Siapa yang menyangka akan mendapatkan hadiah ulang tahun seperti itu? Aku bahkan tak sudi menganggapnya sebagai hadiah ulang tahun.
Aku sungguh berharap apa yang terjadi pada kedua orangtuaku hanyalah mimpi buruk yang tidak nyata.
Sayangnya, laki-laki berengsek ber-hoodie putih di depanku ini langsung menepis seluruh harapanku. Menyadarkanku bahwa aku telah terjun ke neraka yang paling dalam.
Dia yang mengaku bernama Sean itu memasang wajah masam saat aku menyebutnya “Pembunuh c***l”. Gimana enggak? Dia sengaja membuatku pingsan, lalu membawaku ke sebuah tempat asing, membaringkanku di atas kasur, lalu menyelimutiku ... bukankah itu tindakan yang m***m?
Tapi setelah kuraba-raba tubuhku sendiri, kurasa aku masih belum cacat. Pakaianku juga masih utuh. Kurasa hanya mentalku saja yang mendadak merosot setelah apa yang terjadi barusan.
Aku menggeser pandanganku ke cowok di sebelah Sean. Dia berambut pirang, berkulit putih ala-ala Asia Timur, dan sedang mengenakan kemeja polosan berwarna hijau terang. Benar-benar selera warna yang aneh. Cowok itu memiliki postur tubuh yang ideal, hanya saja di antara mereka bertiga, dia jadi terlihat pendek.
“Benkichi,” katanya tanpa mengulurkan tangan.
“Nggak tanya,” ketusku.
Lalu aku menggeserkan pandanganku lagi ke cowok yang terakhir, di samping Benkichi. Cowok itu memiliki tinggi yang sama dengan Sean, hanya saja warna kulitnya yang agak gelap menjadi kontras sekali jika dibandingkan dengan warna kulit Sean dan Benkichi yang putih. Rambut cokelatnya agak berantakan, tapi sebenarnya terlihat cukup oke. Yang membuatku terpaku cukup lama adalah garis hitam di bawah matanya. Aku tahu itu bukan makeup.
Cowok itu benar-benar beruntung terlahir dengan eyeliner alami di bawah matanya.
“Gue Jemi.” Berbeda dengan Benkichi yang tak terlalu friendly, Jemi dengan ekspresi senang mengulurkan tangannya padaku. “Iya, lo nggak tanya. Gue yang inisiatif memperkenalkan diri.”
Seperti bisa membaca pikiranku, aku terdiam mendengar kata-katanya.
Kemudian, tanpa dikomando mereka bertiga berjalan keluar kamar. Aku buru-buru menjatuhkan kakiku dari atas ranjang, lalu kemudian meringis. Sial, rasanya sakit banget. Kayak seolah-olah kedua kakiku buntung.
Menyadari bahwa aku tak mungkin berdiri sendiri untuk saat ini, akhirnya aku berseru, “Elo! Urusan gue sama lo belum selesai ya! Jangan kabur!”
Mereka bertiga berhenti, tapi yang kembali masuk ke kamar tentu saja hanya Sean. Aku tak peduli dengan kedua cowok lainnya, tapi yang saat ini ingin kugebuki sampai rata adalah cowok berengsek ber-hoodie putih itu.
“Apa?” tanyanya malas.
“Apa?” ulangku tak percaya. “Gue udah sukarela lo bawa ke sini, sekarang lo jelasin kenapa harus orangtua gue yang lo bunuh.”
“Mana ada sukarela tapi bawa-bawa polisi?” Cowok itu mendecih. “Asal lo tau, gue bukan sembarang orang yang bisa lo laporin ke pihak berwajib.”
Karena merasa tak ada hubungannya dengan mereka, Jemi dan Benkichi melanjutkan langkahnya meninggalkan kami berdua.
Kalau dipikir-pikir, cowok di depanku ini benar-benar tak merasa bersalah sama sekali. Apa dia tidak punya hati? Apakah nyawa manusia tak ada harga baginya?
“Lo sama sekali bukan manusia,” ucapku sarkas. Aku bermaksud mengatainya orang yang tak punya hati dan moral, tapi ternyata respons yang kudapat benar-benar tak pernah kupikirkan.
“Emang bukan,” sahutnya santai. “Kami semua di sini bukan manusia, termasuk lo.”
“Hah?” Orang ini ngomong apa sih? Kayaknya dia benar-benar sudah gila. “Sori-sori aja ya. Gue bukan pembunuh. Otak gue masih sehat, masih mampu membedakan mana tindakan baik dan buruk. Nggak kayak lo. Udah ngebunuh orangtua gue, nggak merasa bersalah sama sekali lagi.”
Dia termenung sesaat. Kemudian dia menepuk tangannya sendiri. “Oh, jadi maksud lo tadi itu sarkas? Kirain lo beneran nyadar kalo gue bukan manusia.”
Cowok yang bernama Sean itu benar-benar gila. Apa sih maksudnya? Omongannya sulit sekali untuk dimengerti.
Tiba-tiba Sean menatapku dengan pandangan kosong yang agak-agak menakutkan. Aku sempat keder dan berniat menarik diriku kembali ke atas kasur. Tapi kemudian dengan suara rendah, Sean berkata, “Buruan ke sini, lama amat.”
“Hah?” tanyaku takut-takut.
“Gue nggak ngomong sama lo,” jelasnya setelah memasang ekspresi normal. “Lo mau tau alasan di balik semua ini kan? Nanti akan ada orang penting yang dateng ke sini. Lo tunggu dengan tenang, jangan bikin keributan. Gue cabut.”
“Tunggu!” seruku panik. “Lo mau ke mana?”
“Ada urusan. Kenapa?”
“Orang penting yang lo maksud itu Bos kalian?” tanyaku khawatir.
Sean mengangguk.
“Ada berapa orang di sini?” tanyaku lagi. Tangan kananku yang ada di balik selimut diam-diam mengambil sebilah pisau lipat yang kusembunyikan di kantong yang paling dalam. Walau ukurannya tak terlalu besar, tapi cukup untuk menggorok leher para penjahat. Pisau ini pernah kugunakan untuk memotong kayu api unggun saat berkemah dulu. Jadi harusnya ini senjata yang bisa diandalkan.
“Banyak, gue nggak sempet hitung jumlahnya,” jawabnya.
“Oke,” jawabku kalem. “Sekarang lo boleh pergi.”
Sean memasukkan tangan kirinya pada saku celana, lalu berjalan menghampiriku. Wajahnya yang berubah dingin itu menatapku lekat-lekat. Dia mencondongkan kepalanya padaku, lalu tangan kanannya menekan tanganku yang memegang pisau lipat di balik selimut.
“Gue pergi setelah lo kasih pisau itu ke gue,” Sean menatapku serius, “jangan paksa gue buat meraba-raba seluruh badan lo.”
Aku menggeleng dan terus mencengkeram pisau lipatku satu-satunya.
Sean semakin mendekatkan dirinya padaku sampai-sampai aku bisa merasakan napasnya menerpa kulitku. Sial, aku harus kabur bagaimana? Kedua kakiku sepertinya mustahil untuk kugunakan berlari-larian. Kecuali aku benar-benar ingin buntung.
Sial, sial, sial! Ayo Alena, gunakan otakmu untuk memikirkan caranya kabur!
“Kasihkan ke gue,” kata Sean sambil berusaha menarik selimut yang membungkus tubuhku.
“Dasar c***l!” Aku memukul-mukul dadanya dengan tangan kiriku sekuat tenaga, tapi cowok itu tetap tak bereaksi pada pukulanku. Dia terus menarik selimutku sampai akhirnya terbuka sepenuhnya.
Aku langsung melayangkan pisauku padanya, dan dia menghindar dengan gesit.
“Lo tau lo bukan tandingan gue,” ejeknya. “Lupa gue bisa tetap hidup setelah lo gorok leher gue tadi?”
Perkataanya langsung menampar diriku dengan keras. Ya, aku lupa bahwa cowok ini bisa menutup luka besar di lehernya setelah kusayat dalam. Kukira itu hanya halusinasiku, tapi ternyata....
Dia memang bukan manusia biasa!
Sial, kalau begini ceritanya, tak ada harapan aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Kalau Sean bukan manusia, maka sudah dipastikan Jemi dan Benkichi juga bukan manusia. Begitu pula dengan orang penting yang disebutnya tadi.
Mau berapa kali kugorok lehernya, mereka akan tetap bertahan hidup.
Memangnya aku sekarang ada di mana? Dunia fantasi? Dunia fiksi? Kenapa bisa aku berhubungan dengan makhluk-makhluk aneh seperti mereka?
Kurasa aku memang sudah gila. Kehilangan kedua orangtuaku secara mendadak dengan cara yang mengenaskan telah meninggalkan trauma besar pada hatiku. Tidak aneh jika sekarang aku terkunci pada khayalan bahwa orang-orang di depanku ini bukan manusia biasa.
Tiba-tiba pikiran untuk mengakhiri segalanya di sini terlintas di benakku. Ya, itu bukan ide buruk. Lagipula aku sudah tak punya alasan untuk hidup di dunia ini. Keluargaku sudah tiada, aku tak bisa lagi bertemu Chrissy, dan lagi ... aku terjebak dengan orang-orang aneh yang mengaku bukan manusia biasa.
Sudah terlalu berat untuk kuhadapi. Semua ini semakin tak masuk akal. Jadi lebih baik ... akhiri saja.
Pelan-pelan kuangkat pisau lipat yang lancip itu ke arah leherku dan secepat kilat menyayatnya.
This goddamn world, good bye.
“Nggak secepat itu, bodoh.” Tangan Sean menahan ujung pisau itu sebelum benar-benar menyentuh kulitku. “Lo bener-bener cewek yang merepotkan.”
Dengan begitulah, aku kembali tertidur saat Sean menyentuh puncak kepalaku.