Anin tersentak saat Hadid membuka kasar pintu kamarnya. Namun, Anin tak membahas apa pun karena melihat aura marah suaminya yang langsung mengunci pintu dan berbaring di sebelahnya lagi. Anin merasa tak nyaman membelakangi suaminya. Namun, saat Anin ingin berbalik, suara Hadid mencegahnya segera. “Aku lagi marah, Nin. Bukan ke kamu.” Anin tetap berbalik pelan-pelan. Tangannya kini menjadi alas antar pipi dan bantal. “Anin ngerasa gak sopan kalo ngasih punggung ke Mas Hadid.” Lembut suara Anin, santun kalimatnya. Tak ada apa-apa di tengah mereka. Jarak yang diisi udara tetap Hadid jaga. Jangan sampai makin terasa marahnya oleh Anin yang tak berdosa. “Anin tidur dulu, Mas.” Hadid tak merespons, dengan begitu Anin pun belum bisa menutup matanya. “Ada yang ingin diceritain sama Anin,

