Benua dan Rachel banjir ucapan selamat dari teman temannya. Mereka berpoto ria dan memgikuti pesta dengan sangat antusias sekali.
Acara demi acara pun selesai. Rachel baru keluar dari kamar mandi. Ia sangat lelah sekali. Karna seharian berdiri tanpa duduk. Tamu undangan juga ramai.
Rachel mudah lelah karna ia berbadan dua. Benua memang menyarankan untuk duduk tapi ya mana enak gitu. Masa nyambut tamu undangan si Rachel nya duduk sedangkan Benua berdiri. Takut menimbulkan kecurigaan aja sama penduduk desa.
Rachel duduk ditepi ranjang. Ia memijit sedikit pingganggnya yang terasa sakit. Benua masuk kedalam kamar membuat Rachel gugup.
Sekarang mereka harus berbagi ranjang. Rachel masih memijit sedikit pinggangnya. Benua sudah membersihkan diri. Dikamar mandi bawah.
"Kenapa? Pinggang nya sakit?" tanya Benua. Rachel mengangguk.
Benua mengambil minyak kayu putih di meja rias Rachel dan mendekati gadis itu. Duduk dibelakang gadis itu.
"Sini aku pijitin," tawar Benua.
"Ben, ta-"
"Buat apa takut. Kita udah suami istri. Sekarang juga aku bisa minta jatah sama kamu."
Ucapan Benua dihadiahi pukulan dari Rachel. Sisi Benua pun terlihat setelah menikah. Ternyata lelaki itu m***m juga.
"m***m!" sungut Rachel.
"Nggak papa lah m***m sama istri sendiri. Daripada m***m sama istri orang," jawab Benua enteng.
Benua membuka sedikit baju Rachel dan memijit pinggang gadis itu. Rasanya sangat nyaman sekali. Rachel juga merasa lelahnya berkurang.
"Besok pulang singgah ke rumah sakit ya."
"Mau ngapain?"
"Mau cek si baby nya sama Mama nya juga sekalian."
Semburan merah terlihat di pipi Rachel. Ia menjadi malu sekarang. Sekarang mah enak sudah halal. Jadi bisa ngapain aja. Benua juga sudah tak takut lagi jika ingin menyentuh Rachel.
Benua menarik gadis itu kedalam pelukannya dan melingkarkan tangannya di perut Rachel. Rachel merasa cukup nyaman didalam dekapan Benua dengan bersandar di d**a bidang lelaki itu.
"Biasakan pakai aku kamu ya," kata Benua. Rachel mengangguk.
"Kamu homeschooling aja. Sayang prestasi kamu udah banyak. Bisa kok kuliah sambil ngurus baby. Nanti titipin aja ke Mama atau ke Bunda. Pendidikan itu penting dan keluarga itu juga penting. Harus jaga kesehatan, dirumah aku ada pembantu. Kamu nggak perlu repot repot ngurusin rumah."
Rachel mendongakkan kepalanya menatap Benua. Lelaki itu memainkan alisnya dan tersenyum begitu hangat.
"Kamu cinta sama aku?" tanya Rachel.
"Aku cinta sama kamu semenjak ada si baby. Begitupun seterusnya, karna sekarang kamu istri aku. Rasa cinta itu bukan diungkapkan dari kata kata. Rasa cinta itu diungkapkan dari perbuatan. Kalo cinta dilontarkan dari mulut. Semua orang bisa mengatakan cinta nya. Tapi belum tentu dengan sikapnya. Jika seorang lelaki mengatakan cinta dan sikapnya juga lembut. Berarti dia benar benar mencintai nya."
"Oh, jadi gitu." Rachel manggut manggut.
"Lelaki sejati bukan mengajak perempuannya pacaran. Tetapi lelaki sejati akan mengikat perempuannya dalam sebuah hubungan suami istri atau tunangan juga bisa."
"Jadi kamu lelaki sejati gitu?" Rachel tampak meremehkan.
"Mau bukti?" goda Benua.
"Mana?" tantang Rachel.
Benua pun tersenyum nakal dan berkali kali ia mengecup bibir istrinya dengan sayang. Rachel yang diperlakukan begitupun langsung membekap mulut Benua.
"Ish! Itu bukan lelaki sejati. Tapi nafsu banget!" kesal rachel.
"Biarin. Namanya juga halal."
Benua melepaskan pelukannya. Ia turun kelantai bawah. Ia ingat bahwa Rachel belum makan. Ia pun membuatkan s**u ibu hamil serta mengambil makanan untuk Rachel.
"Eh Benua. Kenapa enggak minta sama Bunda aja. Nanti Bunda buatkan," kaget Sarah saat melihat Benua didapur.
Jam sudah sangat malam. Orang rumah sudah tidur. Makanya benua buat sendiri.
"Benua bisa Bun. Bunda istirahat aja."
Sarah tersenyum dan kembali kekamarnya. Ia baru saja dari toilet dapur. Karna dikamarnya memang tak ada toilet. Kamar bawah memang tak ada toilet hanya kamar atas saja yang ada toilet.
Benua membawa nampan naik ke atas. Ia meletakkan nampan dinakas dan merampas ponsel Rachel.
"Ini udah malam. Nggak boleh megang ponsel ntar matanya rusak."
"Baru juga megang ponsel!"
"Makan dulu."
Benua pun menyuapi Rachel makan dengan berbagai paksaan. Gadis itu terus menolak makan.
"Ini yang terakhir ya," mohon Rachel.
"Baru juga 3 suap. Makan dulu yang benar."
"Ish, aku nggak nafsu makan Ben," melas Rachel.
"Makan pakai sendok apa aku suapin pakai mulut," ancam Benua.
Rachel yang diancam seperti itu pun mendengus sebal dan membuka mulutnya. Entah kenapa rasanya hambar sekali menurut Rachel.
Makanan pun habis itu juga dibantu Benua. Sebenarnya lelaki itu kenyang. Namun tak baik jika membuang makanan.
Benua meraih segelas s**u ibu hamil. Rachel sangat menghindari s**u itu. Rasanya nggak enak banget. Beda dengan s**u yang biasa ia minum pagi pagi. Intinya menurut rachel s**u ibu hamil itu nggak enak titik!
"Ayo Hel diminum," paksa Benua.
"Nggak enak Ben. Rasanya tuh aneh, s**u biasa aja nggak mau yang ini," tolak Rachel dengan mendorong gelas s**u itu saat Benua menyodorkan kepadanya.
Benua menghela napasnya. Harus ekstra sabar menghadapi ibu hamil. Ia mempelajari ini semua dari Mamanya juga. Ibu hamil itu memang sensitif dan cerewet.
"Enak kok. Nih aku rasa ya." Benua meminum sedikit s**u itu. Untuk meyakinkan Rachel kalo s**u ibu hamil itu enak. Biarpun rasanya aneh.
"Tuh enak."
"Yaudah kamu aja habisin," suruh Rachel.
"Aku nggak hamil Rachel. Yang hamil kamu."
Rachel memandangi Benua dengan melas. Ia tak mau meminum s**u ibu hamil itu. Dengan berbagai paksaan dan bujukan serta ancaman akhirnya segelas s**u itu habis. Rachel mau minum jika Benua minum juga. Terpaksa lelaki itu meminumnya juga. Demi istri dan anaknya mau bagaimana lagi. Kunci nya sabar.
Benua menyimpan nampan itu didapur dan kembali lagi kekamarnya. Rachel merebahkan tubuhnya dikasur bertepatan dengan benua datang.
Benua menutup dan mengunci pintu kamar. Ia pun berbaring disamping Rachel.
"Sini dekat," kata Benua sambil merentangkan tangannya.
Rachel pun mendekat ke Benua. Entah kenapa ia ingin berada dipelukan lelaki itu. Rachel berbaring di lengan Benua dan memeluk lelaki itu.
"Kamu janji kan nggak akan ninggalin aku." baru saja Benua memejamkan matanya.
Ia kembali membuka matanya dan memandangi Rachel. "Iya Hel. Aku nggak akan ninggalin kamu kok. Percaya ya. Sekarang tidur. Ini udah malam banget."
Tapi rasa takut itu masih menyelimuti Rachel. Bagaimana kalo ia sudah melahirkan dan Benua pergi meninggalkan dirinya bersama wanita lain.
Rachel menggeleng cepat membuat Benua kembali membuka matanya.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin."
"Kenapa?" tanya Benua.
"Nggak papa."
Rachel langsung memejamkan matanya. Benua pun kembali memejamkan matanya. Rachel membuka matanya dan melihat wajah Benua yang begitu dekat dengannya.
Memandangi wajah Benua sedekat ini membuat Rachel merasa nyaman dan semakin mengeratkan pelukannya.
Ia tak menyangka jika hatinya berlabuh pada Benua dan malahan mengandung anak Benua yang merupakan kesalahan mereka.
Rachel kira jika Benua mendengar ia hamil. Benua bakalan menyuruhnya menggugurkan kandungannya atau malah bersikap dingin dan seolah tak mau ikut campur. Namun pikiran itu ternyata bohong. Benua sangat lembut dan selalu sabar menghadapi sikapnya.
Rachel mengecup pipi Benua. Entah keberanian dari mana. Ia pun ikut tertidur juga. Benua belum tidur sepenuhnya ia bisa merasakan benda kenyal yang mendarat dipipinya. Ia hanya tersenyum saja.