15. Jujur dan naik tanding

1369 Kata
"Maaf," Moti membuka percakapan. Randra menatap Moti yang sedang terdunduk sambil memain-mainkan jari-jarinya. "H-hari itu Momok buru-buru soalnya...soalnya hari itu Momok udah telat masuk sekolahnya," lanjut Moti gugup. Randra masih menoleh tajam ke arah Moti. "Momok nggak tahu kalau kaleng susunya akan kena Ran, ma-aaf yah...," lanjut Moti lagi. Tak mendapat respon dari sang lawan bicara, Moti mendongak. "Tapi beneran kok, Momok nggak ada niat buat lempar kaleng susunya ke arah wajahnya Ran, emm...Ran bisa balas kok kalau Ran marah sama Momok," "Em...tunggu yah Momok ambil kaleng susunya Momok dulu, ada di tas sekolah Momok, tungu yah Ran," Moti berbicara cepat-cepat lalu ia bangkit cepat. Sreet "Eehhh!" kaget Moti. "Ran, kenapa Momok di tarik lagi sih?" Moti menoleh ke arah Ran. Randra menatap Moti dengan tajam. "Mau kemana?" Randra bertanya datar. "Eh?...em...mau ambil kaleng susunya Momok di tas, tapi tasnya ada di kelas," jawab Moti. Randra menaikan sebelah alisnya. "Untuk apa kaleng s**u itu?" "U-untuk...untuk...untuk em...," Moti bingung mau jawab apa lagi. Randra menahan senyumnya. "Untuk apa?" "K-kan waktu itu Momok lempar Ran dengan kaleng susunya, jadi Ran balas aja yah lempar Momok dengan kaleng s**u lagi, supaya kita impas, mau kan?" Moti membujuk. Randra tertawa tertahan. "Ppfftt," "Kata Lani...nanti jari-jari tangan Momok diretakin sama Ran kalau ketahuan Momok pelakunya...," ucap Moti pelan sambil tertunduk. Randra tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala. "Duduk disini dan jangan kemana-mana," pinta Randra. "Nanti kalau Momok mau masuk kelas gimana? Hari ini Momok ada praktek tanam bunga di kebun," ucap Moti. Randra menyipitkan matanya tajam ke arah Moti. "Mau disini atau jari-jari tanganmu akan aku retakan?" ancam Randra. "Hik...," Moti membulatkan matanya lalu ia mengangguk berulang-ulang, ia merasa ngeri dengan ancaman Randra. "Disini saja, yah disini saja, Momok di sini saja!" Moti berseru panik lalu buru-buru ia menarik Ran agar juga ikut duduk disampingnya. "Ran, ayo duduk disini! Ayo ayo...," pinta Moti cepat-cepat. Randra tertawa setan di dalam hati. "Kena kau Moti, hahahaha," batin Randra. ♡♡♡ "Randra mana?" Busran bertanya ke arah para anggota Storm Rider. Mustaf dan Bari menggeleng tak tahu. "Tidak tahu," Bari menjawab. "Lalu Aliya dan yang lainnya?" Busran bertanya lagi. "Mungkin sedang dengan pacarnya," sahut Bara dari belakang. Mereka bertiga duduk di kursi berbentuk lingkaran. "Akhir-akhir ini ada yang beda dengan Randra," Mustaf dan Bari menoleh ke arah Busran. "Perasaanku saja atau memang Randra sudah jarang berada di sini?" Busran bertanya bingung. "Aku juga merasa seperti itu, sikapnya itu berubah dari dingin menjadi seperti sekarang dari beberapa hari yang lalu," Mustaf bersuara. "Kau ingat tiga hari yang lalu waktu kita sedang di ruang olahraga?" Mustaf bertanya ke arah Bari dan Busran. Mereka berdua mengangguk serempak. "Dia seperti mencari seseorang, arah pandangannya selalu mengarah ke arah dimana kebun bunga berada, ah bukan, lebih tepatnya ke arah dimana anak-anak PTH berada," Mustaf berucap. "PTH...," Busran melirik ke arah Bari dan Mustaf. "Adik dari ketua Shadow Rain di sekolah sebelah kan?" Busran bertanya. Mustaf dan Bari saling memandang lalu membelalakan mata mereka. "Jangan bilang kalau Randra punya hubungan dengan adiknya Agil?" tanya Mustaf tak percaya. "Astaga, itu...itu...bagaimana nanti hubungan antara Agil dan Randra? Mereka kan tidak saling suka," Mustaf tercengang. Clara