Setelah makan itu Anin pulang dan menemukan rumahnya masih sepi. Benarlah tidak ada lagi Mutia sama sekali. Anin ke kamar dan merinding sendiri atas apa yang tadi di lihatnya. Bekas basah masih tertinggal di kasurnya. Anin gagas mengganti seprei semuanya bahkan sebelum ia sempat berganti pakaian. Gegas Anin menariknya satu-satu dari sarung bantal hingga selimut pun. “Bekas mereka?” tanya Hadid terdengar. Anin menghentikan langkah, “Iya, Mas.” “Buang aja, Nin, nanti beli yang baru,” saran Hadid lagi. Anin pikir ia juga jijik sekali jika harus memakainya lagi. “Iya, Mas.” Anin ke dapur, tapi Hadid juga mengekor di belakang Anin. “Mas mau ngapain?” “Bikin kopi.” “Biar Anin bikinin. Mas tunggu aja di kamar.” “Oke.” Hadid kemudian berbalik arah. Anin sendiri membuang seprei bekas itu d

