Tanganku yang bersilang di depan dadanya itu pun digenggam. Aku tersenyum dan kemudian melepas pelukan. Dia mulai berdiri dan detik itu juga tubuhku membeku. “I miss you too, Ra.” Mataku membulat. Aku berusaha mengembalikan kesadaran dan memahami yang sebenarnya sedang terjadi. Lelaki itu bukan Indra. Aku tidak paham. “Lo?” tanyaku dengan suara rendah. Yang ada di depanku bukan Indra, melainkan Ilham. Dia tersenyum manis dan kemudian menarikku ke pelukannya. Aku masih lag dan memikirkan yang sebenarnya terjadi ini. Dia bukan Indra tapi Ilham. Aku langsung menarik tubuhku menjauh dari pelukannya. “Kok lo sih?” tanyaku tidak terima. Ilham mengangkat satu alisnya. “Why? Iya ini aku, Ra.” Jijik sekali mendengarnya . “Bentar. Jadi bunga itu, dari lo?” tanyaku. Ilham menganggukk

