love in mission 3 *

2839 Kata
Cally menatap arloji yang melingkar indah di tangannya. Ia menatap Max, robot barunya yang sepertinya sangat menyukai peralatan senjatanya. "Ambilkan pistolku, Max! Sudah waktunya untuk menguji coba kemampuanmu, apakah kemampuanmu sama seperti kotornya otakmu!" kekeh Cally , Max mengambil pistol hitam dan menyerahkannya pada cally tanpa bantahan sedikit pun. "Itu untukmu , kau akan melawan Stephan!" Stephan yang baru saja membuka pintu dan langsung mendapat perintah langsung memasang posisi siaga. Max mengarahkan pistolnya pada Max. Dorr Stephan langsung bersembunyi di balik ding-ding menghindari Max. "Kau sialan Cal, aku akan menghancurkan robot barumu ini!" teriak Stephan. Ia mengeluarkan Pistolnya dan balik membidik Max,s**t,Stephan mengumpat. Max sepertinya hampir mirip dengan Willer, robot Cally. Kemampuan membidiknya juga lumayan, Stephan kembali menembak. Dorr..dorr... Bunyi tembakan langsung menghiasi markas besar Cally, sementara gadis itu asyik menikmati adegan Shooting Live di depannya sambil mengunyah burgernya.Rasanya seperti menonton film action di bioskop. Cally menatap Max yang mengarahkan pistolnya pada tiang lampu yang persis berada di atas kepala Stephan, Cally terkekeh, robotnya lumayan juga. Brakkk Stephan tidak sempat menghindari lampu yang terjatuh dari atas. Stephan meringis, kemampuan membidik Max sepertinya jauh berada di atasnya. Stephan bangkit berdiri sambil memegang pelipisnya yang berdarah. Dasar sialan, Sepertinya Stephan memang harus menunjukkan performa terbaiknya. Memutar otaknya, Stephan akhirnya mendapat ide, Ia berguling di lantai menuju arah max berada. Dorr..dorrr Tembakan Stephan meleset lagi, posisinya malah semakin merugikan. Max langsung menerjangnya dan membuang pistolnya. Max meninju perut Stephan, dan memukul wajahnya hingga berdarah lagi. Stephan balik posisi, ia balik meninju wajah Max, meski sudah dimodifikasi, Max tetaplah manusia. Stephan meninju wajah Max, mengambil pistolnya. Dorr Stephan tersenyum sinis. Ia membuang tubuh Max yang sudah tidak berdaya lagi. Ia berdiri, lalu mendekati Cally dengan sorot mata emosi. Ia mengarahkan pistolnya pada Cally, gadis itu harus diberi pelajaran sesekali. Ia hampir saja terbunuh dalam uji coba robot barunya. Cally hanya menatap Stephan dengan tawa miringnya, ia tetap lanjut mengunyah burgernya. "Kau selalu saja bertindak semaumu, dasar sialan!" kesal stephan. Ia menurunkan senjatanya dan mendekati Cally. Menarik paksa burger gadis itu dan langsung memakannya, ia juga lapar dari tadi. "Kau menghancurkannya Stephan, dasar laknat!" Stephan hanya menatap Mitha dengan malas, tidak Cal tidak Mita, dua-duanya adalah spesies wanita menyebalkan yang pernah ia temui di muka bumi ini.Ya… tentunya selain mamanya yang begitu cerewet, tapi meski cerewet, mamanya adalah sosok pahlawan dalam hidupnya dan tidak tergantikan. "Apanya yang rusak, Mit? Kurasa tidak begitu parah!" ujar Cally yang menatap Max yang berbaring di atas nakas." Mita menatap malas Cally dan Stephan, mereka pikir ini mudah? "Ini akan memakan waktu sekitar satu jam agar energinya pulih, karena Stephan menembak titik kelemahannya!" Mita langsung mengambil suntiknya , mengisinya dengan berbagai macam