mengeraskan rahang dan kepalan tangannya. "Kurang ajar," desisnya. ♡♡♡ "Ada apa antara Randra dan adikmu?" Alan bertanya. Agil menoleh ke arah temannya. Ada Dwi dan juga Febrian disitu. Sedangkan Mali, Ussy dan Sifa berada di samping mereka. .... Flashback "Kenapa Randra bisa bersamamu?" Agil bertanya tajam ke arah dimana Moti sedang duduk sambil bersandar di atas tempat tidurnya. Moti menelan susah ludahnya, ia takut untuk menjawab pertanyaan itu. "Momok, apa susahnya sih jawab kakak?" Agil dongkol. "Ehm...emm...itu kak...," gumam Moti tak jelas. "Ck! Kamu kenapa sih, Mok?" Agil bertanya kesal. "Itu kak...itu...," Moti takut-takut. "Itu apa Momok? Kamu dari tadi sampai sekarang kakak tanya selalu saja kamu banyak alasan, lelah lah, ngantuk lah, lapar lah...kamu sengaja yah ngerjain kak Agil, hm?" Agil bertanya tajam ke arah sang adik. Moti kelagapan. "B-bukan kak," jawab Moti. "Lalu apa? Jawab saja," tanya Agil lagi. Agil masih terbawa arus dongkol ke adiknya yang satu itu. Moti menarik napas pasrah. "Huuussfff...Moti pelakunya," jawab Moti pelan dan perlahan. Agil menaikan sebelah alisnya. "Pelaku apa?" "Yang lempar kaleng s**u itu...," jawab Moti lesu lalu ia menggigit-gigit pipi dalamnya. Mata Agil melotot maksimal. "Apa!" .... "Apa!?" kaget seluruh anggota Shadow Rain. Febrian melototkan matanya maksimal. "Kau tidak bohong kan Agil?" Febrian bertanya. Agil menggeleng, tanda tidak berbohong. Plok Cika menepuk jidatnya frustasi. "Kalau begini, Momok akan susah lepas dari Randra," Cika bersuara. "Dia kan bukan anggota Shadow Rain atau anak yang punya keahliam bela diri biar sedikitpun, habislah dia," Cika frustasi. Febrian masih mencerna penjelasan Agil tentang Randra dan Moti tadi malam, ditambah dengan ucapan Cika yang baru saja, membuat ia super khawatir pada Moti. "Momok sekarang masuk sekolah kan?" Febrian bertanya cepat ke arah Agil. Agil mengangguk. "Dia datang bersamaku, mulai dari sekarang dan seterusnya," Febrian melangkah cepat ke luar ruangan lalu berlari. "Hei Febri! Kau mau kemana?" Agil berteriak. Namum tak dihiraukan oleh temannya itu. "Febri, kamu di cariin Me...li...hei! Mau kemana dia?" Naran bertanya. Semua mata meliriknke arahnya. ♡♡♡ Randra berjalan santai ke arah gedung SMA Socien, dia berada di gerbang penghubung antara SMK dan SMA Socien, gerbang itu memang dipisahkan oleh tembok dan gerbang, namun SMK dan SMA Socien masih dalam satu naungan yayasan Basri, jadi murid-murid SMA dan SMK Socien dapat bolak-balik dua sekolah itu. Wuusshhh Seseorang berlari cepat melaluinya. Randra berbalik dan melihat Febrian lari tak menghiraukannya ataupun ocehan anak-anak lain. Matanya mengarah dimana sekarang Febrian berdiri. "Momok!" seru Febrian. Moti menoleh ke arah teman kakaknya itu. "Hm? Ah, kak Febri yah?" sahut Moti diiringi oleh senyum lebar gadis itu. Febrian membolak-balikan tubuh Moti, dilihatnya kanan-kiri dan belakang tubuh Moti, seakan sedang mencari sesuatu. Tangan Febrian meraih jemari Moti lalu dilihatnya secara teliti apakah ada luka atau tidak. Moti mengedip-ngedipkan matanya, keningnya berkerut. "Kak Febri kenapa bolak-balikin badan Momok? Ini juga kenapa tangannya Momok di giniin?" Moti bertanya bingung. Setelah tidak mendapat luka atau apapun dari tubuh Moti, Febrian memegang kedua bahu Moti lalu mungguncangkan pelan tubuh munggil itu. "Randra tidak apa-apakan kamu kan Momok?" Febrian bertanya, pertanyaan itu seperti sebuah desakan. Moti menggeleng bingung. "Benar?" Febrin bertanya lagi. Moti mengangguk. "Huufff...syukurlah kamu tidak di