Sebuah gedung tua yang berada di pingiran kota begitu kumuh dan reot telah disulap menjadi penjara milik Andreas. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam bangunan bekas pabrik itu dihuni oleh banyak orang yang menjadi markas untuk menghukum musuh yang lemah atau hukuman ringan. Sabrina terlihat mengigil menahan sakit tembakan pada kaki dan lengan yang dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan. Dia sudah satu hari satu malam tidur dalam pingsan. “Ah.” Sabrina tidak berani bergerak. Dia melihat tikus hitam dengan ukuran yang sangat besar berlari ke sana ke mari mencari makananan. Kecoa yang bergerak cepat di dinding tak berwarna lagi dengan aura pengap dan menjijikan. “Di mana ini?” Air mata terus membasahi wajah kotor yang sangat berantakan karena make up yang sudah luntur. Hitam eye shadow

