Namira masih melarang semua orang untuk pulang. Mereka masih menunggu dalam diam. Karena lelah, mereka tak lagi berdiri, melainkan duduk lesehan di lantai, bersandar pada dinding. Tahu begini, mereka membawa tikar dan bekal. Kan jarang-jarang ada orang piknik keluarga di rumah sakit. "Ibuk nggak ngerti, deh, sama jalan pikiran dokter tadi, ayahnya Kal El, tuh. Kok gitu amat kelakuannya. Nggak ada pengertian-pengertiannya sama anak sendiri." Ibu masih belum bisa berhenti menghakimi tiap tingkah laku Dokter Hengki. Kelakuannya memang patut untuk dihakimi dan diperbaiki. "Aku juga heran, Buk. Mungkin itu juga salah satu sebab Kal El nggak betah di rumah." Bu Alila menimpali kata-kata ibunya. "Untungnya anak-anak punya ayah yang super baik macem Pak Yas." Wanita itu ma

