Bulan berganti, tidak terasa sudah dua bulan Mawar bekerja di rumah ini. Belum ada tanda-tanda Bi Surti kembali ke rumah ini. Tapi kekhawatiranku pada Tio sudah tiada, suamiku benar-benar setia. Dia berusaha untuk tidak membuatku cemburu, kupikir semua memang karena aku terlalu parno. Seperti biasa, jika Tio sudah berangkat kerja aku beres-beres kamar kemudian melihat-lihat resep masakan baru. Saat tengah asyik melihat resep dan video memasak di tablet milikku, bel berbunyi. "Siapa yang bertamu? tidak biasanya ada yang datang," gumamku. Bergegas aku berjalan menuju pintu dan membukanya. "Mbak Lika?" sapaku. Anulika adalah kakak iparku, dia menikah dengan Mas Abian kakakku enam tahun lalu. "Hai Mona, apa kabar?" sapanya sambil memelukku dan mencium pipiku kiri kanan. "Kabar baik, Mba

