4. Nadia VS Denis

1116 Kata
Nadia dan Fernand telah menerima alamat rumah baru dari Denis dan istrinya. Nadia sangat terkejut mendengar penuturan dari nanny Velove jika Denis telah memperlakukan putrinya dengan begitu buruk. Nadia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, Nadia akan memberikan pelajaran kepada suami mendiang kakaknya. Rupanya Pevita telah salah memilih seorang suami. Pevita telah salah meminta lelaki biadab itu untuk merawat dan membesarkan anaknya. Merawat apanya? Denis bahkan enggan bertemu Velove meskipun bocah itu tengah sakit ataupun merindukan lelaki itu. Sebagai seorang anak, Velove pasti juga ingin seperti teman-temannya yang lainnya. Velove juga ingin merasakan kumpul bersama Denis dan mama barunya. Lalu apa tujuan Denis menikah lagi? Untuk memuaskan nafsunya yang selama ini tidak tersalurkan karena istrinya meninggal? Atau mungkin untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dia telah move on dari istrinya yang sudah terkubur di dalam tanah. Isakan keluar dari mulut Nadia, ibu dua anak itu tidak sanggup membayangkan penderitaan keponakannya. Nadia merasa telah gagal untuk menjadi wali dari Pevita dalam mengawasi anaknya. "Aku malu harus berkata apa dengan Pevita saat aku mengunjungi makamnya, hikss aku aunty yang bodoh," isak Nadia di dalam mobil. Saat ini mereka memakai mobil pribadi yang sering digunakan mengantar jemput anak itu. Kebetulan sekali sopir keluarga Amberley datang di waktu yang tepat. Fernand menggenggam tangan istrinya, membawa wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Sopir pribadi Velove melirik sekilas Nadia Mark Wijaya yang desain bajunya sudah terbang ke berbagai belahan dunia. Lelaki paruh baya itu sangat bersyukur, setidaknya keluarga mama Velove turut memperdulikan anak itu. "Kenapa dia sekejam itu kepada putrinya sendiri Fernand," isak Nadia di dalam pelukan d**a bidang milik suaminya. "Hsttt, kita tidak tahu apa yang tengah menghinggapi pikiran Denis sayang. Yang penting kita sudah tahu bagaimana keadaan Velove, selanjutnya giliranmu yang menentukan," ucap Fernand mengelus punggung istrinya yang bergetar. "Aku akan membawa Velove bersam kita ke Indonesia Fernand. Apapun yang terjadi, sekalipun aku harus berhadapan dengan lelaki biadap itu di jalur hukum," ucap Nadia dengan tatapan mata menyala penuh kebencian. Perihal cinta dan benci, Nadia adalah juaranya. Mobil yang mereka tumpangi kini memasuki pelataran rumah keluarga baru Denis. Rumah yang terbilang cukup mewah membuat Nadia merasakan cubitan di dalam hatinya. "Dia biarkan putrinya hidup bersama para pelayan, sedangkan dirinya hidup bagaikan raja di rumah ini?" Ucap Nadia meremas tangannya penuh kebencian. Wanita itu membuka pintu mobil ya sendiri. Nadia melangkah lebih dulu disusul Fernando di belakangnya. Fernando tidak akan ikut campur masalah keluarga besar Nadia, tapi jika itu menyangkut seorang anak yang tidak bersalah maka Fernando tidak akan melepaskan b******n itu dari cengkramannya. Nadia memencet bel rumah Denis, berkali-kali dengan tidak sabar. Pintu rumah terbuka, menampilkan sosok wanita yang yang bisa Nadia tebak jika wanita itu adalah istri baru Denis, mama tirinya Velove. Nadia menatap wanita itu sekilas. "Maaf anda mencari siapa?" Tanya Inara tersenyum, sedangkan Nadia mendengus dan melangkah dengan angkuhnya masuk ke dalam rumah itu di ikuti Fernando menyusul langkah wanita itu. Inara segera menyusul Nadia dan Fernando. Wajah mereka tampak asing dan Inara belum pernah melihat wajah mereka sebelumnya. Apakah mereka orang jahat? Tapi melihat penampilan mereka rasanya mereka bukan orang sembarangan. "Maaf anda siapa?" tanya Inara menahan amarah. Nadia berbalik dan menatap tajam Inara. Kali ini Inara tahu siapa wanita dengan sorot mata angkuh dan mematikan itu. Dia Nadia Mark, desainer yang sering lalu lalang di majalah yang biasanya dia beli. "Panggilkan aku b******n itu," ujar Nadia membuat Inara