cairan dan memasukkan cairan itu ke dalam tubuh Max. "Kapan kita akan mulai?" seru Stephan sambil duduk di sebelah Cally yang sibuk dengan ponselnya. "Ini sudah hampir pukul 01.00 dini hari, kita akan beraksi pukul 01.25, mereka akan memasuki gedung tepat setelah kita akan masuk!" ujar Cally "Menurutku itu terlalu berbahaya Cal, sebaiknya kita datang setelah mereka memasuki gedung!" Cally menatap Stephan malas, mengapa otaknya belum juga bisa diajak bekerja sama? Terbuat dari apa otak Stephan ini? Sementara Stephan yang mendapat tatapan malas Cally hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, dan ia akan merasa akan menjadi orang bodoh lagi. "Gunakan otakmu dalam berpikir stephan!" ujar Mita mewakili Cally. "dan ini sudah selesai, prosesnya lumayan cepat Cal, sepertinya robot barumu ini memang benar-benar memiliki talenta, ia bisa merespon obatnya dengan cepat lain dengan robotmu yang lain!" Cally diam memperhatikan wajah Max, matanya mulai mengerjap. "Sudah siap max?" seru Cally ketika Max benar-benar sudah membuka matanya dengan sempurna. Max mengangguk, ia menggerakkan lehernya, energinya sepertinya sudah kembali lagi. "Kau mengingat bagaimana proses yang tadi kan Max, dan kau harus melakukan hal seperti itu nanti!" "Aku ingat dan aku tau!" ujar Max. Cally menghampiri Mita, "aku akan pergi dulu, jaga dirimu, kau tau bukan?" seru Cally, Mita mengangguk. "Aku bisa jaga diri baik-baik Cal, yang terpenting adalah keselamatanmu. Jangan selalu menganggap remeh misimu, kau paham?" *** "Max, kau bertugas memusnahkan manusia ini!" seru Cally sambil menunjukkan gambar seorang lelaki paruh baya. Max menatap wajah lelaki itu lama "Dia paman ku!" serunya. Cally dan Stephan saling menatap, jika lelaki ini adalah pamannya berarti kemungkinan besar Max juga kenal orang-orang yang menjadi target FBI beberapa bulan terakhir ini. Stephan mendekati Cal dan Max, dia menunjukkan beberapa gambar orang-orang yang menjadi target mereka. "Apa kau mengenalnya? Atau pernah melihat lelaki ini?" seru Stephan Max menatap gambar itu, "Tidak, aku tidak mengenal mereka, tapi aku pernah melihatnya bersama paman ketika di Singapura 2 tahun silam!" Stephan tersenyum, "ini bagus Cal, kurasa dia berguna untuk kita, kau tidak salah menargetkan orang!" Cally hanya mengangguk, ia kembali fokus untuk memasang anak pistolnya. Mereka sudah sampai di gedung lama yang sudah lama tidak terpakai. Sekarang mereka berada di atap. Sepertinya misi kali ini cukup mudah, Cally tidak melihat adanya pergerakan sejak tadi. "Kau tidak merasakan sesuatu yang aneh Cal? Perasaanku saja atau tidak kalau sejak tadi sepertinya ada yang mengawasi kita!" ujar Stephan "Aku merasakannya, bagaimana Max? kurasa kau melihat orangnya bukan?" seru Cal, Max mengambil pistolnya. Ia mengarahkan pistolnya pada arah bangunan kosong di sebelah mereka,lokasi misi utama akan dimulai. Dor Tembakan Max tidak meleset. Seseorang jatuh dari atas tembok. Bidikan Max memang sangat akurat, hampir memiliki tingkat keakuratan hampir sama seperti Cally. Tapi setelah itu, suara teriakan orang-orang terdengar. Sial, sepertinya mereka salah, itu bukan orang, tapi hanya jebakan saja. dorr...dorr..dorr Cally, Stefan dan Max langsung bersembunyi ketika mereka dihujani tembakan. Berusaha menghindar di sela-sela tembok yang ada. "Kau harus memancing mereka untuk datang ke sini, Cal!" bisik Stephan, Cally mengangguk. Ia langsung menuju tembok depan, Max mengikutinya dari belakang. "Dasar gadis bodoh, apa kau bayaran dari polisi? Atau agen atau Militer?" seru kumpulan orang yang tadi menyerang mereka. "Bukan urusanmu, keluarlah jika kau mampu menghadapiku!" Mereka keluar, awalnya hanya ada empat orang. Tapi beberapa orang lagi keluar dari dalam gedung. Mereka bertato, memakai topeng dan mengenakan pakaian serba hitam. Cally tertawa dalam hati, pasti para manusia yang berada di depannya ini adalah kelompok penjahat pemula, mudah sekali di tebak. "Wajahmu tidak cocok untuk dunia kejam seperti ini, kau cocok untuk menjadi tuan Putri yang melayani setiap hawa nafsu setiap pria, apa kau bercanda?? Aku akan memberimu kesempatan manis, kau boleh bergabung dengan kami dan kami akan tetap membiarkanmu hidup!" seru salah seorang pria bertopeng itu. Wajah Cally terkekeh dan menyiratkan raut lucu, apa katanya tadi? Menjadi pelayan hawa nafsu? Dalam mimpi saja. Cally menatap mereka dengan wajah malas, "ya aku setuju, tapi ketika kau sudah menjadi arwah gentayangan. Dan jika kau adalah lelaki tangguh mari kita satu lawan satu tanpa senjata. Ow bukan, kalian bisa sekaligus melawanku, karena kalian sama saja seperti banci yang aku yakin kalian akan ketakutan jika sudah melihat banci yang sebenarnya!' seru Cally sengaja memancing emosi mereka. Sementara Stephan hanya terkekeh mendengar penuturan cally, gadis itu memang berbicara sangat terlatih untuk memancing emosi lawan bicaranya. Sungguh kemampuan yang benar-benar harus dimiliki setiap agent jika berada di situasi seperti ini. Stephan terus memantau CCTV yang berada di dalam gedung, sudah ada beberapa orang yang sepertinya hampir selesai bernegosiasi. "Kau punya waktu 5 menit untuk menghabisi mereka Cal, aku akan memeriksa di dalam!" ucap Stephan sedikit serius, pasalnya jika dia tidak memberi waktu untuk Cally, gadis itu pasti hanya akan bersenang-senang dan mengulur-ulur waktunya di sana. Cally yang sejak tadi bermain-main langsung dengan cekatan menghabisi mereka, "segini kemampuan kalian?" kekeh Cally. Ia mematahkan leher pemuda bertopeng yang tadi menghinanya. "ahhhhhh, dasar wanita sialan!" teriaknya. Cally menatap kemampuan berkelahi Max, lelaki itu cukup bagus dalam bela diri. Cally mengeluarkan pisaunya, dan menusukkannya pada leher pemuda di depannya, pemuda itu tewas dalam hitungan detik. Cally kembali bertarung dengan tiga lelaki lain. "Dasar w***********g, apa kau selalu sok menjadi wanita kuat, rasakan ini!" bughhh Cally meringis, Ia kecolongan dan pemuda itu berhasil meninju perutnya. Ow s**t, cally balik menerjang ketiga pemuda itu. Mereka terkapar di lantai, belum puas, cally mengambil pisaunya. Jleb Cally menusuk bola mata lelaki itu. "aaaaaaaaaaa, sialan mataku…mataku!" Cally kembali menarik pisaunya, ia menusukkannya pada belakang leher dua pemuda lainnya, mereka langsung tewas tidak berdaya. Cally menatap tiga mayat di hadapannya, ia menatap Max yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya dan menatapnya ngeri. Cally mengedikkan bahu cuek, ini adalah hal yang paling menyenangkan ketika sedang menjalankan misi. Cally dan Max menghampiri Stephan, pemuda itu sepertinya kewalahan melawan dua pemuda itu. "Bantu dia Max, aku akan menyiapkan bom untuk meledakkan tempat ini!" seru Cally, Max mengangguk . Ia mendekati Stephan dan membantu lelaki itu. Setelah mengambil barang bukti, Cally memasang boomnya. Lima menit boomnya sudah terpasang. "Kita punya waktu satu menit 3 menit untuk keluar sebelum bomnya meledak!" seru Cally sambil lari duluan menuju tangga. shit...umpat Stephan, ia mendorong lelaki yang sudah terkapar di depannya, lalu berlari mengejar Cally. Sementara Max masih melanjutkan kesenangannya, ia terus meninju pemuda yang berada di bawahnya, bahkan wajah pemuda itu sudah babak belur. "Ayo Max, lupakan saja b******n sialan itu!" teriak Cally. Max akhirnya berdiri, ia berlari menuju tangga. Tepat setelah mereka berada di luar gedung, boom cally sudah meledak. duarrr Cally,Stefan dan Max menatap ledakan yang memberikan warna terang itu, sudah hampir pukul 5 pagi. Mereka langsung memasuki mobil dan melaju dari sana sambil membawa barang bukti. Stephan mengemudi dalam diam, Alex sudah tertidur sejak mereka mulai melaju meninggalkan tempat itu karena obat lelaki itu sudah melebihi batas pakai. Cally hanya memandang ke luar jendela.Setiap menatap boom, hati cally rasanya seperti ikut merasakan sesuatu hal yang sudah 5 tahun ini ia pendam sendiri. Hati cally seolah ingin kembali menangis, saat itu, yang menghilangkan Ender adalah boom juga. Cally menghela nafas lelah, ia harus bisa melupakan pemuda itu, Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. "Kau mengingat kejadian itu lagi?" tanya Stephan,dan Cally hanya diam. Stephan juga tau bagaimana terpuruknya Cally setelah kehilangan Ender. "Lupakan saja Cal, kau harus berusaha mengikhlaskannya agar dia tenang!". Tangan Stephan hendak mengelus puncak kepala Cally, tapi dengan cepat ia menarik tangannya sebelum menjadi sasaran empuk Cally. Gadis yang paling anti jika kepalanya disentuh, bahkan siapa yang berani menyentuhnya akan berakhir menjadi seperti Max dan beberapa orang lainnya yang sudah menjadi robot Cally. *** Calvin, Christian dan Leo berjalan beriringan menuju kelas mereka. Dan sepanjang mereka berjalan, sejauh itu juga semua pandangan orang-orang tertuju kepada mereka. Leo yang merupakan playboy cap ikan teri dengan senangnya tebar pesona pada setiap gadis yang membuat mereka berteriak histeris layaknya j****y muda, menjijikan. Saat mereka berjalan, tiba-tiba seorang cewek berhenti di depan mereka. Lebih tepatnya di depan Calvin. Sayangnya, Calvin masih sibuk dengan gawainya dan tidak menghiraukan sapaan gadis itu. "Woi, kita tau kalo lo itu emang pintar kali, tapi setidaknya lo tanggapan tuh cewek depan lo!" ujar Leo "Tau nih kak, padahal aku cuman mau ngasih ini loh. Ini jam tangan Chanel keluaran terbaru loh kak. Aku yakin kakak bakal suka deh!" seru gadis itu, dan mereka sudah jadi bahan tontonan gratis para kaum Hawa yang sudah menjerit kegirangan sejak tadi. "Maaf siapa nama lo?" ujar Calvin, gadis itu nampak senyum malu-malu ketika Calvin merespon nya. "Naura kak vin, nama aku Naura, bisa kok manggilnya pake sayang, baby, atau naura love juga…" "Maaf gue gak nanya!" seru Calvin menatap gadis yang tingginya itu berada di bawahnya itu dengan raut malas. Wajah gadis itu sedikit memerah karna malu, ia menatap Calvin sok imut. "Ya udah dek kak, tapi kado aku di terima ya!" ujarnya. Calvin menatap kado itu sambil bergantian menatap wajah gadis itu . Ia menerimanya membuat senyum gadis itu mengembang merasa bahagia. Tapi..."Ini buat lo aja Le, gue gak suka!" ujarnya lalu berlalu dari kerumunan itu. "Wahh, malah di kasih sama Leo, sama gue kek!" seru christian. Wajah Naura tampak tidak suka, ia menatap Leo yang juga menatapnya…awkward. "Loh kak, katanya kak Calvin suka merek Channel, tapi tadi dia katanya gak suka, gimana sih!" seru Naura. Ia menatap Leo bengis, lalu menendang lututnya. Leo hanya bisa mengelus d**a, bagaimanapun juga, ia harus sabar padanya. Karena jikalau tidak, pasti ia akan disalahkan lagi-lagi oleh mama nya karena membuat adik kecilnya itu tidak senang...kacau. Sesampainya di ruangan, mata Calvin tertuju pada gadis yang masih sibuk dengan laptopnya dan sedang duduk di kursi tengah. Gadis itu sekilas menatap Calvin, tapi langsung mengalihkan perhatiannya dan fokus pada gamenya. "Wahhh, dia bahkan gak lebih mandang lo dari 5 detik dan, dia berbeda!" guman Christian sambil ikut duduk di sebelah Calvin dan tidak jauh dari gadis itu, hanya berselang beberapa kursi saja. Leon masuk ruangan, ia juga sempat menatap gadis yang sedang sibuk dengan dunianya itu sendiri, lalu menuju Calvin dan duduk di sebelahnya. Leo menatap gadis itu kagum, baru kali ini ia melihat gadis yang bahkan sepertinya menganggap mereka itu biasa saja. Calvin mendengus melihat Leo yang sepertinya akan melakukan PDKT dengan gadis itu, dan pasti akan ada acara sok kenal sok dekat ala leo. "Hey, kamu Cally kan? Aku Leo, Leonardo ishak!" ujar leo sambil mengacuhkan tangannya sepertinya mengajak gadis itu bersalaman. Calvin mendengkus, tebakannya pasti benar. Tapi sepertinya ada yang berbeda, sudah 2 menit, gadis itu bahkan tidak melepas fokusnya dari laptopnya. Calvin sedikit merasa senang ketika Gadis itu mengabaikan seorang Leo, yang rumornya tidak pernah gagal dalam merayu gadis untuk mengajak mereka tidur. Tapi, ini adalah suatu hal yang langka, sebenarnya Calvin juga merasa penasaran dengan gadis itu, saat semua gadis akan menatap Calvin terus-terusan. Gadis baru ini malah dengan santainya mengalihkan pusat perhatian dan tetap fokus pada dunia yang ia ciptakan sendiri. "Hey, kau mengacuhkanku?" seru Leo tidak terima Cally masih diam ia masih fokus pada gamenya, sedikit lagi, sedikit lagi akan menjadi hero. Tapi tiba-tiba, laptopnya mati. Ia menatap ke samping, ke arah pelaku yang menatapnya dengan senyuman mengejek. "Makanya, kalau di ajak kenalan jangan sok jual mahal deh, padahal aslinya lo itu udah stalker akun kita-kita pada, gak usah munafik lo!" ujarnya. Cally menaikkan satu alisnya, ia tertawa miring. Lalu mengulurkan tangannya, "Cally!" ujarnya menyambut uluran tangan Leo. Tapi tiba-tiba, Leo berteriak keras layaknya tante girang yang bajunya kena cipratan comberan. "Aaaaaaaahhhhh, lepas woi, lepas, tangan gue, tangan!" teriak Leo heboh. Cally masih menekan kuat tangan Leo dengan ekspresi wajah seperti biasa, dan senyum miringnya. "hahahahhaha, rasain loh!" seru Christian, ia malah tertawa kuat ketika Leo semakin menjerit. Sementara Calvin hanya diam memperhatikan mereka berdua, rasanya gadis itu sangat kuat. "Call, lepasin Cal!" Calvin menatap sosok pemuda yang baru saja datang. Gadis itu langsung melepas tangannya dan kembali menghidupkan laptopnya dan bermain game lagi. "eh, sori Le…lo gak papa kan?" seru Stephan tidak yakin. "Teman lo itu apa sih Step? Iblis ya? Tangan gue rasanya hampir remuk sumpah, ini saja sampai merah!" seru Leo dengan sorot kesal. Stephan menatap Cally, lalu menghela nafas. "Lain kali ajarin teman lo dong Step, masa gue tadi minta kenalan aja dianya cuek baek, udah gitu seram lagi!" tambah Leo "Sori Le, gue bukannya bela siapa pun di sini, gue rasa elo yang maksa dia buat kenalan sama lo, dan gue rasa itu haknya dia mau kenalan atau enggak sama lo, jadi lo gak bisa maksa orang dong!" serunya. Leo tampaknya tidak terima ia yang jadi disalahkan. Brakk Leo membanting meja, ia menatap stephan kesal. "Ohhh, jadi lo belain dia, Step? Lo keluar dari organisasi kita sekarang!" ujar Leo "Leo…yang jadi ketua itu Calvin, bukan elo. Elo gak berhak buat ngelarang siapapun untuk gabung atau enggak!" ujar Stephan tidak terima. "Calvin jelas ada di pihak gue, lo mau apa hah?" seru Leo. "Udah...kalian diam dan kembali ke tempat duduk masing-masing!" seru Calvin akhirnya angkat bicara. Stephan mengangguk, ia duduk di sebelah Cally. Calvin memperhatikan interaksi mereka berdua, Cally tetap sama saja. Tidak banyak ekspresi, masih tetap sibuk dengan gamenya, tapi calvin sedikit merasa curiga ketika Stephan memberikan sesuatu pada gadis itu. Bukannya cemburu atau apa, tapi ekspresi gadis itu yang sepertinya terlihat terkejut dan lekas menyimpan benda itu. Calvin merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan, apalagi tadi melihat Stephan membelanya sudah memberikan bukti kuat untuk Calvin, bahwa hubungan mereka itu lebih dari sebatas teman saja. Pelajaran di mulai, Calvin sesekali menatap gadis itu dalam diam. Gadis itu sesekali memperhatikan dosen yang mengajar di depan, tapi keseringan fokus pada handphone, Calvin tersenyum ketika melihat raut wajah gadis itu yang sesekali mengerut dan membuang nafas. tok...tok..tok. Perhatian semuanya tertuju pada seseorang yang mengetuk pintu. Dia max, lelaki yang sangat jarang memasuki kelas.Tampilannya mengundang gelak tawa seisi kelas. Max datang sambil berpakaian jass resmi, rambut cepak, tas besar, dan paling parahnya…ia blus dalam. Semua terbahak-bahak melihat penampilannya. "Kau ingin menghadiri rapat ayahmu atau bagaimana Max? Kau sangat berbeda sekali!" ujar Mr.Clark. Max diam, dan itu sepertinya aneh, jarang sekali Max diam dan tidak menjawab dosen, karena bisanya lelaki itu selalu berkata lebar, dan berpakaian amburadul. Sangat bad boy, dan sering bermain wanita. Mr.Clark masih diam, ia memperhatikan wajah Max yang sepertinya berubah. Ada bekas suntikan di lehernya. “Mencari siapa Max? "seru Mr.Clark pada akhirnya. Max menatap seisi kelas, ia mengangkat tangannya dan menunjuk Cally, semua mata kini tertuju pada gadis itu. Mengapa tiba-tiba Max datang ke ruangan dan ingin bertemu dengan Cally ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN