Pria tua itu tersenyum “Kenapa wajahnya mirip dengan kakek buyut yang ada di bingkai foto rumah Nenek.”
Setelah masuk ke dalam ruangan, beberapa dayang wanita sedang membawa nampan yang berisi segala macam ubo rampe. Dan tepat di hadapan Kinant duduklah seorang pria yang mengenakan baju pengantin basahan membelakangi Kinan. Gadis itu tidak melihat dengan tepat wajahnya. Hanya tanda lahir kecil di punggung sebelah kiri yang Kinan lihat dengan jelas.
“Dia suami kamu. Jika sudah saatnya kamu akan bertemu kembali dengannya setelah kamu bertemu dengan keluarga Rekmodirejo,” ucap wanita itu.
Kinan melangkahkan kakinya selangkah untuk melihat siapa gerangan pria itu. Namun, wanita itu meraih tangan Kinan dan melarangnya untuk melihat pria itu.
“Belum saatnya, Nduk! Satu hal yang perlu kamu ingat. Kamu tidak boleh menikah dengan siapa pun atau kesialan akan menimpamu kembali. Ingat bahwa kamu sudah dinikahkan oleh leluhurmu dengan keluarga Rikmodirejo.”
Kinan terdiam karena dia tidak mengerti dengan semua perkataan wanita itu. “Menikah, bagaimana bisa aku menikah dengannya,” batin Kinan.
“Keluarlah mereka akan mengantarmu pulang.”
Beberapa dayang sudah bersiap untuk mengantar Kinan. Setelah keluar dari istana ia memasuki kembali hutan rimba yang sunyi. Hingga mereka berhenti pada sebuah gubuk yang hanya ada lampu teplok di dinding yang terbuat dari papan.
“Tunggulah di sini, akan ada seseorang yang menjemputmu nanti.” Dayang itu berucap dengan menundukkan kepala memberi hormat kepada Kinan.
Ingin rasanya segera terbangun dari mimpi. Lelah ia berjalan di tempat ini. Setelah bertemu dengan rombongan wanita istana, kini mereka meninggalkan Kinan sendirian, di sebuah gubuk yang tak berpenghuni.
“Kenapa mereka meninggalkanku di sini?”
Kinan tak percaya dengan yang mereka katakan, ia memilih untuk berjalan mencari pertolongan. Dengan bersenandung adalah pengobat rasa takut, Kinan bernyanyi sepanjang jalan hingga akhirnya menemukan jalan persimpangan, dan gubuk itu pun sudah tak tampak.
Bingung, ragu yang ia rasakan saat ini. Sejenak berhenti ia terdiam, tidak ada suara yang terdengar sama sekali, sunyi, sepi suasana saat ini. Namun tiba-tiba terdengar sayu suara seseorang memanggil-manggil, ia pun mengikuti ke mana arah suara berada, hingga tersadar ia sudah jauh tersesat.
"Mas Wahyu ... di mana kamu Mas?" teriak Kinan spontan memanggil nama seseorang yang ia tidak tahu wajah pria itu. Hanya saja nama Wahyu selalu masuk ke dalam mimpi dan ingatannya.
“Bagaimana bisa aku tersesat di sini.”
Karena takut tersesat ia memilih jalan kembali, tetapi bukan jalan pulang yang Kinan temui, melainkan jalan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tibalah Kinan di sebuah sungai dengan gubuk kecil yang tak berpenghuni. Namun, gubuk itu berbeda dengan gubuk yang tadi ia tempati. Berhenti sejenak dan meratapi perut yang sedari tadi teriak kelaparan. Kaki telah lelah melangkah, ia memilih istirahat sejenak.
Ada mitos mengatakan kalau di hutan itu pasti ada sebuah pasar yang terkenal, tetapi bukan pasar sembarangan melainkan pasar setan. Sebenarnya ia tak menginginkan hal ini terjadi, banyak dari mereka yang tak terlihat hidup liar di alam ini. Suara-suara binatang liar mulai saling sahut-sahutan, bernyanyi nyaring di alam yang bebas ini. Bukan hantu yang Kinan takutkan, melainkan binatang buas yang siap melintas dan mengganggu perjalanan kami.
Kinan bukanlah orang yang mengerti dengan baik tentang isi dan apa pun mengenai hutan, ini adalah kali pertama ia tersesat. Namun, Kinan tetap berusaha mencari jalan dan mencoba mencari aliran sungai. Haus, lapar, ini yang ia rasakan saat ini. “Sungguh sangat menyiksa sekali,” batin Kinan.
Sepanjang perjalanan Kinan mencoba mencari sesuatu yang bisa untuk di makan, namun tak ada satu pun buah yang ia temukan. Ketenangan sepertinya tak mungkin ia dapatkan. Sesosok makhluk tinggi besar berada tepat di hadapan Kinan. Ia sadar dalam keadaan bahaya hingga akhirnya memilih lari untuk menghindarinya. Namun, sosok itu mengejar Kinan dengan cepat.
Tubuhku yang lelah, jatuh tersungkur di dalam lumpur. Kinan hanya mampu berteriak minta tolong, padahal ia tahu tak mungkin ada yang membantunya. Tubuhnya kini dalam genggaman makhluk berbulu itu. Kinan menjerit, tapi ia mengubah wujudnya seketika menjadi sosok manusia. Dengan perlahan Kinan berjalan mundur dalam keadaan terjatuh, ia pun tertawa dan menangkap tubuh gadis itu.
“Tidak lepaskan aku!” teriak Kinan ketika ia mulai menhimpitkan badanya kepada gadis itu. Kinan terkunci tak dapat bergerak. Hingga sebuah hantaman keras menerjangnya. Dewa penolong Kinan hadir, sosok pria bertubuh tinggi dengan pakaian yang serba putih menghajarnya hingga ia pergi. Sosok penunggang kuda itu mengulurkan tangannya dan menarik Kinan hingga ia duduk di hadapannya. Dari postur tubuhnya sosok itu adalah pria, ia mengenakan kain untuk menutup wajahnya, hanya memperlihatkan kedua bola mata dengan alisnya yang tebal.
Tanpa terasa Kinan tiba di sebuah jembatan dengan kunang-kunang yang bertebaran di sepanjang jalan.
“Turun dan lewati jembatan itu!” Suara merdu seorang pria.
Ia pun turun dan membopong Kinan hingga ke jembatan. “Kamu siapa?”
Ia menyentuh tangan Kinan, ketika gadis itu berusaha meraih kain yang menutup wajahnya.
“Jangan aneh-aneh! Pulang sana dan jangan pergi ke tempat ini sebelum aku menjemputmu. Tak perlu tahu siapa aku, karena setelah ini kamu akan melupakan semua kejadian di sini.”
Kinan bingung dengan yang ia katakan, kenapa dia akan menjemputku. Namun pria itu menarik Kinan hingga melewati jembatan dan melepaskannya di ujung jembatan. Seketika pria itu menghilang.
Kinan pun terbangun dengan mata yang berat untuk terbuka. Perlahan ia mendengarkan suara orang berbicara.
“Mas ....” suara Kinan lirih memanggil Gadi. Ia tak mendengarkan Kinan, hingga akhirnya gadis itu melempar batu yang berada di dekatnya.
“Kinan! Kamu sudah sadar.” Gadi memeluk erat Kinan membuat gadis itu kebingungan.
“Tadi aku mencari kamu kemana-mana ternyata malah tidur di sini!” ucap Gadi.
“Tidur!”
“Iya, tadi kamu bisa-bisanya tidur di batu ini. Untung saja makhluk-makhluk itu tak muncul lagi.”
“Jadi sedari tadi, Mas nungguin aku tidur.”
“Iya sampai kamu teriak-teriak panggil seseorang.”
“Mas dengar?”
“Iya!”
“Entah kenapa aku memanggil nama pria itu. Padahal aku gak pernah bicara atau pun bertemu dengannya. Hanya nama itu yang ada dalam ingatanku.”
“Bisa jadi itu jodoh kamu!”
“Masa iya. Aneh banget caranya.”
"Iya memang aneh nama yang kamu panggil pun tak asing bagiku. 'Wahyu'! Jangan jangan kamu jatuh cinta sama cowok yang bernama Wahyu?" tanya Gadi.
Kinan terdiam dan ingin segera mengingat mimpi yang baru saja dia alami. Namun, semua itu sia sia, hanya menambah sakit di kepalanya. "Wahyu! hanya nama itu yang aku ingat dalam mimpiku selama ini. Siapa dia?" tanya Kinan dalam hati.