menatap Nadia bingung. "Siapa yang anda maksud?" Tanya Inara balik. "Denis, siapa lagi. Panggilkan aku bajungan biadab itu," ucap Nadia dengan matanya kini menyala. Inara menautkan alisnya, apakah kedatangan Nadia ke rumah mereka ada hubungannya dengan Velove yang tidak lain keponakan wanita itu? "Saya istrinya, dan tolong jaga bicara anda tentang suami saya," ucap Inara dengan nada suara sedikit meninggi, tidak terima mendengar Nadia mengatakan hal buruk tentang suaminya. Nadia bertepuk tangan dengan kekehan mengejeknya. "Ohh jadi kau wanita ular itu, aku tidak berurusan denganmu " acuh Nadia menatap Inara dari kepala hingga ujung rambut wanita itu sampai membuatnya risih. "Siapa yang datang sayang ?" Tanya Denis dengan pakaian santainya, dia terperanjat saat melihat Nadia dan Fernand berada di rumahnya. Denis berjalan mendekat kearah mereka. Bukankah seharusnya Denis bisa memprediksi jika hari ini akan datang? Hari dimana Nadia akan merenggut Velove dari papa seperti dirinya. "Nadia, Fernand, apa yang membuat kalian kemari?" Tanya Denis mencoba santai. Nadia menatap Denis dengan tajam. Bisa-bisanya lelaki itu duduk santai di rumah bersama istri barunya saat Velove dirawat di rumah sakit! Hebat sekali kau b******n! "Membawa Velove pulang ke rumah mamanya," jawab Nadia membuat Denis tersentak. Lelaki itu menatap Nadia lekat, mencari kebohongan di mata wanita yang tidak bukan adalah adik tiri mendiang istrinya. "Apa maksudmu Nad?" Tanya Denis. "Apa kau bodoh Denis? Aku akan membawa pulang Velove ke RUMAH MAMANYA!" Ucap Nadia penuh penekanan. Denis menyerngit heran, dia tau Nadia sedang emosi. Tapi kenapa? "Tidak, kau tidak boleh membawa anakku bersamamu," jawab Denis yang malah membuat Nadia tertawa kencang meskioun sudut matanya telah menitikkan air mata. "Anakmu kau bilang? Hahaha papa seperti apa dirimu Denis?" Cibir Nadia. Nadia menatap tepat di manik mata lelaki itu. "Apa kamu tau Velove saat ini sedang terbujur dir umah sakit?" Tanya Nadia membuat Denis terbelalak begitu juga dengan Inara. Velove di rumah sakit? Bagaimana dia tidak tau kabar itu? "A.apa? Kapan?" "Hahaha papa yang bodo , tentu saja kau tidak tau. Kau kan sibuk dengan pelacurmu ini!" kata Nadia menatap tajam Inara yang diam membisu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Denis mengeluarkan ponselnya dan terdapat 24 panggilan dari Gita dan pesan bahwa Velove berada di rumah sakit kemaren. "Dimana putriku dirawat?" Tanya Denis. "Putrimu ? Sungguh lucu. Drama yang menakjubkan," kata Fernand datar, aura dinginnya mulai menyeruak memenuhi ruangan itu. "Dengan persetujuanmu ataupun tidak, aku akan membawa Vee pulang bersama kami," kata Nadia sebelum dia menarik tangan Fernand berjalan keluar rumah. "Coba saja! Aku akan melaporkan kalian penculikan anak," ujar Denis membuat Nadia berjalan kearahnya "Silahkan Denis, aku bahkan bisa menjebloskanmu kepenjara dengan tuduan penelantaran anak," desis Nadia yang tidak buta akan hukum perlindungan anak. Nadia berjalan kearah Denism Plakkk, "Itu untuk air mata keponakanku." Plakkkk, "Itu untuk Pevita yang sudah kecewa dengan sikap bajinganmu!" Inara terperanjat melihat suaminya ditampar Nadia sebanyak dua kali. Denis menunduk merutuki kesalahannya, sedangkan Fernand tersenyum puas dengan keberanian Nyonya Pirthfly. Fernand tidak salah memperjuangkan cinta wanita berani seperti Nadia. Nadia dan Fernand meninggalkan Denis dan Inara yang masih tersentak dengan ucapan Nadia. Denis menunduk, merosot ke lantai yang sangat dingin saat kakinya terasa lemas. "Jangan tinggalkan papa nak," lirih Denis menyesali kebodohannya. Inara memeluk suaminya, "Pergilah, sebelum putri kesayanganmu dibawa keluarga Pevita," kata Inara memberikan kekuatan kepada Denis. Inara tahu, Denis sangat menyayangi Velove. Hanya saja ego lelaki itu selalu menyalahkan putrinya akan kematian Pevita, wanita yang dia cintai
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN