42 - Obrolan dan Undangan

1100 Kata

Buku, pena penanda, air mineral, kertas-kertas lama bekas ulangan yang banyak dibawa oleh murid penghuni sekolah kemana-mana sebab ujian tepat dimulai dua hari lagi. Renat sendiri juga pusing sebab kebolosan yang sering dia lakukan membuatnya harus belajar lebih ekstra. Renat menyisir pandangan di sepanjang halaman sekolah dari lantai dua tempatnya berdiri. Kepalanya sesekali menunduk untuk membaca buku guna menyerap kembali informasi dari sana. Kadang kala Renat harus mengutuk kesal, sebab suara teriakan saling sahut menyahut. Dia tidak mungkin marah, toh dia yang memilih berdiri di depan kelas untuk belajar. "Sedang menatap apa, Renata?" Renat tersentak kaget dengan kedatangan Pak Gani. Guru satu itu tersenyum dengan menggerakkan alis, mengalihkan pandangan secara bergantian dari wajah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN