuan.
"NGGAK" ucap dingin aksa. Yah di antara anggota yang lainnya Aksa yang paling misterius, walaupun begitu mereka tetap percaya dengan Aksa.
Setelah itu datanglah Gavin dan Sella membawa makanan. Hanya gavin yang membawa makanan,sedangkan Sella tidak membawa apa apa.
"Bahas apa nih?" tanya Gavin kepada mereka.
"Bahas keisya," jawab Valerie.
"Kenapa dengan kei?" tanya Sella.
"Nggak apa apa Dion cuman penasaran," jawab Sella.
"Penasaran kenapa? Keisya itu cantik yah?" tanya Gavin.
"Nggak usah macem-macem sama sahabat gua!" tekan Sella jangan lupa tatapan tajamnya membuat Dion bergidik ngeri.
"Calon lo serem vin," bisik Dion ke gavin. Gavin hanya terkekeh.
"Iya kalo begini kagak bisa jadi buaya gue," balas Gavin berbisik. Dion terkekeh pelan
Roftoop
Setelah kepergian kedua sahabatnya ke kantin. Keisya mengambil bekal nya dan membawa nya ke roftop. Ia akan memakan bekal nya di sana. Kenapa ia tidak ikut teman nya kekantin? Kei sangat malas dengan keramaian dia lebih suka suasana tenang dan ia terlalu malas ngeluarin tenaga untuk ngantri atau menunggu makanan datang.
Setelah sampai di roftop Kei langsung membuka makanan nya dan memakan sambil menikmati angin di roftop yang menyejukkan. Pandangan Kei lurus menatap gedung gedung yang ada di hadapannya.
"Huh aku merindukkanmu ma," lirih Kei. Ia juga manusia normal yang ingat akan orang tercintanya sekaligus tempat nya berkeluh kesah yang telah meninggalkannya selama lima tahun.
Ia juga butuh sosok itu untuk menyambut ia pulang dari sekolah, membuat makanan di pagi hari, membangunkan nya. Tapi ia berusaha untung tetap tegar ia paham papa nya yang lebih merasakan kehilangan orang yang paling di cintai. Kei tidak ingin egois untuk terus bersedih karena ia masih memiliki sang papa pahlawannya cinta pertamanya.
Setelah memakan bekal nya Kei istirahat sejenak menikmati angin roftop untuk menenangkan pikirannya.