apa-apakan Randra," Febrian menarik napas lega. Moti menatap bingung bingung ke arah teman kakaknya itu. Randra menatap tajam ke arah dua orang itu. Tatapannya tanpa ekspresi. Agil, Alan, Cika, Mali dan Ussy menatap ke arah Febrian dengan pandangan kasihan. Sedangkan Naran menatap ke arah Febrin dan Moti dengan pandangan bingung. "Ada apa dengan Febrian?" Naran bertanya bingung. "Kenapa dia memegang tangan gadis itu? Tunggu...itu...rambutnya merah bata...dia...dia adikmu kan?" Naran menoleh ke arah Agil. Agil hanya menggangguk singkat. "Febrian...dia...dia...dia suka adikmu?" Naran tercengang. "Astaga, lalu bagaimana dengan Meli sepupuku?" Naran syok. Randra mengubah ekspresinya datar, baru saja dia tersenyum dan menahan tawanya mati-matian karena gadis berambut merah bata itu, sekarang dia harus menahan ekspresi dingin dan dongkol serta kesalnya lagi. "Febrian...dia kan...pacarnya Meli," sahut seorang siswi. "OMG! Dia kan...adiknya Agil," "Ya ampun, ada apa ini?" Masih banyak lagi bisik-bisik penasaran dari siswa-siswa SMK dan SMA Socien. Randra berbalik dan tatapannya bertubrukan dengan mata biru Aran yang juga baru saja selesai menyaksikan adegan romantis menurut bisik-bisik para gadis di sampingnya. Namun menurutnya, adegan itu adalah adegan yang sangat berbahaya untuk di saksikan, sebab dengan sikap Febrian begitu orang-orang akan mudah mengetahui sisi lemah Febrian. Mereka saling berpandangan cukup lama. Randra memutuskan untuk pergi melangkah ke kelasnya. Pandangan Aran menoleh ke arah Moti dan Febrian berada. "Bertepuk sebelah tangan," gumam Aran pelan, lalu berbalik menyusul Randra ke kelas mereka. "Jadi Febrian punya perasaan pada gadis itu?" Clara tersenyum sinis. "Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," lanjut Clara pelan. ♡♡♡ Moti akan pulang, ia harus menunggu kakaknya, namun ia bingung dimana ia harus menunggu kakaknya itu, apakah dia menunggu di muka gerbang sekolahnya saja, ataukah ia harus pergi ke sekolah sang kakak untuk menunggunya. "Kenapa sekarang mau pulang saja Momok jadi ribet begini sih?" keluh Moti. "Ini mau tunggu disini apa disana yah?" Moti bertanya bingung. Ia menaikan sepuluh jarinya. "Disini, disana, disini, disana, disini, disana....disana...," Moti menarik napasnya lalu menghembuskannya kasar. "Baiklah, disana saja," Moti berjalan menuju ke arah sekolah sang kakak. Tak Tak Tak Moti berjalan memasuki gerbang penghubung antara SMA dan SMK Socien. Sreet Ada yang menariknya dari arah samping. "Ah...," Moti terkaget. Belum sempat menoleh ke arah sang pelaku, Moti mendapat sesuatu yang tak terduga. Bugh Tak "Aaakkhh!" Moti berteriak sakit. Seseorang menendang perutnya lalu ia terjatuh. Moti meringis sakit, ia melihat lutut kirinya yang tergores karena gesekan antara lututnya dengan dasar kasar itu. Moti terbelalak kaget. "Aaa...astaga! Lutut Momok!" panik Moti. Ia menoleh ke arah sang pelaku, terlihat seorang gadis cantik sedang berdiri menghadapnya sambil melipat tangannya di d**a, pandangan yang didapatkan Moti berupa pandangan sinis dan mengejek. "K-kenapa kakak tendang saya?" tanya Moti. Clara menaikan sebelah alisnya dan tersenyum mengejek. "Berdiri kalau kau bisa, lawan aku," pinta Clara sinis. Murid-murid SMK dan SMA Socien berbondong-bondong berlari ke tempat dimana Moti terduduk sambil memegang lututnya yang tergores dan Clara yang sedang berdiri sambil melipat tangannya "Aku, Clara Bantan, menantang kau Moti Aqila Baqi untuk naik tanding dua hari lagi!" tantang Clara. ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN