TKB

890 Kata

Mari berjanji, berjanji untuk tidak meninggali, apalagi mengingkari. Bel istirahat menggema di setiap sudut sekolah, Raya segera membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, semua temannya menatap gadis itu aneh. Biasanya Raya tidak pernah merasa se-semangat ini untuk bersekolah, apalagi masuk kelas. Tapi perubahan itu memang sudah tampak semenjak ia dan Aksa dekat. "Gue mau makan siang bareng Aksa, duluan ya!" Kata Raya tertawa kecil ia berjalan dengan langkah panjang melewati pintu kelas Baru saja Raya ingin keluar, seorang Radinaksa Putra Adiguna sekarang sudah berdiri tepat di hadapannya. Lelaki itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Rambutnya yang hitam mengkilap itu melambai-lambai karena di terpa angin. Tanpa berbicara apapun dan memberi aba-aba, tanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN