Anin mengusap tulisan itu meski air mata membuat sulit fokus penglihatannya. Itulah tulisan tangan milik Hadid yang sebenarnya. Tulisan yang tidak terlalu rapi, tapi penuh makna. Inilah surat dari Hadid yang sesungguhnya. "Mbak," panggil Haura muncul di kamar mereka. Melihat kakaknya yang masih hanya terbungkus handuk, Haura pun bertanya, "Belum ganti pakaian?" Anin menyeka hidungnya. Ia tersenyum sambil menangis mengatakan, "Mas Hadid maafin Mbak, Ra." "Alhamdulilah," ucap Haura penuh syukur. "Maasyaallah. Semoga Allah segera sembuhkan dia. Aamiin." "Aamiin." Haura tidak hanya mengaminkan doa kesembuhan untuk Hadid, tetapi untuk kakaknya juga. Anin sedang sekarat. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas dia sedang tak baik-baik saja. Semoga Allah sembuhkan luka hati Anindya Fatimah pu

