Bab 14

1220 Kata
Caca sudah tertidur dipangkuan Benua. Keluarga Alby menuju pulang kerumahnya. "Pa, apa benar besok kita ke bandung?" tanya Benua memastikan. "Iya, besok kebandung. Untuk melangsungkan pernikahan kalian," jawab Alby. "Kenapa cepat Pa?" "Tidak Benua. Kita akan membicarakan hal ini sama keluarganya Rachel juga. Mungkin 2 atau 3 hari baru pelaksanaannya." "Papa nggak marah?" Helaan napas terdengar dari Kella. Mamanya. "Buat apa marah kalo semuanya sudah kejadian. Bukan hanya Mama sama Papa aja yang kaget. Rachel juga pasti lebih kaget saat ia tahu bahwa dirinya hamil. Percuma marah lama lama kalo tidak bisa mengembalikan keadaan." Yang di ucapkan Mamanya itu benar. Orangtuanya memang marah tapi tak pernah berlarut larut. Kalo hari itu marah ya cuman hari itu saja, nanti hari lain atau beberapa jam kemudian tetap adem lagi. "Caca?" Benua melirik Caca yang tertidur. "Caca tetap masuk asrama. Papa tidak mau setelah kamu, malah jatoh ke adik kamu lagi. Cukup sekali saja mengecewakan orangtua. Jangan mengecewakan lagi. Karna kamu tau sendiri Caca itu anak super bebas." Benua mengangguk. Ia pun memberitahu teman temannya. Tentang perihal ini dan ia akan mengundang teman temannya. Alby sudah mengizinkan Caca dan Benua untuk tidak masuk sekolah selama seminggu. Yang lainnya akan menyusul dibandung saja. Lucas juga sudah menyewakan rumah tak jauh dari rumahnya untuk keluarga besar Alby. Benua tau kalo sudah kumpul begini. Keributan akan terjadi. Apalagi kalo Caca sudah ketemu sama Aunty Dinda. Yah, rumah orang bakalan dibuat roboh. "Besok kamu perginya sama Rachel. Jemput dia. Perjalanan menuju kesana memakan waktu 3 jam. Rachel tau alamat rumah Kakek dan Neneknya." "Iya Pa." Setelah itu hanya ada keheningan saja. Benua mengangkat tubuh Caca dan membawa adiknya kedalam kamar. Setelah itu ia kembali kekamarnya. Duduk ditepi ranjang. Ia tak menyangka akan menikah muda. Ia berharap semoga bisa menjadi suami yang baik. Ia hanya takut gagal menjadi suami yang baik dan tak bisa membagi waktunya. Lagian benua tidak akan menjadi jomblo lagi. Semaunya pulang jam berapa. Ia harus bisa membagi waktu sekolah, kerja dan untuk Rachel juga nantinya yang akan tinggal bersamanya. Untung saja Benua sudah memiliki pekerjaan dan rumah. Jadi tidak akan menjadi beban pikiran orangtuanya maupun orangtua Rachel. ~ ~ ~ ~ Hueekk hueekk Pagi pagi Rachel sudah muntah muntah. Sarah yang mengemaskan pakaian anaknya pun membantu Rachel dan memijit tengkuk anaknya. Padahal Rachel belum makan apa apa. Ya namanya juga hamil, Sarah dulu lebih parah saat hamil Rachel. Ia selalu muntah mau itu pagi atau tengah malam. Ya kayak orang mabuk gitu. Dan bahkan Ayahnya Rachel harus siap siaga 24 jam. Seperti Rachel akan bernasib sama dengan Sarah. Rachel mencuci mulutnya. Ia duduk dikasur dibantu Bunda nya. "Kamu pergi ke rumah Kakek sama Benua ya. Tadi Om Alby yang bilang." "Kenapa nggak sama Bunda dan Ayah aja. Rachelnya?" "Hel, dia bakalan jadi suami kamu. Usaha pendekatan dulu. Bagaimana kedekatan kamu dan Benua nantinya." Rachel hanya bisa pasrah saja. Ia menganggukkan kepalanya dengan perlahan lahan dan memanyunkan bibirnya. Sarah mengemaskan beberapa pakaian Rachel untuk dibawa kebandung. Tak mungkin mereka melangsungkan pernikahan disini dalam keadaan Rachel hamil biarpun belum kelihatan buncit perutnya. Lebih baik dirumah orangtua Sarah saja. Mereka mengambil amannya saja. Dan itu juga atas kemauan orangtuanya Sarah ketika mendengar kabar Rachel hamil. Rachel membuka room chat nya. Ia membuka grup terlebih dahulu. Membalas pesan pesan itu. Setelah itu ia beralih pada grup olimpiade nya yang berisikan Juan, Rachel, dan Anya. Olimpiade sains nasional ? Juan Hel kita udah dengar kabar lo dari anak anak. Semangat ya sayang jangan menyerah. Gue akan selalu support lo dari jauh. Anya ??? Hel jangan dengerin omongan mereka. Gue sayang sama lo Hel. Lo udah gue anggap sebagai saudari gue. Tetap semangat ya sayang. Ini cuman kecelakaan doang. Juan Iya Hel kita tau dari mulut ember nya Caca. Kita juga lihat video itu. Makasih semangat nya. Jangan lupa datang ke acara pernikahan gue ya. Ntar gue kasi tau kapan acaranya. Anya Seriusan Hel? Huaaa gue wajib datang! Juan Jangan tinggalin gue Nya. Gue jemput lo ya? Gue tunggu lo. Acaranya dibandung tempat Kakek gue, ntar undangan nyusul. Anya Kok lo bisa setegar ini sih Hel? Padahal lo dalam keadaan ngga baik. Juan Iya Hel Tama buat gue aja ya? Kasihan gue jomblo. Ambil haha. Buat apa disesalin kalo semuanya udah terjadi. Percuma disesalin nggak akan balikin keadaan seperti semula. Anya Gue akan memperbaiki nama baik lo disekolah. Tenang aja Hel. Juan Gue juga. Selamat istirahat Rachel Jangan kerja berat berat. Rebahan cantik aja ya sayang. Anya Iya Hel. Tetap semangat. Gue dan yang lainnya akan selalu ada dibelakang lo! Rachel tersenyum. Ia banyak mendapat dukungan juga. Baik dari teman maupun guru guru. Karna Benua sudah mengklarifikasi siapa lelaki itu dan Benua mengakui bahwa ia menghamili Rachel karna insiden kecelakaan. Pihak sekolah memaklumkannya. Banyak cibiran yang kemarin kini meminta maaf kepada Rachel. Namun gadis itu tak bisa membalas pesan itu satu persatu. Sekolahan pun membebaskan Rachel keluar masuk sesuka hati Rachel. Namun Rachel tak bisa bersekolah dalam keadaan hamil. Ia memutuskan semua keputusan sekolah pada orangtuanya saja. Rachel tak tau jika tanggungjawab itu sudah diambil oleh Benua sendiri. ~ ~ ~ ~ Benua sudah sampai dirumah Rachel. Ia membawa koper Rachel dan dimasukkan kedalam bagasi mobil. Rachel berpamitan kepada kedua orangtuanya. "Bunda sama Ayah nyusul. Nungguin Om Alby dulu," Kata Lucas. "Rachel tunggu ya." Mereka berdua pun berpamitan kepada orangtua Rachel. Benua membuka kan pintu untuk Rachel. Setelah itu mereka pun pergi. Rachel sangat grogi dari tadi pagi. Ia tak bisa membayangkan akan menikah muda. Padahal ia selalu membayangkan menikah dengan orang yang dicintai setelah ia lulus wisuda. Namun semuanya lenyap. Tak ada lagi impian itu. Rachel menghembuskan napas gusar membuat Benua yang sedang menyetir menoleh ke Rachel sebentar. "Kenapa?" tanya Benua membuat Rachel menoleh. "Ngga papa." "Kalo ada masalah bilang. Kalo keberatan bilang. Semua orang juga punya cita cita termasuk lo. Gue tau ini berat buat lo nerima semuanya. Gue tau cita cita lo itu tinggi, maaf kalo buat lo kayak gini." terdengar nada penyesalan dan kecewa dari Benua. "Apa gue gugurin aja kandungan ini?" Perkataan Rachel membuat Benua mengerem mendadak dan menepi kan mobilnya. Sehingga gadis itu tersungkur kedepan dan dahinya mendarat cantik di dashboard. "Bilang apa tadi?" tanya Benua dingin sambil menatap Rachel tajam. Rachel masih mengusap dahinya yang terbentur dashboard. Ia terkejut dengan wajah benua yang begitu dekat dengannya. "Be-Ben." "Lo bilang apa tadi?" ulang Benua. "Jangan coba coba lo gugurin kandungan ini. Dia anak gue, kita udah buat dosa jangan nambah dosa lagi. Kalo nggak mau ngerawat dia biar gue yang ngerawatnya setelah lo melahirkan dia! Masalah selesai!" Benua langsung keluar dari mobilnya. Ia memedam amarahnya. Bisa bisa perkataan laknat itu keluar dari mulut Rachel. Rachel terdiam, ia hanya memberi saran saja. Ini juga sama sama menguntungkan mereka berdua. Rachel bisa bersekolah lagi dan melanjutkan pendidikannya. Rachel bersandar pada kursi mobil. Ia mengambil kaca dalam tas kecilnya. Dahinya memerah karna Benua mengerem mendadak. Ia bisa melihat bahwa Benua marah padanya. "Gue nggak maksud gitu." "Gue belum siap jadi seorang ibu." "Gue belum siap jadi istri juga." "Umur gue masih terlalu muda." Memang umur Rachel masih muda. Tapi banyak juga yang menikah muda. Namun hal itulah yang ditakuti Rachel. Banyak yang menikah muda dan banyak yang bercerai di usia muda juga. Rachel tak tau kemana Benua pergi. Ia menyesal mengatakan itu jika membuat Benua marah. Ia tak pernah melihat Benua marah karna ia baru dekat juga dengan Benua. Benua marah benar benar menyeramkan bagi Rachel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN