Dokumen

1688 Kata

Kabar itu datang lewat telepon rumah sakit. Khayra sedang duduk di meja makan, memaksakan sarapan seadanya, ketika ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. Tapi hatinya langsung tahu—pasti dari rumah sakit. Ia buru-buru menjawab. “Hallo?” suaranya masih serak pagi-pagi. “Ini dengan Mbak Khayra?” “Iya, saya sendiri.” “Ini dari rumah sakit. Ada yang ingin bicara.” Lalu suara itu berpindah. Dan tak lama kemudian, suara serak namun familiar terdengar di seberang. Dinda. “Ra… aku cuma mau bilang, aku udah dipindahin ke rumah sakit lain.” Khayra mengerutkan kening. “Dipindahin? Siapa yang—?” “Suamiku,” potong Dinda cepat. “Dia… dia bilang gak mau aku di sana terlalu lama. Dan aku juga gak bisa dijenguk, ya. Aku… aku cuma gak mau kamu repot.” Ada jeda di antara kata-kata itu. Jeda yang pa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN