Seulas senyuman penuh kepuasan dengan manik mata tajam terlihat jelas di air muka Jasmine. Bola matanya hanya terlihat warna hitam pekat. Seperti ada roh yang amat jahat yang mengendalikan tubuhnya itu. Beni dan Gabriel yang jatuh terjerembab ke tanah di bagian sisi kanan dan kiri, menatap terperangah dengan apa yang telah dilakukan Jasmine pada Melia. Ia tampak pembunuh berdarah dingin dengan kedua tangan berlumuran darah. Netra Beni pun melihat ke arah Melia yang kini sudah terkapar tidak berdaya. Perutnya ditusuk pisau oleh Jasmine. Pisau tajam nan runcing itu menancap dalam dan kemudian Jasmine menariknya ke bawah. Membuat luka sayatan yang panjang dan lebar. “Jasmine, hentikan ... Jangan lakukan itu!” seru Gabriel lirih. Suaranya bergetar karena tidak pernah mengira kejadian

