Jadilah seperti hujan, walau di jatuhkan berulang kali, ia tak pernah berlelah hati ---- "Ray?" Aksa menatap gadis di hadapannya itu lekat-lekat, Aksa meniti wajah Raya dua kali lipat lebih serius sekarang, lelaki itu menggenggam erat kedua tangan Raya, sekarang mereka sudah berada di tempat pemakaman umum. "Kenapa kita di sini?" Mata Raya membalas tatapan Aksa mengitimidasi meminta jawaban dari lelaki itu, Aksa tersenyum tipis. Kedua tangannya menangkup wajah Raya,"Apapun yang terjadi janji jangan pernah sedih?" Raya semakin kebingungan, selepas pulang sekolah tadi, Aksa langsung meminta Raya agar mengikutinya ke suatu tempat, dan itu adalah tempat pemakaman umum yang bahkan Raya sendiri tidak tau apa maksud dari Aksa terhadap ini semua. "Ke ... kenapa? Pa ... papa masih di rumah

