Aku memutuskan untuk menyengir kuda menatap Indra. Aku lantas memeluknya. Sebab suasana seketika berubah menjadi lebih serius. Aku ingin agar semuanya baik-baik saja hingga kami menikah. Akan tetapi sepertinya permintaanku menjadi bumerang. Indra mungkin saja malah menjadi penasaran sekarang. “Enggak papa. Gue pengen aja.” “Kalo gitu gue nggak mau deaktif IG. Sebelum lo kasih alasan logis,” sahut Indra. Aku memilih untuk memeluk Indra supaya dia tidak bisa melihat ekspresi wajahku. Apalagi tatapan matanya terasa mengintrogasi. “Lo emang suka ngambil keputusan impulsif ya?” tanya Indra seraya melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku kemudian tersenyum dan menjauhkan jarak antara tubuh kami namun tetap kedua tanganku melingkar di tubuhnya. “Lo lebih parah. Suka mendadak ini itu.” Jem

