DEVAN POV : Keesokan harinya, seperti janjiku kemarin. Aku membawa Andi berkeliling Toronto. Dia sangat senang. Kami berjalan turun ke apartemen Andi yang sebelumnya mabuk parah telah minum dua sup hangat, dia cegukan sebelum merasa benar-benar bugar. Kami turun di lift. Seorang perempuan kaukasia memegang buku tersenyum kepada kami. “Darimana kalian?” tanyanya dalam bahasa Inggris british yang terdengar khas. “Indonesia,” jawab Andi. Dan itu membuatku kesal. Harusnya Andi tak boleh jujur kami dari Indonesia. Setengah mati betul aku menjaga privasiku dan lihatlah apa yang dia lakukan. “Negara tropis,” sambung perempuan itu lagi. “Ya. kau tahu Bali, kan? Negara itu.” “Aku tahu. Aku anak ilmu sejarah.” Aku menggerutu dalam hati. Sialan betul pria ini. Anak itu akhirnya perg

