BAB 6 - Gantiin Baju

1221 Kata
Vania mendengus kasar, teringat bagaimana ekspresi Vanya saat melihatnya sedang berfoto mesra demi memenuhi keinginan wartawan. Vania memijat pelipisnya kasar. Di dalam sebuah kamar pengantin dengan tipe presidential suite, Vania hanya diam di sebuah sofa mewah dengan tv yang menyala. Riko datang sudah dengan berpakaian baju tidur. Ia duduk di sebelah Vania yang tampak terlihat gelisah. "Sayang kamu kenapa?" tanya Riko sambil memegang tangan Vania. Vania langsung menarik tangannya begitu saja. Ia benar-benar tidak mau di sentuh sama sekali oleh Riko yang kini menjadi suaminya. Riko berdecak kesal, saat sikap Vania yang begitu kasar padanya. "Aku ini suami mu Vania! Aku berhak atasmu!" ucap Riko. Vania tersenyum miring saat mendengarnya, mendengar kata suami dari mulut pria be-jat sepertinya begitu sangat menjijikan. "Suami? Kamu lupa pernikahan kita hanyalah pernikahan bisnis, tidak lebih dari itu. Maka jangan berani-beraninya menyentuhku tanpa seizin ku. Paham?!" Riko menaikkan sebelah alisnya, melihat Vania yang begitu sangat berbeda dengan Vanya, benar-benar membuat Riko merasa tertantang. Apa lagi dia sudah sah menjadi suami di mata agama dan juga negara. Persetan dengan perjanjian yang sudah mereka sepakati. Bagaimana pun caranya Riko harus memiliki tubuh Vania. "Aku hanya menyentuh tangan mu Vania, aku hanya khawatir dengan kondisimu yang seperti itu. Kamu sakit hmm?" tanyanya, tentu saja dengan nada suara lemah lembut berharap Vania dikit demi sedikit luluh dengan ucapan dirinya. "Tidak usah peduli, aku tidak apa-apa!" jawabnya ketus dan pergi meninggalkan Riko. Melihat sikap Vania yang seperti itu pada Riko, pria itu hanya tersenyum miring seolah sedang merencanakan sesuatu untuk Vania. "Lihat saja nanti Vania!" --- Vanya hanya tersenyum getir menatap dirinya di dalam cermin kamar mandi. Kini dia berada di sebuah kamar dengan pria yang tidak dia cintai sama sekali—Evan Erlangga. Mengingat bagaimana kemesraan kakanya dengan Riko, lagi-lagi Vanya tersenyum kecut. "Untuk kebaikanku katanya? BULSHIT!!" geramnya sambil mengepalkan ke dua tangannya yang ia letakkan di atas wastafel. "Jahat kamu Ka! Merebut pria yang aku cintai demi kebahagiaan kamu!" gumamnya. Da-danya terasa begitu sesak, tubuhnya meluruh ke bawah. Air matanya tumpah membasahi pipi mulus miliknya. Hidupnya kini merasa runtuh, Vanya merasa di khianati oleh saudara kandungnya sendiri. Saudara yang selalu melindunginya, yang selalu dia percaya. Kini mengkhianatinya dengan merebut pria yang dia cintai. Sakit sekali rasanya, dengan kekuasaan yang dia miliki, Vania begitu dengan mudahnya mengambil apa yang harus menjadi miliknya. Sedangkan Vanya, hanya bisa menerima semua tanpa bisa protes. "Kamu jahat Ka..." ucap Vanya dengan suaranya yang lirih, perlahan penglihatannya mengabur dan Vanya tidak sadarkan diri. Evan menoleh ke arah pintu kamar mandi, ia khawatir dengan Vanya yang sejak tadi terus berada di dalam. Ia pun memberanikan diri untuk melihat kondisi Vanya, toh sekarang dia sudah menjadi suami Vanya. Walaupun belum ada rasa cinta di antara mereka, Vanya tetaplah tanggung jawab Evan. Terdengar suara ketukan pintu, Evan memanggil nama Vanya tapi tidak ada sahutan darinya. "Vanya ...." panggil Evan dari luar. Tidak ada sahutan saja, Evan memberanikan membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya Evan, saat melihat Vanya sudah tergeletak hanya dengan handul yang melilit di tubuhnya. "Vanya ...!" teriak Evan yang langsung menghampiri Vanya. Evan menepuk-nepuk pipinya, berharap Vanya sadar. Tidak melihat respon dari Vanya, Evan langsung mengangkat tubuh istrinya dan ia baringkan di atas tempat tidur mereka. Perlahan Evan membaringkan tubuh Vanya. Ia bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Melihat tubuh Vanya yang terekspos, Evan segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Pikiran Evan sempat kotor setelah melihat tubuh mulus istrinya. Namun, pikiran itu segera ia tepis. Ia segera menghubungi asistennya untuk membawakan obat dan lain-lain. "Halo, tolong segera bawakan obat penurun demam dan juga minyak angin." (Untuk siapa pak?). "Jangan banyak-banyak kamu! Cepat segera bawakan ke kamar saya sekarang!" Evan langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Ia letakkan ponselnya di atas nakas, tatapannya tertuju pada Vanya yang terbaring lemas. Wajahnya begitu pucat, Evan membenarkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. Sejenak Evan kagum dengan kecantikan Vanya, ia mengusap pipi Vanya lembut. Tangan bergerak menuju bibir ranum milik Vanya. Evan menelan salivanya dengan susah payah. Saat pikiran kotornya muncul kembali, terdengar suara bel berbunyi. Evan segera beranjak dari tempatnya, tapi terdengar suara Vanya sedang mengigau. "Mas Riko ...." Deg Evan langsung mendengus kasar, jangan tanya bagaimana perasaannya. Ada rasa kesal walaupun tidak seberapa, mendengar istrinya memanggil nama pria lain, seolah hatinya seperti sedang di gores secara perlahan. Evan memutuskan untuk tidak peduli, ia berjalan menuju pintu, untuk membukanya. Terlihat asistennya membawakan obat-obatan yang Evan minta. "Ini pak, yang di minta." "Hmm ..." Tanpa banyak bicara, Evan segera menutup pintu kamar hotelnya ke Bali. Asistennya hanya ternganga melihat reaksi dari bosnya, tidak seperti biasanya. Wajahnya tampak sekali dingin. "Bos kenapa ya? Apa gak dapat jatah malam pertama?" Evan berjalan mendekati istrinya kembali, ia letakkan kotak obat di atas nakas. Ia pegang kening Vanya, suhu tubuhnya terasa hangat dari biasanya. Evan memakaikan plester demam pada keningnya, berharap suhu tubuhnya kembali normal. Vanya tampak menggigil, ia pun mengecilkan Ac-nya. Evan tampak bingung, saat akan memakai pakaian untuk Vanya. Tubuhnya terasa panas, Evan mengusap wajahnya kasar. Mau tidak mau dia membuka koper Vanya untuk memakai pakaiannya. Tidak mungkin Evan membiarkan Vanya tidak memakai baju, apa lagi ia sedang tidak sehat. Evan mengambil baju tidur Vanya dengan asal. Sialnya baju tidur itu ternyata cukup terbuka, di tambah warnanya yang berwarna merah. Malam itu Evan benar-benar sangat frustasi melihat baju tidur milik istrinya. Jangan tanya, bagaimana nasib adik kecil Evan yang sejak tadi sudah mulai meronta-ronta di balik celananya. Evan menarik nafasnya dalam-dalam, saat handuk sudah terbuka, Evan langsung memejamkan matanya. Ia hanya membuka matanya sedikit saat memakaikan baju pada Vanya. Keringat dingin sekujur tubuh Evan, saat sudah selesai memakaikan bajunya. Ia mengusap wajahnya kasar, Evan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang terpendam. --- Perlahan mata Vanya terbuka, suhu badannya sudah tidak hangat lagi. Hanya saja kepalanya masih tetap terasa pusing. "Awh, sakit banget ..." keluh Vanya. "Sudah bangun hmm?" Evan langsung duduk di pinggir ranjang mereka. "Udah baikan?" Sambung Evan sambil tangannya terulur ke kening Vanya. "Mas Evan ..." "Demam kamu sudah turun, semalaman kamu demam. Untung saja pagi ini sudah tidak demam lagi!" lanjutnya. Vanya menggigit bibir bawahnya, ia berusaha bangkit mengubah posisi tubuhnya. Keningnya mengernyit saat melihat pakaian di tubuhnya. Seingat dia, terakhir Vanya sedang berada di kamar mandi. Tapi kenapa sekarang dia ada di atas tempat tidur dengan baju tidur melekat di tubuhnya. "Mas, apa semalam aku pingsan?" tanya Vanya. "Iya kamu pingsan di kamar mandi," jawabnya santai. Mata Vanya melebar sempurna, "Terus yang memakaikan pakaianku?" Evan terdiam, ia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Itu ..." Terdengar suara bel, Evan langsung menoleh dan beranjak untuk membuka kan pintu. "Sebentar aku buka pintu dulu." Vanya menatap punggung Evan yang semakin lama menjauh. Di dalam pikirannya penuh tanya tentang semalam. "Apa mas Evan yang pakaikan aku baju?" Vanya menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Kalau emang mas Evan yang pakaikan aku baju, berarti dia—" "Anya ..." Vanya langsung menoleh ke arah Evan yang memanggil namanya. "Mau sarapan di kamar saja? Atau di bawah sama keluarga yang lain?" tanya Evan. Vanya terdiam, ia bingung untuk menjawab. Ingin menjawab tidak, tapi dia merasa tidak enak pada Evan. Untungnya Evan peka melihat sikap Vanya. "Kita makan di sini saja. Akan aku beritahu kalau kamu kurang enak badan," jawabnya. Saat Evan akan melangkahkan kakinya, tangan Vanya langsung menggenggam tangannya. Tiba-tiba saja ia berubah pikiran. "Mas kita makan di bawah saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN