Bab 9

1128 Kata
 Bab 9 Kamu itu tujuan ku untuk pulang bukan pilihan disaat tidak ada harapan. ***** Indonesia Country,,, Sudah beberapa kali Rasya memukul cowok yang sudah tersungkur didepannya itu. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah dengan memar disudut mata nya. Namun, cowok itu tak berniat membalas "Mau apa Lo balik?! Hah?!!" Bentak Rasya. Cowok itu mendongakkan kepalanya "Sorry bang, tapi Jingga masih mil-" "Ngomong gampang! Lo gak liat kayak apa dia gak ada Lo! Hampir dua bulan Jingga gak bisa jalan sampe harus ikutin masa rehabilitasi! Dia sakit-sakitan buat mengingat masa lalunya yang seharusnya gak perlu di ingat" potong Rasya. Juan, cowok itu mengacak rambutnya. Itu memang kesalahannya, meninggalkan gadisnya tanpa kabar lebih dari satu tahun. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan tetap tak berpihak kepadanya. "Lo tau Jingga kemana?" Ucap Rasya. Juan menggeleng "Dia jemput Lo ke Inggris! Sebenernya gue gak izinin dia kesana karena gue udah tau kalo endingnya bakalan kayak gini! Seharusnya dulu, gue gak suruh Lo deketin lagi adik gue!" "Gue tau bang, gue salah. Gue minta maaf" ucap Juan menyenderkan tubuhnya ditembok belakang nya. Tak ada yang dapat menolong karena memang tak ada orang, mereka tengah berada di Rooftop rumah sakit dimana Rasya praktek dan pengunjung rumah sakit ataupun pegawai yang tidak memiliki kepentingan tidak diperbolehkan untuk naik ke Rooftop. Pintu Rooftop terbuka, Andi dan Reza langsung berlari menghampiri Juan lalu menunduhnya untuk berdiri. Namun tangan Andi dan Reza ditepis begitu saja oleh Juan. Cowok itu memilih duduk bersandar "Bang udah, Ari sama Jingga balik nanti sore! Lo gak perlu kayak gini banget sama Juan. Dia juga gak mau kejadiannya jadi kayak gini!" Ucap Reza menjauhkan tubuh Rasya. Rasya mengusap wajahnya kasar "Gak perlu kayak gini? Maksudnya? Gue lakuin ini buat Jingga bukan buat diri gue sendiri!" Bentak Rasya. "Iya gue tau. Gue juga kesel sama Juan. Tapi, hubungan Jingga sama Juan biar mereka yang urus. Kita cuma bisa nasehatin dan ngepantau. Udah itu doang. Lo juga harus inget, Jingga juga perempuan. Dia juga bakalan nikah sama orang yang di cintai, Lo harus terima meski suatu saat nanti Jingga bakalan sakit hati sama orang yang dia cintai!" Omel Reza. Rasya memejamkan matanya, lalu melangkahkan kaki nya kepinggiran Rooftop, meremas besi pembatas meredamkan emosi nya. Cowok itu juga memukul dua kali besi itu tanpa rasa sakit. Berjalan menuju Juan "Ikut gue, gue obati luka Lo!" Ucap Rasya mengulurkan tangannya. Juan tersenyum lalu menerima uluran tangan Rasya "Gak usah bang, ini salah gue kok. Gue juga bisa-" "Gak usah kepedean, gue masih kesel sama Lo! Gue lakuin ini cuma karena Jingga bakalan pulang nanti sore dan gue gak mau dia liat muka Lo yang babak belur gini. Lo yang bakalan jemput dia di bandara!" Ucap Rasya sebari menunduh Juan dan berjalan pelan menuruni tangga karena lift tak sampai ke lantai atas. Andi dan Reza masih berada di Rooftop "Ngomong apaan Lo sama bang Rasya? Sampe singanya berubah jadi kucing" ucap Andi menyenggol bahu Reza. "Gak tau gue, tadi juga gak sadar bilang apaan" "Palingan Lo tadi kesurupan, mana bisa Lo ngerendem emosi orang, Lo kan bisanya muncakin emosi doang" "Emangnya elo!" ucap Reza menjitak kepala Andi. Cowok itu mengelus pucuk kepalanya "Awas Lo kalo otak gue lumer keluar!" "Mana bisa otak beku kek gletser gitu. Lo panasin otak Lo diopen seribu derajat Celcius juga gak bakalan cair tuh otak"  kekeh Reza. Andi mengangkat bahunya acuh "Daripada Lo gak punya otak" sindir Andi lalu langsung berlari tak mau menerima jitakan untuk kedua kalinya. *** Rasya berjalan menghampiri Juan yang tengah duduk di kursi ruangan milik Rasya "Lo bisa tau rumah gue darimana?" Tanya Rasya menyerahkan kapas dan obat merah kepada Juan. "Cari di medsos" "Gue sama Jingga gak punya medsos!" "Gue tau, makanya gue juga penuh perjuangan buat dapetin alamat rumah elo!" Flashback on,, Juan tak henti-hentinya menginjak pedal gas mobil sport berwarna hitam miliknya. Cowok itu menarik kedua ujung bibirnya tipis saat mobilnya memasuki kompleks perumahan Dimana rumah kekasihnya berada. Tadi pagi saat baru sampai Juan langsung kerumah sakit dimana Jingga dirawat, tapi ternyata Jingga telah sehat dan hal itu membuat cowok itu tambah bahagia. Mobilnya ia parkikan ditepi jalan, lalu melangkah kan kaki nya lebar menuju gerbang yang masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah dari rumah itu. Hanya saja, terlalu sepi dan tampak sedikit berantakan dibagian tamannya. Juan memencet bel rumah kekasihnya beberapa kali, namun tak ada satupun yang menjawab atau membuka pintu. "Cari Neng Jingga?" Sebenarnya Juan sedikit kaget namun cowok itu pandai menyembunyikannya. Seorang bapak-bapak berpakaian satpam berkumis berdiri tepat didepan Juan "Iya pak, saya cari Jingga" ucap Juan jelas. "Neng Jingga udah pindah dari lama, Aden gak tau?" "Saya baru pulang, jadi gak tau deh. Kalau boleh tau, mereka pindah kemana ya?" "Bapak gak tau, gak cuma neng Jingga yang pindah. Den Ari juga ikutan pindah. Tapi bapak gak tau mereka pindah kemana" "Oh kalau begitu, terimakasih pak" "Iya den sama-sama" sahut pak Satpam, Juan langsung berlari menuju mobilnya. Memasuki nya lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Cowok itu mengunduh beberapa media sosial, siapa tau bisa mencari informasi tentang Jingga lewat postingan gadis itu. Setelah mengunduh nya, Juan langsung membuat akun dan mencari nama kekasihnya itu. Nihil, ia tak menemukannya. Cowok itu tersenyum tipis, ternyata Jingga sangat penurut. Dulu, ia pernah melarang gadis itu untuk membuat media sosial dan ternyata gadis berlesung itu menuruti. Juan mengetik nama 'Ari', ia ingat bahwa tadi pak satpam berbicara bahwa Ari juga ikutan pindah. Setelah menemukan postingan Ari yang berfoto bersama Jingga dan menampilkan lokasi dimana mereka mengambil foto. Juan langsung mengegas mobilnya menuju lokasi itu. Jaraknya tak terlalu jauh hanya melewati beberapa kompleks perumahan. Jadi tak terlalu lama bagi Juan sampai didepan sebuah rumah yang memiliki ukuran lebih kecil dari rumah Jingga yang dulu. Juan memasukkan mobilnya kerumah itu karena gerbang terbuka lebar, cowok itu turun lalu melangkah menuju teras rumah. Langkahnya berhenti saat melihat dua orang yang tengah duduk disebuah sofa ruang tamu. Mereka Andi dan Reza. Mereka tak kalah terkejutnya dibandingkan Juan. Andi bangkit dan berlari menuju Juan "Lo beneran Juan temen gue?" Ucap Andi tepat didepan Juan. Cowok itu hanya mengangguk "Apa kabar Lo? Tambah putih aja, kasihan noh si Reza tambah gosong" celetuk Andi. Reza menjitak kepala Andi "Kapan balik Lo?" Tanya Reza. "Tadi pagi" sahut Juan, "Jingga kemana?" "Lo mendingan tanya langsung aja ke bang Rasya" ucap Reza. Juan menautkan alisnya "Bang Rasya di rumah sakit, ayo kita anterin" ucap Andi. Cowok yang memakai kemeja hitam itu mengangguk lalu melangkah diekori Andi dan Reza yang tadi sempat mengunci pintu rumah. Flashback off... "Sorry tadi gue emosi" "Santai kali bang, udah biasa kok" Rasya hanya terkekeh mendengar pernyataan Juan, lalu kembali menyimpan peralatan p3k kedalam laci meja miliknya. *** Hai....i'm comeback. Juan udah balik ke indo.. Jangan lupa buat vote dan comment looh.. Semangatin aku dunggg Salman Sellaselly12
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN